Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #40

Ujian Demonstrasi Robotika

Pukul 13.00 siang.

Aula utama SMA itu jauh lebih ramai daripada biasanya.

Barisan kursi sudah dipenuhi siswa, guru, beberapa orang tua, serta tamu dari luar sekolah yang datang sebagai penilai. Di bagian depan panggung berdiri meja panjang dengan berbagai peralatan demonstrasi sains. Kabel-kabel tersusun rapi, beberapa layar monitor terhubung ke laptop presentasi, dan di tengah panggung terdapat satu perangkat robotik yang ditutupi kain hitam.

Spanduk besar terbentang di belakang panggung.

DEMONSTRASI SAINS DAN TEKNOLOGI TINGKAT PROVINSI

Nama sekolah tercetak di bagian bawah.

Beberapa siswa dari kelas lain berdiri di sisi aula sambil menunggu giliran. Suasana riuh, tetapi cukup teratur. Guru-guru panitia berjalan kesana-kemari, memastikan semuanya sudah siap.

Di balik panggung, situasinya berbeda.

Rin berdiri sendirian di dekat meja persiapan.

Kedua tangannya memegang remote presentasi.

Tangannya gemetar.

Ia menekan tombol beberapa kali meskipun slide belum ditampilkan.

Klik.

Klik.

Klik.

“Tenang…”

Ia menarik napas.

Tidak membantu.

Tangannya tetap gemetar.

Rin menatap layar laptop.

Slide pertama sudah siap.

Judul proyeknya terpampang jelas.

Ia membaca sekali lagi.

Kemudian menutup mata.

“Jangan sampai salah…”

Pikiran buruk mulai berdatangan.

Bagaimana kalau penilai bertanya sesuatu yang tidak ia siapkan?

Bagaimana kalau perangkatnya gagal?

Bagaimana kalau sensor tidak membaca objek?

Bagaimana kalau ia salah menjelaskan?

Bagaimana kalau—

Rin membuka mata.

“Berhenti.”

Ia mencoba menenangkan diri.

Ia sudah menguji sistem ini puluhan kali.

Ia tahu spesifikasinya.

Ia tahu kelemahannya.

Ia tahu cara memperbaiki hampir semua kesalahan yang mungkin terjadi.

Namun berdiri di depan panggung berbeda.

Di balik panggung, ia hanya seorang gadis enam belas tahun yang mendengar ratusan suara manusia di balik tirai.

Seseorang di sisi lain panggung berkata,

“Lima menit lagi.”

Rin mengangguk kecil.

“Ya.”

Remote presentasi di tangannya masih bergetar.

Ia menarik napas lagi.

“Bisa.”

Satu kalimat.

Pendek.

Namun tidak cukup meyakinkan.

Rin memejamkan mata.

Kemudian memikirkan rumah.

Laboratorium.

Server rack.

Ai-Mouto.

Dan—

Ren.

Ia langsung membuka mata lagi.

“Kenapa malah ingat dia…”

Rin menggeleng.

Namun anehnya, setelah itu napasnya sedikit lebih stabil.

Ia melihat jam.

Masih beberapa menit.

Di luar aula, seseorang sedang berusaha masuk lewat pintu belakang.

Ren.

Ia datang diam-diam.

Bukan sebagai peserta.

Bukan sebagai pembawa acara.

Tidak ada yang secara resmi mengundangnya.

Ia hanya tahu jadwal presentasi Rin dari pengumuman sekolah dan memutuskan datang.

Ren tidak ingin mengganggu.

Ia tahu Rin pasti tidak suka jika dirinya tiba-tiba muncul di belakang panggung.

Jadi ia memilih menyusup ke aula ketika acara sudah berjalan.

Ia mengenakan pakaian yang sederhana, membawa tas kecil dan kartu identitas sekolah yang ia tunjukkan seperlunya kepada panitia.

Setelah masuk, ia langsung menuju bagian belakang.

Barisan kursi paling belakang masih memiliki beberapa tempat kosong.

Ren duduk sebentar.

Kemudian berubah pikiran.

Ia berdiri.

“Kalau duduk di sini, dia mungkin tidak lihat.”

Ren berpindah ke sisi lorong belakang.

Posisinya cukup jauh dari panggung, tetapi masih terlihat jelas.

Ia melihat layar besar.

Nama peserta berikutnya muncul.

RIN — KELAS 1

Ren tersenyum.

“Sebentar lagi.”

Ia menatap panggung.

Di balik tirai, Rin tidak bisa melihatnya.

Belum.

Suara pembawa acara terdengar dari pengeras.

“Berikutnya, kita akan menyaksikan demonstrasi robotika dari tim SMA kita…”

Tepuk tangan terdengar.

Rin mendengar namanya.

Ia menarik napas.

Kaki melangkah menuju panggung.

Satu.

Dua.

Tiga.

Begitu tirai dibuka, cahaya aula langsung terasa jauh lebih terang.

Rin menahan napas.

Ratusan pasang mata tertuju kepadanya.

Ia berjalan menuju tengah panggung.

Perangkat robotik yang sudah dipersiapkan berdiri di atas meja.

Laptop menyala.

Remote di tangan.

Namun rasa gugup yang tadi memenuhi tubuhnya belum benar-benar hilang.

Ia menatap ke depan.

Penilai duduk di barisan pertama.

Guru pembimbing di sisi panggung.

Teman-teman sekelasnya berada di beberapa barisan tengah.

Rin mengangkat tangan.

“Selamat siang.”

Suara terdengar sedikit lebih kecil dari yang ia inginkan.

Ia berhenti.

Satu detik.

Kemudian bersiap menekan slide pertama.

Namun sebelum itu—

seseorang mengangkat tangan di barisan paling belakang.

Rin melihat.

Awalnya ia hanya melihat siluet seseorang di antara kerumunan.

Kemudian orang itu mengangkat kedua tangan sedikit lebih tinggi.

Jempol.

Senyum.

Ren.

Rin membeku.

“…”

Matanya membesar.

Aniki?

Ren tersenyum dari belakang aula.

Ia tidak bersuara.

Hanya membuat gestur kecil dengan tangannya.

Semangat.

Rin menatapnya.

Rasa takut yang tadi menekan dadanya mendadak terasa lebih ringan.

Bukan menghilang seluruhnya.

Namun berubah.

Tiba-tiba ia teringat semua malam di meja belajar.

Semua sesi latihan.

Semua kesalahan kecil.

Ren yang selalu berkata, coba sekali lagi.

Ren yang memuji sesuatu meskipun hasilnya belum sempurna.

Ren yang bahkan saat tidak mengerti isi proyeknya tetap datang.

Rin menarik napas.

Lalu tersenyum tipis.

Ia kembali menghadap penonton.

“Selamat siang.”

Kali ini suaranya jauh lebih jelas.

“Nama saya Rin. Hari ini saya akan mempresentasikan proyek yang saya kembangkan dalam penelitian robotika sekolah.”

Slide pertama muncul.

Ren berdiri di belakang.

Senyum kecil masih ada di wajahnya.

Rin mulai menjelaskan.

Lihat selengkapnya