Pukul 16.00 sore.
Begitu kereta lokal meninggalkan stasiun, langit yang sejak siang hanya tampak mendung akhirnya menjatuhkan gerimis.
Awalnya tipis.
Hampir tidak terasa.
Beberapa titik air hanya menempel di permukaan trotoar dan membuat warna aspal berubah sedikit lebih gelap. Orang-orang yang baru turun dari stasiun sebagian besar masih berjalan santai, seolah hujan itu tidak cukup penting untuk diperhatikan.
Ren termasuk di antara mereka.
Ia berjalan keluar dari area stasiun sambil menggendong tas sekolah di satu bahu.
Di sampingnya, Rin berjalan sedikit lebih cepat.
“Kalau gerimis begini, sampai rumah juga tidak apa-apa.”
Ren menatap langit.
“Kalau lima menit lagi jadi deras?”
“Tidak akan.”
“Kamu bisa meramal cuaca?”
“Tidak.”
“Lalu yakin sekali?”
Rin mengangkat bahu.
“Cuma firasat.”
Ren tertawa.
“Firasatmu biasanya salah.”
“Tidak selalu.”
Rin baru saja menyelesaikan kalimat ketika beberapa tetes hujan jatuh lebih banyak.
Ren menatapnya.
Rin memalingkan wajah.
“Cuma sedikit.”
Hujan semakin rapat.
Tidak deras.
Belum.
Tetapi cukup untuk membuat seragam mulai menunjukkan bintik-bintik air.
Ren mengangkat tangan ke atas kepala.
“Rin.”
“Hm?”
“Payung.”
“Ada.”
Rin membuka tasnya.
Ia mencari beberapa detik.
Kemudian mengeluarkan sebuah payung lipat kecil berwarna pink.
Ren berhenti berjalan.
Rin juga berhenti.
Keduanya menatap benda tersebut.
Payung itu kecil.
Sangat kecil.
Model lipat yang jelas dirancang untuk satu orang.
Warna pink-nya sudah sedikit pudar di beberapa bagian, tetapi motif kecil yang menghiasi kainnya masih terlihat.
Ren tersenyum.
“Masih kamu simpan?”
Rin memegang gagangnya.
“Ya.”
“Yang dari SMP?”
Rin mengangguk.
“Hadiah waktu kelulusan.”
Ren mengingatnya.
Ia pernah melihat payung itu beberapa tahun lalu.
Waktu Rin masih SMP, payung kecil itu hampir selalu berada di tasnya.
“Kirain sudah hilang.”
“Tidak.”
Rin menatap payung itu sebentar.
“Masih bagus.”
Ren menatap ukurannya.
“Bagus apanya? Ini kecil sekali.”
“Cukup.”
“Untuk siapa?”
“Untuk satu orang.”
Mereka saling diam.
Hujan turun sedikit lebih rapat.
Ren mendongak.
Kemudian mengambil payung dari tangan Rin.
“Buka.”
Rin terkejut.
“Hah?”
“Buka.”
“Kenapa?”
“Karena kalau terus berdiri di sini, kita berdua basah.”
Rin akhirnya menyerahkan payung itu.
Klik.
Payung pink tersebut terbuka.
Benar saja.
Kecil.
Sangat kecil.
Ren memegang gagangnya.
Ia berdiri sedikit di depan.
Rin masuk ke bawah payung.
Namun salah satu bahunya masih berada di luar.
Ren melihatnya.
Kemudian tanpa mengatakan apa-apa, ia menarik Rin mendekat.
Rin langsung menegang.
“Eh?”
“Dekat sini.”
Ren memiringkan payung ke arah Rin.
“Kalau kamu di situ, masih kena.”
Rin bergeser sedikit.
Kemudian sedikit lagi.
Sekarang jarak mereka menjadi jauh lebih dekat.
Bahunya hampir menyentuh lengan Ren.
Rin memegang ujung tasnya sendiri.
“Begini?”
“Ya.”
Ren memandang jalan di depan.
“Ayo.”
Mereka berjalan.
Gerimis turun tanpa suara keras.
Hanya bunyi kecil ketika air mengenai permukaan payung.
Tik.
Tik.
Tik.
Jalur kompleks perumahan mulai sepi.
Beberapa rumah sudah menyalakan lampu ruang tamu meskipun matahari masih cukup terang. Pohon-pohon di sepanjang jalan menggoyangkan daun perlahan karena angin.
Rin berjalan di sisi Ren.
Sangat dekat.
Jauh lebih dekat daripada biasanya.
Ia bisa merasakan hangat tubuh Ren melalui seragam mereka.
Dan semakin lama, ada satu hal lain yang mulai ia sadari.
Aroma sabun.
Sederhana.
Bersih.
Mungkin sabun yang digunakan Ren sebelum berangkat sekolah.
Aroma itu tidak kuat.
Namun karena jarak mereka terlalu dekat, Rin bisa merasakannya dengan jelas.
Rin menelan ludah.
“…”
Ren menoleh sedikit.
“Ada apa?”
“Tidak.”
“Kamu diam.”
“Memang kenapa kalau diam?”
“Biasanya kamu sudah mengomentari payung ini sejak tadi.”
Rin memegang gagang tas lebih erat.
“Tidak ada yang perlu dikomentari.”
Ren tersenyum.
“Benarkah?”
“Ya.”
Mereka berjalan lagi.