Pukul 20.00 malam.
Sejak sore, langit di atas pinggiran Tokyo sudah berubah kelabu.
Awan hitam menggantung rendah di antara atap rumah-rumah, sementara angin membawa udara lembap yang membuat dedaunan di sepanjang jalan kompleks bergerak tidak beraturan. Hujan turun sejak beberapa puluh menit lalu, mula-mula hanya berupa gerimis yang mengetuk kaca jendela dengan suara halus, tetapi kemudian berubah semakin deras.
Di dalam rumah, suasana masih cukup normal.
Televisi menyala di ruang tengah. Ren duduk di sofa sambil memainkan ponselnya. Rin berada di kamar sambil membuka beberapa file penelitian di laptop. Ai-Mouto berpindah dari satu ruangan ke ruangan lain, memastikan suhu rumah tetap nyaman dan semua perangkat yang tidak dibutuhkan telah masuk ke mode hemat daya.
Sistem rumah pintar bekerja seperti biasa.
Lampu-lampu menyala otomatis.
Pendingin ruangan menyesuaikan suhu.
Server rack di laboratorium tetap beroperasi.
Tidak ada tanda bahwa beberapa detik berikutnya akan mengubah seluruh rumah.
Ren sedang membaca pesan di ponselnya ketika langit tiba-tiba memutih.
Cahaya besar menyambar melewati jendela.
Sesaat kemudian—
BRAKKKK!
Suara petir meledak begitu keras hingga kaca jendela bergetar.
Ren refleks mengangkat kepala.
Kemudian seluruh rumah gelap.
Televisi mati.
Lampu padam.
Pendingin ruangan berhenti.
Dengung peralatan elektronik lenyap dalam satu tarikan napas.
Ren terdiam.
“Wah…”
Ia menekan tombol lampu pada ponselnya.
Tidak ada respons dari sistem rumah.
Benar-benar padam.
Di luar, seluruh deretan rumah juga terlihat gelap.
“Listrik mati?”
Ren bangkit dari sofa.
Namun sebelum ia sempat bergerak menuju panel utama, terdengar suara dari lantai dua.
Jeritan.
“KYAAAA!”
Ren langsung mengenali suara itu.
“Rin!”
Ia berlari menuju tangga.
Dua langkah.
Tiga langkah.
Ia menaiki anak tangga dengan cepat dalam kondisi rumah yang nyaris gelap total. Cahaya dari ponselnya hanya menerangi beberapa bagian dinding.
“Rin!”
Tidak ada jawaban.
Hujan menghantam kaca semakin keras.
Kemudian kilatan cahaya lain menerangi rumah selama sepersekian detik.
BOOM!
Ren mendengar suara sesuatu jatuh dari lantai dua.
Ia mempercepat langkah.
“Rin!”
Pintu kamar Rin terbuka sedikit.
Ren mendorongnya.
“Rin?”
Tidak ada jawaban.
Ia mengarahkan cahaya ponsel ke dalam kamar.
Rin berada di sudut dekat sisi ranjang.
Tubuhnya meringkuk.
Kedua tangannya menutupi telinga.
Rambutnya sedikit berantakan.
Wajahnya pucat.
Ren langsung tahu.
Rin takut.
Sangat takut.
Bukan takut yang biasa ia sembunyikan dengan omelan.
Tidak ada kesempatan untuk memasang ekspresi dingin atau membuat alasan rasional.
Begitu kilat kembali menyambar—
DUARRR!
Rin tersentak hebat.
“Ah!”
Ren segera mendekat.
“Rin.”
Rin menatapnya.
Matanya tampak panik.
“Aniki…”
Suara itu kecil.
Jauh lebih kecil daripada biasanya.
Ren berjongkok di depannya.
“Aku di sini.”
“Aku…”
Rin mencoba mengatakan sesuatu.
Petir lain terdengar dari kejauhan.
BRRRAAMM!
Rin langsung menutup telinga lagi.
Ren memahami.
“Oke.”
Ia mengulurkan tangan.
“Ayo pindah ke kamarku.”
Rin menggeleng.
“Tidak perlu.”
“Rin.”
“Aku bisa…”
Petir menyambar lagi.
Rin tersentak.
Ren langsung memotong.
“Tidak usah sok kuat.”
Rin menatapnya.
Tidak membantah.
Ren mengulurkan tangan lagi.
“Kita ke kamarku.”
Rin melihat tangan itu beberapa detik.
Kemudian menggenggamnya.
Jari-jarinya dingin.
Ren membantu Rin berdiri.
Ia mengambil selimut yang terjatuh dari tempat tidur lalu melingkarkannya di bahu Rin.
“Pakai ini dulu.”
Rin mengangguk kecil.
Ren membawa ponsel di satu tangan dan menuntun Rin dengan tangan lainnya.
Mereka keluar kamar.
Koridor lantai dua gelap.
Tidak ada lampu sensor.
Tidak ada sistem rumah pintar yang menyala.
Rumah yang biasanya terasa hidup kini mendadak menjadi asing.
Ren membawa Rin ke kamarnya.
“Duduk di sini.”
Rin duduk di tepi ranjang.
Ren menaruh selimut lebih rapat di bahunya.
“Masih takut?”
Rin menatap lantai.
“Sedikit.”
Ren tahu itu bohong.
“Sedikit?”
Rin tidak menjawab.
Ren duduk di sampingnya.
“Tidak apa-apa.”
Rin menarik selimut lebih tinggi.
“Suara petirnya terlalu keras.”
“Ya.”
Ren menatap jendela.
Kilat kembali mengisi langit.
Rin refleks memejamkan mata.
Ren menutup tirai lebih rapat.
“Begini lebih baik.”
Rin mengangguk.
Untuk beberapa saat hanya hujan yang terdengar.
Ren mencoba membuat suasana normal.
“Dulu waktu kecil kamu juga begini.”
Rin menoleh.
“Aku tidak.”
“Pernah.”