Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #36

Aroma Kakao dan Cangkir yang Sama

Pukul 02.00 dini hari.

Rumah itu seharusnya benar-benar gelap.

Sebagian besar lampu sudah dimatikan sejak beberapa jam lalu. Tidak ada suara televisi, tidak ada suara langkah kaki di lantai dua, bahkan dengung server dari laboratorium Rin terdengar jauh lebih pelan karena sistem rumah telah masuk ke mode malam.

Ren sendiri terbangun bukan karena suara apa pun.

Ia hanya merasa haus.

Dengan mata yang masih berat, ia bangkit dari tempat tidur dan berjalan keluar kamar. Rambutnya masih acak-acakan, kaus yang dipakainya sedikit kusut karena tidur, dan langkah kakinya lambat seperti seseorang yang belum sepenuhnya sadar.

Ia turun dari lantai dua.

Tangga rumah terasa panjang ketika dilalui pukul dua pagi.

Sesampainya di lantai bawah, Ren melihat sesuatu yang membuatnya berhenti.

Lampu dapur menyala.

Bukan lampu utama.

Hanya lampu kecil di bawah kabinet, memancarkan cahaya hangat yang redup.

Ren mengernyit.

“Siapa belum tidur?”

Ia berjalan menuju dapur.

Begitu sampai di ambang pintu, jawabannya langsung terlihat.

Rin duduk di salah satu kursi bar.

Tangannya memegang cangkir.

Uap tipis naik dari permukaan minuman berwarna cokelat muda.

Rambut Rin tidak ditata seperti biasanya. Sebagian terurai di bahunya, beberapa helai menempel pada sisi wajah. Ia mengenakan pakaian tidur sederhana dengan cardigan tipis.

Wajahnya terlihat lelah.

Namun bukan karena pekerjaan laboratorium.

Lebih seperti seseorang yang sudah mencoba tidur, tetapi pikirannya terlalu ramai untuk benar-benar tenang.

Ren bersandar di kusen.

“Belum tidur?”

Rin tersentak kecil.

Ia menoleh.

“Aniki?”

“Ya.”

“Kenapa kamu bangun?”

“Haus.”

Ren masuk ke dapur.

Rin kembali memandang cangkir di tangannya.

“Aku juga belum bisa tidur.”

Ren membuka lemari.

“Kenapa?”

Rin mengangkat bahu.

“Tidak tahu.”

“Bohong.”

“Memangnya kamu bisa baca pikiranku?”

“Tidak.”

Ren mengambil gelas.

“Tapi aku kenal kamu.”

Rin diam.

Ia meniup permukaan minumannya.

Aroma kakao hangat perlahan memenuhi dapur.

Ren berhenti ketika menyadarinya.

“Kakao?”

Rin mengangguk.

“Masih suka?”

“Sejak kapan aku berhenti?”

Rin tersenyum tipis.

“Sejak SMP.”

Ren mengangguk.

Ia masih ingat.

Dulu ketika mereka masih lebih muda, malam-malam seperti ini tidak terlalu jarang.

Ketika Rin tidak bisa tidur karena tugas sekolah, atau Ren terlalu memikirkan sesuatu, mereka akan diam-diam turun ke dapur dan membuat kakao hangat.

Tidak ada pembicaraan besar.

Kadang hanya duduk.

Kadang saling mengeluh tentang sekolah.

Kadang bahkan tidak berbicara sama sekali.

Kebiasaan itu seharusnya sudah lama hilang.

Namun ternyata belum.

Ren mengambil cangkir kedua.

“Aku bikin satu.”

Rin mengangguk.

“Silakan.”

Ren mengeluarkan bubuk kakao dari rak.

Sendok.

Gula.

Susu.

Tangannya bergerak lambat karena masih mengantuk.

Rin memperhatikan.

“Kamu masih setengah tidur.”

“Ya.”

“Jangan sampai salah.”

“Kalau salah, kamu bantu.”

Rin tersenyum kecil.

“Dasar.”

Ren memanaskan susu.

Dapur kembali sunyi.

Hanya suara kecil cairan yang dipanaskan dan bunyi sendok menyentuh permukaan meja.

Di sudut dapur, Ai-Mouto berdiri dalam mode Standby Charging.

Tubuhnya diam.

Kabel pengisian nirkabel aktif.

Lampu indikator kecil di dekat tengkuknya berkedip lambat.

Ia tidak berpartisipasi dalam percakapan.

Tidak perlu.

Malam itu, dua manusia duduk di satu meja dan tidak membutuhkan bantuannya.

Ren menuang susu hangat ke cangkir, menambahkan kakao, kemudian mengaduk perlahan.

“Sudah.”

Ia mengambil cangkirnya.

Rin sedikit menggeser kursi.

Ren duduk di sebelahnya.

Bukan berhadapan.

Di sebelah.

Kedua cangkir diletakkan di depan mereka.

Ren meniup minumannya.

Kemudian menyeruput sedikit.

“…”

Rin menatapnya.

“Bagaimana?”

“Panas.”

Rin tertawa kecil.

“Ya jelas.”

Ren menatap cangkir.

“Aku baru bangun.”

“Makanya.”

Ia kembali menyeruput.

Aroma kakao membuat rasa kantuk Ren sedikit berkurang.

Mereka duduk dalam diam.

Tidak ada pertengkaran.

Tidak ada ejekan.

Tidak ada perdebatan tentang siapa yang lebih berguna.

Tidak ada pembahasan laboratorium.

Tidak ada drama.

Hanya suara jam dinding dari ruang tengah.

Tik.

Tok.

Tik.

Tok.

Rin memegang cangkir dengan kedua tangan.

Ren memperhatikannya dari samping.

Lihat selengkapnya