Pukul 01.30 dini hari.
Rumah sudah benar-benar terlelap.
Lampu di lantai bawah sebagian besar telah dimatikan. Ruang tamu hanya menyisakan cahaya kecil dari lampu sudut, sementara dapur sudah gelap sepenuhnya. Dari luar jendela terdengar suara kendaraan yang sesekali melintas di jalan perumahan, jauh dan samar.
Di lantai dua, ruang belajar juga sudah kosong.
Namun di bawah rumah, laboratorium Rin masih menyala.
Tidak seluruhnya.
Hanya lampu meja dan beberapa monitor yang tetap aktif, menciptakan pulau cahaya putih di tengah ruangan yang penuh bayangan.
Ren berdiri di ambang pintu basement sambil menguap.
Ia sebenarnya tidak punya urusan apa pun di sana.
Ia hanya terbangun karena merasa haus, lalu melihat cahaya dari bawah.
Seharusnya ia mematikan semuanya dan kembali tidur.
Namun ketika masuk, langkahnya langsung berhenti.
Rin tertidur di depan meja kerja.
Kepalanya bersandar pada kedua lengannya di atas meja. Rambutnya sedikit berantakan, beberapa helai jatuh menutupi sisi wajah. Laptop masih terbuka di depannya.
Ren memandangnya beberapa detik.
“…”
Ia menghela napas pelan.
“Katanya mau tidur lebih cepat.”
Tidak ada jawaban.
Tentu saja.
Rin sudah benar-benar tertidur.
Ren berjalan mendekat.
Di atas meja terdapat beberapa buku sekolah yang terbuka, catatan Sejarah, beberapa lembar latihan Matematika, dan tablet yang layarnya sudah mati. Rupanya sesi belajar tadi malam berlanjut jauh lebih lama daripada yang Ren sadari.
Ren memperhatikan wajah Rin.
Kelihatannya sangat lelah.
Ia menyentuh bahu adiknya pelan.
“Rin.”
Tidak ada respons.
“Kalau begini besok bangun pasti marah karena leher sakit.”
Tetap tidak ada reaksi.
Ren menghela napas.
Ia melepas jaket tebal yang dipakainya, lalu menyelimutkannya di atas bahu Rin.
Rin bergerak sedikit.
“Hmm…”
Ren langsung diam.
Namun beberapa detik kemudian Rin kembali tertidur.
Ren tersenyum kecil.
“Tidur saja.”
Ia hendak menarik kursi di sampingnya ketika sesuatu di layar laptop menarik perhatiannya.
Sebuah jendela terbuka.
Tidak penuh.
Hanya separuh.
Nama filenya terlihat jelas.
Subroutine_Memory.bin
Ren berhenti.
Ia menatap layar.
Nama itu terdengar seperti salah satu file teknis yang biasanya ia tidak sentuh.
Namun kali ini ada sesuatu yang berbeda.
Ikon file berada di dalam folder yang tampaknya berkaitan dengan memori.
Ren mengingat kejadian beberapa malam sebelumnya ketika ia menemukan file Untuk_Kakak.log.
Ia sudah berjanji pada dirinya sendiri untuk tidak mengutak-atik terlalu banyak file pribadi Rin.
Namun rasa penasaran kembali muncul.
“Subroutine Memory…”
Ren membaca nama tersebut pelan.
“Apaan?”
Suara langkah lembut terdengar dari pintu.
Ai-Mouto muncul.
Ia mengenakan pakaian malam sederhana. Rambutnya terurai dan gerakannya lebih lambat dari biasanya karena sebagian sistemnya telah beralih ke mode malam.
“Ren.”
Ren menoleh.
“Kamu belum tidur?”
“Belum. Saya sedang melakukan pemeriksaan sistem sebelum masuk ke mode penyimpanan daya.”
Ai-Mouto berjalan mendekat.
Tatapannya jatuh pada Rin.
“Master Rin tertidur.”
“Ya.”
Ren menunjuk laptop.
“Aku penasaran sama ini.”
Ai-Mouto melihat file tersebut.
“Subroutine_Memory.bin.”
“Bisa dibuka?”
“Tidak langsung.”
“Kenapa?”
“Berkas tersebut terenkripsi.”
Ren mengerutkan dahi.
“Punya Rin?”
“Ya.”
Ren melirik adiknya yang masih tertidur.
“Berarti rahasia lagi.”
Ai-Mouto mengangguk.
“Namun saya dapat membantu proses dekode apabila diperlukan.”
Ren menatapnya.
“Kamu bisa?”
“Sebagian.”
Ren duduk.
“Kalau tidak menyentuh file aslinya?”
“Saya dapat membuat salinan sementara dan menguji kunci pembuka tanpa mengubah berkas utama.”
Ren berpikir sebentar.
Itu terdengar cukup aman.
Ia menatap Rin.
Adiknya masih tidur pulas.
“Ya sudah.”
Ai-Mouto berdiri di sisi meja.
Ia membuka sebuah terminal kecil pada monitor sekunder.
“Berkas ini tampaknya menggunakan kunci berbasis data personal.”
“Data personal?”
“Ya.”
Ren mengerutkan dahi.
“Punya Rin?”
“Tidak.”
Ai-Mouto melihat metadata.
“Petunjuk kunci berhubungan dengan identitas pengguna utama.”
Ren menunjuk dirinya sendiri.
“Pengguna utama?”
“Ren.”
Ren mengedip.
“Berarti sandinya…”
Ai-Mouto mengangguk.
“Kemungkinan tanggal lahir Onii-chan.”
Ren menatap layar.
“Serius?”
“Petunjuk enkripsi menunjukkan pola tanggal delapan digit.”
Ren menghela napas kecil.
“Rin memang suka hal-hal aneh.”
Ia mulai mengetik tanggal lahirnya.
Ai-Mouto memeriksa format.
“Delapan digit. Hari, bulan, tahun.”
Ren menginput angka tersebut.
Enter.
Layar berhenti sebentar.
Kemudian muncul notifikasi.
Decryption key accepted.
Ren membeku.