Pukul 14.00 siang.
Hari itu tidak ada jadwal khusus.
Tidak ada ujian.
Tidak ada tamu.
Tidak ada pekerjaan laboratorium yang mendesak.
Rumah keluarga mereka berada dalam keadaan tenang, dengan cahaya matahari musim panas yang masuk dari sela tirai ruang tengah dan membentuk persegi-persegi terang di atas lantai kayu.
Ren sedang membersihkan rumah.
Lebih tepatnya, ia baru saja memutuskan bahwa debu di bawah meja TV sudah terlalu banyak untuk dibiarkan.
“Kenapa benda-benda selalu jatuh di tempat paling susah dijangkau?”
Ren berlutut sambil mengelap lantai.
Ia menggeser beberapa majalah lama.
Sebuah kabel bekas.
Remote televisi cadangan.
Dua baterai yang ternyata sudah kosong.
Kemudian tangannya menyentuh sesuatu yang keras di bagian paling belakang laci bawah.
“Hm?”
Ren menarik benda itu keluar.
Sebuah album foto.
Sampulnya sudah kusam.
Warna aslinya mungkin pernah lebih terang, tetapi sekarang permukaannya terlihat sedikit pudar. Bagian sudutnya bahkan mulai terkelupas.
Ren menatapnya.
“Album?”
Ia tidak ingat kapan terakhir kali melihat benda itu.
Ia duduk di karpet, meletakkan kain lap di samping, kemudian membuka sampulnya.
Halaman pertama berisi foto keluarga ketika ia masih kecil.
Ren langsung tertawa.
“Waduh.”
Foto kedua.
Ia lebih kecil lagi.
Rambutnya berantakan.
Berdiri di depan rumah dengan ekspresi kesal.
“Kenapa ekspresiku begini?”
Ren membalik halaman.
Ada foto di taman.
Foto saat ulang tahun.
Foto perjalanan keluarga.
Foto di rumah lama mereka.
Foto saat salju turun.
Setiap halaman terasa seperti potongan waktu yang sudah lama disimpan dalam laci dan nyaris dilupakan.
Ren tersenyum.
Kemudian ia sampai pada satu halaman.
Ia berhenti.
Di sana terdapat beberapa foto Rin.
Yang pertama membuat Ren langsung menahan tawa.
Rin umur lima tahun.
Pipi bulat.
Rambut sedikit mengembang.
Mengenakan piyama yang kebesaran sehingga lengannya hampir menutupi telapak tangan.
Wajahnya tampak seperti baru bangun tidur.
Dan pipinya…
Benar-benar seperti dua bulatan kecil.
Ren menutup mulut.
“Tidak mungkin.”
Ia melihat lagi.
Kemudian membalik foto tersebut sedikit untuk memastikan.
“Rin?”
Suara langkah kaki terdengar dari arah dapur.
“Apa?”
Rin muncul sambil membawa segelas air.
Ia melihat album di tangan Ren.
Langkahnya berhenti.
Wajahnya berubah.
“…”
Ren perlahan menatap adiknya.
“Rin.”
“Jangan.”
Ren tersenyum.
“Ini kamu?”
“Jangan.”
“Umur lima tahun?”
“Aniki.”
Ren mengangkat album sedikit lebih tinggi.
“Kenapa pipimu bulat sekali?”
Rin langsung meletakkan gelasnya di meja.
“Kasih sini.”
Ren tertawa.
“Tidak.”
“Kasih.”
“Lucu banget.”
“Ren.”
Rin berjalan cepat mendekat.
Ren langsung memindahkan album ke sisi lain.
“Jangan.”
“Aku mau lihat.”
“Aku juga mau lihat.”
“Sudah pernah lihat.”
“Dulu aku kecil. Aku nggak ingat.”
Rin meraih album.
Ren menariknya menjauh.
“Aniki!”
“Aku cuma menikmati sejarah keluarga.”
“Tidak ada yang perlu dinikmati dari foto itu!”
Ren membuka halaman berikutnya.
Ada Rin umur lima tahun sedang duduk sambil memegang sendok.
Foto lain memperlihatkan dirinya tertidur di sofa dengan boneka besar.
Ren tertawa lagi.
“Ini lebih bagus.”
“Berikan!”
Rin mencoba mengambil album.
Ren mengangkatnya lebih tinggi.
Rin berdiri jinjit.
Tetap tidak sampai.
“Aniki, serius.”
“Kenapa malu?”
“Karena jelek.”
“Tidak.”
Ren menggeleng.
“Justru lucu.”
“Jelek.”
“Lucu.”
“Jelek.”
“Lucu.”
Rin langsung mendorong bahu Ren.
Ren terhuyung sedikit.
“Eh!”
Album hampir jatuh.
Rin refleks menangkapnya.
Namun Ren juga memegang sisi lainnya.
Mereka berhenti.
Album berada di antara keduanya.
“Lepas.”
“Kamu yang lepas.”
“Aniki.”
“Rin.”
Keduanya menarik berlawanan arah.
Sampai akhirnya Ren kehilangan keseimbangan.
“Wah—”
Tubuhnya jatuh ke belakang ke karpet.
Rin ikut kehilangan keseimbangan dan jatuh di depannya.
Album terselamatkan karena justru terjepit di antara mereka.
“…”
Sunyi.
Rin menopang tubuh dengan satu tangan di karpet.