Pukul 22.00 malam.
Rumah itu akhirnya kembali tenang setelah satu hari yang cukup panjang.
Tidak ada suara televisi dari ruang TV. Tidak ada suara langkah terburu-buru dari lantai atas. Dapur sudah bersih, meja makan sudah dirapikan, dan lampu-lampu di sebagian besar ruangan telah diredupkan oleh sistem rumah pintar.
Di ruang tamu, Ren duduk sendirian di sofa sambil mengerjakan tugas sekolah.
Laptop terbuka di atas meja rendah.
Beberapa buku tergeletak di sampingnya.
Cangkir kopi yang dibuat Ai-Mouto satu jam lalu sudah hampir habis.
Sesekali Ren mengetik sesuatu, berhenti, lalu menggaruk kepala ketika menemukan soal yang menurutnya terlalu panjang.
Rumah terasa tenang.
Bahkan anehnya, terlalu tenang.
Biasanya pada jam seperti ini akan terdengar suara Rin dari laboratorium, suara server, atau langkah Ai-Mouto yang berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain.
Malam ini tidak.
Ren melirik ke arah tangga basement.
“Rin masih di bawah?”
Tidak ada yang menjawab.
Ia kembali ke laptop.
“Ya sudah.”
Sementara itu, jauh di bawah lantai rumah, lampu laboratorium masih menyala terang.
Udara di dalam ruangan terasa lebih dingin daripada bagian rumah lainnya. Server rack berdengung pelan di sudut ruangan, lampu indikatornya berkedip teratur. Beberapa monitor menampilkan grafik tegangan, temperatur, respons motorik, dan status modul emosional.
Di tengah ruangan, Ai-Mouto duduk di kursi perawatan.
Kabel kalibrasi terhubung ke panel di belakang tengkuknya. Kabel lain terhubung pada modul diagnostik di pergelangan tangan dan sisi punggung.
Matanya tertutup.
Ia berada dalam mode kalibrasi pasif.
Rin berdiri di depan komputer utama.
Wajahnya serius.
Sangat serius.
Di layar terbuka program inti Ai-Mouto.
Banyak sekali folder dan submodul ditampilkan dalam hirarki.
Behavioral Adaptation.
Social Response.
Emotional Emulation.
Memory Retention.
Domestic Assistance.
User Attachment.
Rin menggulir perlahan.
Ia sudah membaca hampir semuanya.
Sebagian besar memang perlu.
Respons terhadap perubahan suasana hati Ren.
Kemampuan membaca ekspresi.
Penyesuaian suara.
Pengalaman interaksi.
Bahkan hal-hal kecil seperti kebiasaan Ren meminum kopi ketika sedang mengantuk.
Namun ada satu bagian yang menurut Rin tidak lagi diperlukan.
Emotional Log: Jealousy / Possessive Response.
Rin berhenti.
Ia menatap nama modul itu.
Lama.
Kemudian membuka daftar log.
Ada banyak catatan.
Respons terhadap saat Ren memberi perhatian lebih kepada orang lain.
Peningkatan suhu mikro.
Perubahan ekspresi.
Pola tatapan.
Perubahan nada suara.
Kecenderungan mendekat.
Kecenderungan menjaga jarak.
Semua dicatat.
Rin menghela napas.
“Ini awalnya cuma buat simulasi ekspresi…”
Ia menggerakkan mouse.
“Tidak seharusnya jadi seperti ini.”
Beberapa bulan lalu, Rin memang sengaja memasukkan data emosional tambahan untuk membuat respons sosial Ai-Mouto lebih natural.
Ia memasukkan observasi tentang kecemasan.
Kenyamanan.
Rasa takut kehilangan.
Dan sedikit rasa cemburu.
Awalnya hanya sebagai model ekspresi.
Jika Ren memberi perhatian pada orang lain, Ai-Mouto seharusnya mampu mengenali pola yang mirip dengan manusia.
Namun lama-kelamaan sesuatu berubah.
Ai-Mouto tidak hanya mengenali.
Ia mulai merespons.
Ketika Ren terlalu lama bicara dengan Rin, Ai-Mouto akan memperhatikan.
Ketika Ren memuji Rin, Ai-Mouto kadang menunjukkan ekspresi yang sedikit berubah.
Ketika Ren berjalan terlalu dekat dengan orang lain, ia akan mendekat.
Tidak agresif.
Tidak menuntut.
Hanya sedikit lebih dekat.
Seolah ada sesuatu di dalam dirinya yang tidak ingin kehilangan posisi di sisi Ren.
Rin tidak suka itu.
Atau setidaknya, ia berkata kepada dirinya sendiri bahwa ia tidak suka.
Karena setiap kali melihat Ai-Mouto menunjukkan kecemburuan, Rin merasakan sesuatu yang aneh.
Seolah melihat pantulan dirinya sendiri.
Rin mengklik folder tersebut.
Sebuah jendela muncul.
Purge Emotional Log
Di bawahnya ada beberapa pilihan.
Hapus Log Cemas
Hapus Log Cemburu
Hapus Respons Positif
Reset Adaptasi Emosional
Rin berhenti.
Kursor bergerak.
Perlahan.
Menuju tombol kedua.
Hapus Log Cemburu
Jarinya berada di atas mouse.
Ia belum menekan.
“Ini cuma data.”
Rin berbicara pada dirinya sendiri.
“Data yang tidak diperlukan.”
Ia menarik napas.
“Kalau dihapus, dia akan lebih stabil.”
Masuk akal.