Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #39

Genggaman Tangan dalam Gelap

Pukul 22.00 malam.

Badai belum juga pergi.

Hujan yang sejak sore turun deras kini terdengar semakin lebat. Air menghantam kaca jendela kamar Ren seperti ribuan butir kecil yang dilemparkan tanpa henti. Sesekali angin mengguncang ranting pohon di luar, membuat bayangan samar bergerak di balik tirai.

Listrik di seluruh kompleks masih padam.

Sudah hampir dua jam.

Rumah yang biasanya dipenuhi cahaya dan suara mesin kini tenggelam dalam gelap. Tidak ada lampu otomatis yang menyala ketika seseorang bergerak. Tidak ada suara sistem rumah pintar. Tidak ada dengung pendingin ruangan.

Hanya suara hujan.

Dan cahaya lembut yang berasal dari telapak tangan Ai-Mouto.

Cahaya empat ratus lumen itu cukup untuk menerangi kamar Ren, tetapi tidak cukup terang untuk menghilangkan seluruh bayangan. Sudut-sudut ruangan tetap gelap. Lemari, meja, dan pintu hanya tampak sebagai bentuk samar.

Ren duduk bersandar di kepala ranjang.

Rin masih di sampingnya.

Selimut menutupi tubuhnya sampai sebatas dada. Kedua lututnya ditekuk dan dipeluk, membuat tubuhnya terlihat jauh lebih kecil daripada biasanya.

Seharusnya ia sudah kembali ke kamarnya.

Namun sejak listrik mati, ia belum sedikit pun menunjukkan keinginan untuk pergi.

Ren tidak menyuruh.

Ia tahu mengapa.

Petir masih sesekali terdengar di kejauhan.

Setiap kali suaranya cukup keras, Rin sedikit menegang.

Namun ketakutannya perlahan telah berubah.

Awalnya ia benar-benar panik.

Sekarang ia hanya merasa tidak nyaman.

Lebih tepatnya, ia tidak ingin sendirian.

Ren tidak mengatakan itu.

Rin juga tidak mengakuinya.

Keduanya memilih membiarkannya tidak perlu disebut.

Ai-Mouto duduk di sudut kamar dalam mode Low-Noise. Ia sengaja menurunkan aktivitas motoriknya agar tidak mengganggu percakapan. Cahaya lembut dari tangannya diarahkan ke lantai, bukan langsung ke wajah keduanya.

Ia mendengarkan.

Tidak mencatat.

Tidak menganalisis dengan suara keras.

Hanya mendengarkan.

Hujan semakin deras.

Ren melirik jendela.

“Sepertinya belum akan berhenti.”

Rin memeluk lutut lebih erat.

“Hmm.”

“Kamu masih mau di sini?”

Rin mengangguk kecil.

“Aku belum mau kembali.”

Ren tersenyum tipis.

“Ya sudah.”

Rin menunduk.

Mereka kembali diam.

Kamar Ren terasa jauh lebih kecil tanpa lampu.

Tidak banyak yang bisa dilakukan.

Ponsel Ren hanya menyisakan cahaya kecil jika diperlukan, tetapi ia memutuskan tidak menggunakannya.

Dalam gelap, mereka tidak harus saling melihat.

Dan anehnya, hal itu membuat suasana terasa lebih ringan.

Ren bisa mendengar napas Rin.

Rin bisa mendengar suara hujan.

Ai-Mouto berada beberapa meter dari mereka.

Tidak ada yang perlu berpura-pura.

Tidak ada ekspresi yang harus dijaga.

Tidak ada kesempatan bagi Rin untuk melarikan diri hanya karena wajahnya mulai memerah.

Kegelapan membuat semua hal yang biasanya disembunyikan terasa sedikit lebih mudah untuk keluar.

Ren menarik napas panjang.

“Rin.”

“Hm?”

“Kamu takut?”

Rin diam.

Kemudian menjawab pelan,

“Petirnya masih keras.”

“Bukan itu.”

Rin mengangkat kepala sedikit.

Ren melanjutkan,

“Takut sendirian.”

Rin tidak menjawab.

Beberapa detik berlalu.

Hujan menghantam jendela lebih keras.

Kemudian Rin mengaku dengan suara kecil,

“Sedikit.”

Ren tersenyum.

“Tidak apa-apa.”

Rin kembali memeluk lutut.

“Aku biasanya tidak sepenakut ini.”

“Aku tahu.”

“Jangan pikir aku lemah.”

“Aku tidak berpikir begitu.”

Rin menatap kegelapan di depannya.

“Benarkah?”

“Benar.”

Ren berhenti sebentar.

“Kamu berani dalam banyak hal.”

Rin mendengarkan.

“Kamu bisa menghadapi orang dewasa di konferensi tanpa gugup.”

“Hmm.”

“Kamu bisa membongkar komputer tanpa takut rusak.”

Rin hampir tersenyum.

“Kamu bahkan bisa bikin android.”

Rin menunduk lagi.

Namun kali ini ia tampak sedikit lebih tenang.

“Terus kenapa aku takut petir?”

“Karena berani bukan berarti tidak takut.”

Rin diam.

Ren melanjutkan,

“Orang bisa berani justru karena mereka tetap melakukan sesuatu meskipun takut.”

Rin menarik napas.

“Aniki…”

“Hm?”

“Kenapa kamu selalu terdengar lebih bijak kalau gelap?”

Ren tertawa pelan.

“Karena kamu tidak bisa melihat wajahku.”

Rin ikut tertawa kecil.

“Bisa jadi.”

Hening kembali.

Ren menatap siluet tangannya sendiri.

Entah kenapa, malam itu ia merasa ingin bicara.

Bukan tentang petir.

Bukan tentang sekolah.

Bukan tentang hal kecil yang bisa mereka jadikan bahan candaan.

Ada sesuatu yang sudah lama tersimpan.

“Rin.”

“Hm?”

“Aku sebenarnya sering khawatir.”

Rin mengangkat kepala.

“Kenapa?”

Ren menghela napas.

“Karena aku kadang merasa aku bukan kakak yang bagus.”

Rin langsung menoleh meskipun hampir tidak bisa melihat wajahnya.

“Apa?”

Ren tetap memandang ke depan.

“Kadang aku lihat kamu.”

“Aku?”

Lihat selengkapnya