Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #34

Ketika Robot Bertanya Tentang Perasaan

Pukul 21.00 malam.

Ruang TV hanya diterangi cahaya lembut dari layar televisi.

Lampu utama sudah diredupkan sejak tadi. Tirai jendela ditutup rapat, membuat ruangan terasa lebih tenang dibanding biasanya. Di atas meja rendah terdapat mangkuk camilan yang tinggal separuh dan tiga gelas minuman yang dibiarkan pada posisi berbeda.

Ren duduk di tengah sofa.

Ai-Mouto berada di sisi kirinya.

Rin duduk di sisi kanan sambil memeluk bantal kecil.

Mereka sedang menonton sebuah drama televisi yang sejak awal sebenarnya tidak terlalu menarik perhatian Ren.

Cerita tentang sebuah keluarga yang terpisah selama bertahun-tahun.

Ada seorang ayah yang pergi karena suatu keadaan yang tidak bisa ia hindari.

Ada seorang ibu yang membesarkan anak-anaknya sendirian.

Dan malam itu, setelah bertahun-tahun berlalu, mereka akhirnya bertemu kembali.

Adegan terakhir baru saja dimulai.

Seorang anak perempuan berdiri di depan pintu stasiun.

Seorang pria tua yang rambutnya sudah memutih berdiri beberapa meter di depannya.

Mereka saling menatap.

Tidak ada musik selama beberapa detik.

Hanya suara kereta yang melintas di belakang.

Kemudian anak perempuan itu berlari.

Pria tua itu membuka kedua tangan.

Mereka berpelukan.

Ibu sang anak datang beberapa detik kemudian.

Mereka bertiga menangis.

Ren menatap layar sambil bersandar.

“Lumayan.”

Ai-Mouto mengangguk.

“Alur emosionalnya mengalami peningkatan signifikan.”

Ren menoleh.

“Jangan dinilai seperti ujian.”

“Baik.”

Rin tidak menjawab.

Ia masih menatap layar.

Wajahnya sedikit tegang.

Ketika karakter di televisi memeluk ayahnya lebih erat, Rin mengedip beberapa kali.

Kemudian mengusap sudut matanya.

Ren tidak langsung menyadarinya.

Ia masih fokus ke layar.

Ai-Mouto justru yang lebih cepat bereaksi.

Kepalanya menoleh.

Sensor optiknya memindai wajah Rin.

Kemudian berhenti pada mata.

“Rin.”

Rin membeku.

“Hm?”

Ai-Mouto mengamati beberapa detik.

“Terdeteksi cairan pada permukaan mata.”

Rin langsung mengusap matanya lagi.

“Tidak ada.”

“Volume cairan meningkat.”

“Sudah kubilang tidak ada.”

Ai-Mouto sedikit mendekat.

“Apakah Anda mengalami cedera?”

Rin menoleh tajam.

“Apa?”

“Cairan mata dapat muncul akibat iritasi atau cedera.”

“Bukan.”

“Apakah terdapat rasa sakit?”

“Tidak.”

“Apakah ada benda asing pada mata?”

“Tidak.”

“Apakah suhu tubuh meningkat?”

Rin menutup wajah dengan bantal.

“Tidak!”

Ren akhirnya menoleh.

Ia melihat Rin yang memeluk bantal lebih erat dan Ai-Mouto yang tampak benar-benar serius.

Ren menahan senyum.

“Rin.”

“Apa?”

“Kamu nangis?”

“Tidak.”

Ren menunjuk pipinya.

“Terus itu?”

Rin mengusapnya cepat.

“Air mata.”

“Ya.”

“Bukan berarti aku nangis.”

Ren tertawa kecil.

“Bedanya apa?”

Rin menatapnya kesal.

“Airnya keluar sendiri.”

Ai-Mouto mengangguk.

“Dengan demikian, terjadi pengeluaran cairan mata tanpa tindakan sadar.”

Rin menatapnya.

“Kamu jangan bantu menjelaskan.”

Ai-Mouto mengangguk.

“Baik.”

Ren kembali menatap layar.

Namun beberapa detik kemudian Rin kembali mengusap matanya.

Ia berusaha melakukannya diam-diam.

Gagal.

Ai-Mouto kembali mengamati.

“Rin.”

“Apa lagi?”

“Volume cairan meningkat.”

“Berhenti.”

“Apakah Anda sedih?”

Rin menatap layar.

Kemudian menggeleng.

“Tidak.”

“Apakah Anda bahagia?”

Rin diam.

Ia sendiri tampak bingung menjawabnya.

“Bukan begitu.”

Ai-Mouto memiringkan kepala.

“Apakah perasaan Anda termasuk negatif atau positif?”

Rin menghela napas.

“Entahlah.”

Ai-Mouto diam.

Ren melirik mereka.

Di televisi, adegan keluarga itu masih berlangsung.

Sang ibu memegang tangan anaknya.

Mereka tertawa sambil menangis.

Rin mengendus kecil.

Kemudian cepat-cepat mengambil tisu.

Ren mulai tersenyum.

“Sudah, Ai.”

Ai-Mouto menoleh.

“Ya?”

“Dia cuma terharu.”

“Terharu?”

“Ya.”

“Definisi?”

Ren berpikir.

“Sulit.”

Ai-Mouto mengangkat alis.

“Apakah terharu adalah jenis emosi?”

“Bisa dibilang.”

“Apa bedanya dengan bahagia?”

Ren menatap layar sebentar.

Kemudian Rin.

“Kadang bercampur.”

Ai-Mouto memproses.

Rin mengusap matanya lagi.

Kali ini sedikit lebih tenang.

Ren mengambil salah satu tisu dari meja lalu menyodorkannya.

“Nih.”

Rin menerimanya.

“Terima kasih.”

Ia segera mengusap wajah.

Kemudian berbisik pelan,

“Drama macam apa begini…”

Ren tertawa.

“Yang kamu pilih sendiri.”

“Tidak tahu bakal begini.”

Lihat selengkapnya