Pukul 20.30.
Suara festival mulai berubah.
Jika sebelumnya kawasan kuil dipenuhi musik, teriakan penjaja makanan, suara permainan, dan percakapan orang-orang yang berseliweran di antara stan, kini perhatian seluruh pengunjung perlahan mengarah ke satu tempat yang sama.
Langit.
Puncak acara festival musim panas tinggal beberapa menit lagi.
Di jalan utama dekat kuil, orang-orang mulai mencari tempat terbaik untuk melihat kembang api. Anak-anak ditarik lebih dekat oleh orang tua mereka. Beberapa remaja berlari menuju tepian sungai. Yang lain memilih bukit kecil di belakang kuil yang memiliki pemandangan lebih luas ke langit.
Ren termasuk yang memilih bukit.
Lebih tepatnya, ia membawa dua orang lainnya ke sana.
“Pelan.”
Ren berjalan sedikit di depan sambil membawa kantong kecil berisi minuman dan beberapa barang yang mereka beli selama festival.
Di belakangnya, Rin berjalan dengan langkah yang jauh lebih pendek daripada sebelumnya.
Geta yang tadi terlihat cantik dan anggun kini justru menjadi sumber masalah.
Setiap kali telapak kakinya menyentuh tanah, wajah Rin berubah sedikit.
Ia berusaha menyembunyikannya.
Tentu saja.
Ren sudah berhenti menghitung berapa kali ia melihat Rin mengubah cara berjalan hanya agar tidak terlalu sakit.
“Ayo.”
“Aku jalan.”
“Kamu pincang.”
“Tidak.”
Ren menoleh.
Rin langsung memalingkan wajah.
“Aku cuma…”
“Cuma apa?”
“Tidak terbiasa.”
Ren menghela napas.
“Kita sudah berhenti sekali.”
“Karena kamu yang menyuruh.”
“Dan sekarang aku menyuruh lagi.”
Rin berhenti.
“Kenapa?”
Ren menunjuk ke depan.
Ada sebuah bangku kayu di sisi bukit, sedikit menjauh dari jalur utama. Di belakangnya terdapat pepohonan yang cukup lebat, sementara dari tempat itu pemandangan ke langit terbuka jauh lebih luas.
“Duduk dulu.”
Rin melihat bangku tersebut.
Ia sebenarnya ingin protes.
Namun rasa perih di tumit sudah cukup kuat untuk membuatnya menyerah.
“Ya sudah.”
Ia berjalan mendekat.
Ren menyingkirkan beberapa daun kering dari permukaan bangku dengan tangannya.
“Duduk.”
Rin duduk perlahan.
Ai-Mouto berhenti beberapa meter di belakang mereka.
Ia berdiri di bawah pohon besar yang menaungi sebagian bukit.
Tidak ikut duduk.
Tidak ikut mendekat.
Ren memandangnya.
“Kamu di situ saja?”
Ai-Mouto mengangguk.
“Posisi ini masih terhubung dengan modul pelacak.”
Ren memeriksa ponselnya.
Titik lokasi Ai-Mouto masih terlihat jelas.
“Bagus.”
Ai-Mouto menatap keduanya.
“Pemandangan dari sini cukup baik.”
Ren mengangguk.
“Sebentar lagi mulai.”
Rin memandang langit yang masih gelap.
“Sudah hampir.”
Angin malam berhembus.
Membawa aroma rumput dan asap tipis dari area festival.
Suara orang-orang di kejauhan menjadi samar.
Di bukit itu, suasana jauh lebih tenang.
Ren menatap Rin.
“Kakinya bagaimana?”
“Baik.”
“Rin.”
“Sedikit sakit.”
“Nah.”
Ren jongkok di depan bangku.
Rin langsung menegang.
“Apa?”
“Lepas geta.”
“Kenapa?”
“Aku mau lihat.”
“Tidak perlu.”
“Sudah lecet, kan?”
Rin menatapnya.
Tidak menjawab.
Ren mengulurkan tangan.
“Ayo.”
Rin masih diam.
Kemudian ia menggeser salah satu kakinya sedikit.
Ren membuka tali geta dengan hati-hati.
Begitu sandal kayu itu dilepas, Rin refleks menarik napas pendek.
Ren langsung melihat tumitnya.
Ada bagian kulit yang kemerahan dan tergores.
“Lumayan.”
“Tidak parah.”
“Kalau tidak parah, kenapa jalanmu seperti baru belajar jalan?”
Rin mendengus.
“Jangan banyak bicara.”
Ren mengambil kotak kecil dari tasnya.
Ia sudah membawa beberapa plester luka.
Rin memperhatikan.
“Kamu bawa itu juga?”
“Ya.”
“Kamu benar-benar siap untuk apa saja.”
“Karena kalian berdua sering bikin masalah.”
Rin menatapnya kesal.
“Aku tidak bikin masalah.”
“Kamu datang ke festival dengan geta tanpa pernah latihan.”
Rin memalingkan wajah.
“Itu bukan masalah.”
Ren tersenyum kecil.
“Ya sudah.”
Ia mengambil tisu basah dari tas, membersihkan area sekitar luka dengan hati-hati, lalu membuka plester.
Rin menunduk.
Ia bisa melihat bagian atas kepala Ren.
Rambut kakaknya sedikit berantakan diterpa angin.
Ren fokus pada satu hal.
Tidak ada candaan.
Tidak ada senyum jahil.
Tidak ada keluhan.
Ia benar-benar memperhatikan luka kecil di kaki Rin.
Gerakannya pelan.
Hati-hati.
Seolah-olah luka itu jauh lebih penting daripada sekadar lecet.
Rin menatapnya.
Perasaan hangat yang aneh perlahan memenuhi dadanya.
Ia tidak tahu kenapa.
Bukannya luka itu kecil?
Ia bisa mengurusnya sendiri.