Pukul 11.30 siang.
Akhir pekan membuat rumah itu sedikit lebih lambat dari biasanya.
Tidak ada suara langkah terburu-buru menuju stasiun. Tidak ada alarm yang berbunyi berulang kali. Tidak ada Ren yang mengeluh soal seragam sekolah sambil masih setengah mengantuk.
Dapur justru terasa paling hidup.
Cahaya matahari masuk dari jendela di atas wastafel, jatuh di atas permukaan meja dan memantul pada gagang-gagang panci yang tergantung rapi. Dari ruang tengah terdengar suara televisi yang volumenya kecil. Ren duduk di sofa sambil membaca sesuatu dari ponselnya, sementara Ai-Mouto sedang merapikan beberapa bahan makanan yang baru dibeli.
Rin belum turun.
Seharusnya ia masih berada di laboratorium.
Namun pagi itu semuanya bermula dari satu kalimat sederhana yang keluar begitu saja dari Ren.
“Aku kangen sup ikan buatan Ibu.”
Ren mengatakannya tanpa nada sedih yang berlebihan.
Hanya gumaman kecil ketika ia melihat isi kulkas.
Di dalamnya ada beberapa bahan makanan, tetapi tidak ada yang langsung mengingatkannya pada masakan itu.
Ai-Mouto yang sedang berdiri di dekat meja langsung menoleh.
“Sup ikan?”
Ren mengangguk.
“Dulu Ibu sering bikin kalau cuaca dingin.”
Ia tersenyum kecil.
“Bukan sup yang istimewa atau apa. Cuma ikan, kuah bening, beberapa bumbu.”
Ren berhenti sebentar.
“Tapi entah kenapa rasanya selalu enak.”
Ai-Mouto mengingat.
“Apakah ada catatan resep?”
“Sepertinya ada.”
Ren mengangkat bahu.
“Mungkin dulu pernah ditulis.”
Ia kembali melihat ponselnya.
“Sayang sekarang tidak tahu disimpan di mana.”
Di lantai atas, langkah kaki berhenti di tangga.
Rin berdiri di sana.
Ia mendengar kalimat terakhir.
Tidak mengatakan apa-apa.
Ren sendiri tidak menyadarinya.
“Aku jadi ingat waktu kecil,” lanjut Ren. “Kalau Ibu bikin sup itu, aku selalu nambah nasi.”
Ai-Mouto tersenyum.
“Apakah Onii-chan ingin membuatnya?”
Ren tertawa kecil.
“Kalau bisa.”
Ia menatap dapur.
“Tapi aku nggak ingat takarannya.”
Rin perlahan turun tangga.
Namun begitu mencapai lantai bawah, ia tidak langsung masuk ke ruang tengah.
Ia justru berbelok ke dapur.
Ren menoleh.
“Rin?”
“Kenapa?”
“Kamu dengar?”
“Dengar apa?”
“Sup ikan.”
Rin membuka lemari dapur.
“Tidak penting.”
Ren mengangkat alis.
“Terus kenapa ke dapur?”
“Aku haus.”
“Kamu sering haus kalau sedang malu.”
Rin menoleh tajam.
“Aku tidak malu.”
Ren tertawa.
Rin tidak membalas.
Ia membuka kulkas.
Di dalamnya ada ikan segar yang belum digunakan.
Rin berhenti.
Matanya tertuju pada bahan-bahan yang tersedia.
Ikan.
Daun bawang.
Jahe.
Bawang putih.
Beberapa sayuran.
Ia tahu bahan dasarnya.
Masalahnya adalah rasa.
Rin masih mengingat aroma sup itu.
Ia mengingat warna kuahnya.
Mungkin sedikit asin.
Sedikit segar.
Namun takaran detailnya sudah kabur.
Yang paling ia ingat hanyalah Ibu selalu memasaknya tanpa pernah membuka buku resep.
Seolah tangannya sudah hafal sendiri.
Rin menutup kulkas.
Ia memandang Ren dari kejauhan.
Ren sudah kembali duduk di sofa.
Ia tidak mengatakan apa-apa.
Rin mengambil celemek.
Kemudian memakainya.
Ai-Mouto menoleh.
“Apakah Rin hendak memasak?”
Rin mengangguk.
“Sedikit.”
“Untuk sup ikan?”
Rin berhenti sebentar.
“Ya.”
Ren langsung menoleh.
“Serius?”
“Kenapa?”
“Kamu bisa?”
Rin memegang sendok kayu.
“Kalau tidak bisa, aku belajar.”
Ren tersenyum.
“Oke.”
Rin memalingkan wajah.
“Jangan berharap terlalu banyak.”
Ia mulai bekerja.
Ikan dibersihkan.
Jahe diiris.
Bawang ditumbuk.
Panci dipanaskan.
Gerakan Rin cepat, tetapi tidak terburu-buru.
Ia mencoba mengingat.
Apa yang dilakukan Ibu dulu?
Apa yang dimasukkan lebih dulu?
Berapa banyak?
Apakah ikan direbus langsung?
Atau kuahnya dibuat lebih dahulu?
Rin mengerutkan dahi.
“Sedikit jahe…”
Ia menambah.
“Garam…”
Berhenti.
“Berapa?”
Ai-Mouto berdiri di belakangnya.
Rin tidak meminta bantuan.
Namun ia tahu database Ai-Mouto menyimpan catatan harian lama keluarga.
Mungkin ada sesuatu.
Rin akhirnya bertanya dengan nada datar,
“Ai.”
“Ya?”
“Kamu punya data resep Ibu?”
Ai-Mouto mengangguk.