Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #30

Garis Batas yang Mulai Kabur

Pukul 07.00 pagi.

Rumah itu terasa berbeda.

Bukan karena ada sesuatu yang berubah secara fisik.

Dapur masih sama. Meja makan masih berada di tempat yang sama. Cahaya pagi masih masuk melalui jendela dengan sudut yang hampir sama seperti hari-hari sebelumnya.

Namun suasananya tidak lagi seperti rumah yang harus menyesuaikan diri dengan keberadaan orang baru.

Kini, keberadaan Ai-Mouto justru terasa seperti bagian dari ritme rumah itu sendiri.

Suara sendok beradu dengan cangkir terdengar pelan dari dapur.

Aroma teh hangat memenuhi ruang makan.

Ren duduk di salah satu sisi meja sambil membaca berita dari ponselnya. Rambutnya masih sedikit berantakan karena baru bangun. Seragam sekolah belum dikenakan. Ia hanya memakai kaus rumah dan celana panjang.

Di seberangnya, Rin sedang membuka laptop sambil menggigit ujung roti.

Tidak ada omelan.

Tidak ada perdebatan.

Setidaknya belum.

Ai-Mouto datang membawa dua cangkir.

Ia meletakkan satu di depan Ren.

“Teh untuk Onii-chan.”

Ren mengangkat kepala.

“Terima kasih.”

Ai-Mouto mengangguk.

Ia kemudian meletakkan satu cangkir di depan Rin.

“Untuk Rin.”

Rin melihat cangkir itu.

Kemudian memandang Ai-Mouto.

“Terima kasih.”

Ren berhenti menggulir layar.

Ia menatap Rin.

Rin menatap balik.

“Apa?”

Ren tersenyum.

“Tidak ada.”

“Kalau tidak ada, jangan lihat begitu.”

Ren tertawa kecil.

“Cuma kaget.”

“Kenapa?”

“Dulu kalau Ai kasih aku teh, kamu selalu protes.”

Rin mendengus.

“Itu dulu.”

“Sekarang?”

Rin mengambil cangkir.

“Sekarang tidak masalah.”

Ren mengangkat alis.

“Serius?”

“Kenapa harus jadi masalah?”

Rin meniup permukaan teh sebentar.

“Kalau aku sedang sibuk, lebih gampang.”

Ai-Mouto tersenyum.

“Konflik pada distribusi tugas domestik telah berkurang.”

Rin menoleh.

“Jangan pakai istilah seperti itu saat sarapan.”

“Baik.”

Ren tertawa.

Pagi itu terasa jauh lebih ringan dibanding hari-hari pertama ketika Ai-Mouto hadir di rumah.

Saat pertama kali muncul, satu meja makan saja terasa seperti medan perang kecil.

Rin selalu membandingkan.

Ren selalu memancing.

Ai-Mouto selalu menjawab polos.

Namun sekarang, mereka mulai memiliki ritme sendiri.

Ren tahu kapan Rin akan mengeluh.

Rin tahu kapan Ren sengaja menjahilinya.

Ai-Mouto tahu kapan harus membantu dan kapan sebaiknya hanya diam.

Tidak sempurna.

Tidak selalu tenang.

Tetapi cukup.

Mungkin terlalu cukup.

Ren meletakkan ponselnya.

Ia meraih sepotong roti bakar dari piring.

Roti itu masih hangat.

Ia mengoleskan sedikit mentega, kemudian berhenti.

Pandangannya berpindah dari Rin ke Ai-Mouto.

Rin sedang mengetik sesuatu.

Ai-Mouto sedang menyusun sarapan.

Ren mengambil satu roti lagi.

Kemudian membaginya menjadi dua bagian.

Ia melihat kedua potongan itu.

Satu lebih besar.

Satu lebih kecil.

Ren mendorong bagian yang lebih besar ke arah Rin.

“Ini buat kamu.”

Rin mendongak.

“Hm?”

“Ambil.”

Rin melihat ukuran kedua potongan.

“Kok yang ini lebih besar?”

Ren mengangkat bahu.

“Karena kamu makan lebih banyak daripada aku.”

“Itu tidak benar.”

“Ya sudah. Anggap saja bonus.”

Rin terdiam.

Biasanya ia akan memprotes.

Mungkin mengatakan bahwa ia tidak butuh perlakuan khusus.

Mungkin mengembalikannya.

Mungkin menyelipkan alasan tentang jumlah kalori.

Namun pagi itu—

Rin hanya menarik piring sedikit mendekat.

Ia mengambil potongan roti tersebut.

“Terima kasih.”

Suaranya sangat pelan.

Nyaris tertelan oleh suara pendingin ruangan.

Ren terdiam.

Ia menatap Rin beberapa detik.

Kemudian tersenyum.

“Sama-sama.”

Rin langsung kembali melihat laptop.

“Jangan lihat aku begitu.”

“Kenapa?”

“Memalukan.”

Ren tertawa kecil.

“Dulu kamu juga tidak pernah bilang terima kasih.”

Lihat selengkapnya