Pukul 19.30 malam.
Musim ujian selalu memiliki cara sendiri untuk mengubah sebuah rumah menjadi tempat yang jauh lebih sunyi daripada biasanya.
Televisi dimatikan. Ponsel disimpan jauh-jauh. Meja makan tidak lagi dipenuhi piring makan malam, melainkan buku, kertas latihan, penghapus, pulpen, kalkulator, dan segelas air yang entah sejak kapan tidak disentuh.
Di ruang belajar lantai dua, Ren duduk di depan meja dengan ekspresi seperti seseorang yang baru saja menerima kabar buruk dari dunia.
Di depannya terdapat empat buku Matematika tingkat lanjut.
Salah satunya terbuka pada halaman penuh persamaan.
Buku kedua berisi latihan soal.
Buku ketiga dipenuhi catatan.
Buku keempat bahkan belum dibuka.
Ren menatap semuanya.
Kemudian meletakkan kening di atas meja.
“Aku menyerah.”
Suara itu teredam oleh permukaan kayu.
Tidak ada yang menjawab.
Ren mengangkat kepala sedikit.
“Kenapa integralnya harus sebanyak ini?”
Masih tidak ada jawaban.
Ia menatap satu halaman.
Kemudian halaman berikutnya.
Kemudian kembali ke halaman pertama.
“Kalau x sudah dicari, kenapa masih harus dicari lagi?”
Pintu ruang belajar terbuka.
Ai-Mouto masuk sambil membawa tablet.
Ia mengenakan pakaian rumah sederhana dan rambutnya diikat rendah. Tatapannya langsung tertuju pada tumpukan buku di depan Ren.
“Apakah Onii-chan mengalami kesulitan?”
Ren menatapnya.
“Sedikit.”
Ai-Mouto melihat halaman soal.
“Koreksi. Onii-chan mengalami kesulitan cukup besar.”
Ren menghela napas.
“Terima kasih sudah memperjelas penderitaanku.”
Ai-Mouto tersenyum.
Ia mengambil spidol dari tempat alat tulis.
“Boleh saya membantu?”
Ren menatap papan tulis mini yang ada di sudut ruangan.
“Kamu bisa?”
“Modul edukasi saya memuat kurikulum nasional hingga materi tingkat perguruan tinggi.”
“Berarti kamu bisa?”
“Ya.”
Ren menggeser kursinya.
“Silakan. Selamatkan hidupku.”
Ai-Mouto berdiri di depan papan.
Ia menulis satu persamaan.
Kemudian menambahkan langkah kedua.
Dan ketiga.
Gerakannya cepat, tetapi tulisannya tetap rapi.
Ren memperhatikan.
“Sebentar.”
Ai-Mouto berhenti.
“Kenapa?”
“Jangan cepat-cepat.”
“Saya sudah menurunkan kecepatan penjelasan sebesar tiga puluh persen.”
Ren memejamkan mata.
“Bahkan saat mengajar kamu masih terdengar mengintimidasi.”
Ai-Mouto memiringkan kepala.
“Saya dapat menggunakan pendekatan yang lebih sederhana.”
“Pakai.”
Ia mulai menjelaskan dari konsep dasar.
Bukan sekadar memberikan jawaban.
Ia menunjukkan kenapa sebuah persamaan dipindahkan.
Kenapa tanda berubah.
Kenapa satu langkah tidak boleh dilewati.
Ren yang tadinya hampir menyerah perlahan mulai mengikuti.
“Oh…”
Ai-Mouto menuliskan langkah berikutnya.
“Bagian ini menghasilkan turunan fungsi.”
Ren mengangguk.
“Karena…”
Ia berpikir.
“Karena sebelumnya kita harus mencari pola perubahan?”
Ai-Mouto tersenyum.
“Benar.”
Ren langsung duduk lebih tegak.
“Lihat! Aku bisa!”
“Ya.”
“Jangan jawab datar begitu.”
“Saya hanya menyampaikan fakta.”
Ren terkekeh.
Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak merasa Matematika benar-benar mustahil.
Sampai lima menit kemudian ia kembali melihat satu soal.
Wajahnya kosong.
“Yang ini apa?”
Ai-Mouto melihatnya.
“Turunan parsial.”
Ren menatap soal.
“Kenapa namanya harus parsial?”
“Karena fungsi memiliki lebih dari satu variabel.”
“Kenapa orang-orang yang membuat matematika suka memberi nama yang membuat pusing?”
Ai-Mouto berpikir sebentar.
“Pertanyaan tersebut lebih tepat ditujukan kepada sejarah perkembangan matematika.”
Ren menjatuhkan kepala lagi ke meja.
“Aku tanya kamu, bukan sejarah.”
“Maaf.”
Di saat yang sama, suara langkah kaki terdengar dari tangga.
Rin muncul di ambang pintu.
Tangannya membawa satu buku tebal.
Judulnya terlihat jelas.
Sejarah.
Ren melirik.
Rin langsung mengubah arah pandangan.
“Aku cuma mau ambil air.”
Ren menatap botol air yang ada di tangannya.
“Bawa buku?”
“Kenapa?”
“Kalau cuma ambil air, biasanya tidak perlu bawa buku Sejarah.”
Rin mengangkat dagu.
“Aku dari kamar. Kebetulan lewat.”
Ai-Mouto menoleh.
“Rin sedang mempelajari materi ujian?”
“Tidak.”
Jawaban itu terlalu cepat.
Ren menahan senyum.
“Duduk saja.”
Rin berhenti.
“Apa?”
“Duduk.”
“Aku mau ambil minum.”
“Minumnya nanti.”
“Aku tidak perlu belajar Matematika.”
“Bagus.”
Ren menarik satu kursi kosong di sebelahnya.
“Karena aku juga tidak menyuruhmu belajar Matematika.”
Rin menatap kursi itu.
“Aku punya Sejarah.”
“Ya.”
“Dan kamu punya Matematika.”
“Benar.”
“Jadi?”
“Belajar bareng.”
Rin mengerutkan dahi.
“Aku bisa sendiri.”
Ren mengangkat alis.
“Benarkah?”
“Ya.”
“Kalau begitu kenapa buku Sejarahmu terbalik?”
Rin langsung menunduk.
Buku di tangannya memang terbalik.
Ia membaliknya cepat.
“Itu tadi.”
Ren tertawa.
“Duduk.”
Rin menghela napas.
“Kamu menyebalkan.”
“Aku tahu.”
Rin akhirnya duduk.
Ia menaruh buku Sejarah di depan dirinya.
Ai-Mouto melihat keduanya.
“Dengan demikian, sesi belajar bertiga dapat dimulai.”
Ren menunjuknya.
“Jangan bilang seperti rapat.”
“Baik.”
Ai-Mouto mengambil tablet dan membuka modul jadwal.
“Kondisi optimal untuk konsentrasi adalah dua puluh lima menit belajar dan lima menit istirahat.”
Rin mengangkat kepala.
“Dua puluh lima?”
“Setiap sesi.”
Ren mengangguk.
“Bisa.”
Rin membalik satu halaman.
“Kalau lebih lama?”
Ai-Mouto menggeleng.
“Peluang penurunan fokus meningkat.”
Ren menunjuk Rin.
“Dengar.”