Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #41

Pujian yang Membakar Pipi

Pukul 15.00 sore.

Aula sekolah sudah kembali tenang.

Sebagian besar peserta demonstrasi mulai meninggalkan gedung. Beberapa guru masih sibuk membereskan peralatan, sementara para penilai dari luar sekolah berpindah ke ruangan lain untuk membahas hasil presentasi.

Rin akhirnya bisa bernapas dengan lebih lega.

Ia berjalan keluar dari gedung aula sambil membawa tas dan laptop. Langkahnya tidak lagi setegang sebelum presentasi. Bahkan ada sedikit kelonggaran pada bahunya yang sejak siang tadi terasa kaku.

Namun setiap kali teringat tepuk tangan tadi, wajahnya kembali memanas.

Ia sendiri tidak tahu kenapa.

Presentasinya memang berhasil.

Ia sudah mempersiapkannya berbulan-bulan.

Secara logika, keberhasilan itu memang pantas.

Tetapi tepuk tangan dari banyak orang tetap terasa berbeda ketika ia tahu ada satu orang tertentu yang melihat dari belakang aula.

Ren.

Dan lebih buruk lagi, Ren sempat mengangkat kedua tangannya sambil membuat gestur jempol ketika dirinya masih berdiri di atas panggung.

Rin masih bisa membayangkannya.

Begitu teringat, ia langsung memalingkan wajah.

“Memalukan…”

Ia menggumam sendiri.

“Kenapa dia harus datang juga…”

Namun langkah Rin kemudian berhenti.

Seseorang berdiri di dekat bangku taman sekolah.

Ren.

Ia sedang memegang dua benda.

Satu botol minuman.

Satu lagi—

Rin langsung mengenalinya.

Es krim matcha.

Rin berkedip.

“Aniki?”

Ren mengangkat tangan.

“Di sini.”

Rin berjalan mendekat.

“Kamu belum pulang?”

“Belum.”

Ren mengangkat es krim yang ada di tangannya.

“Aku punya sesuatu.”

Rin melihat benda itu.

Kemudian menatap Ren.

“Matcha?”

“Matcha.”

“Kamu beli di mana?”

“Konbini depan sekolah.”

Ren tersenyum.

“Buat kamu.”

Rin terdiam.

Ia menyukai es krim matcha sejak SMP.

Bukan sekadar makanan favorit.

Dulu setiap kali lelah belajar, ia sering membeli es krim rasa itu. Rasanya pahit sedikit, manis sedikit, dan dingin. Anehnya, kombinasi tersebut selalu berhasil membuat pikirannya lebih tenang.

Ren masih mengingatnya.

Tentu saja Ren masih mengingatnya.

Rin hendak mengambil es krim itu.

Namun Ren mengangkatnya sedikit lebih tinggi.

“Sebentar.”

“Apa?”

Ren justru mendekatkan bungkus es krim yang masih dingin itu ke pipi Rin.

“Ah!”

Rin tersentak.

Benda dingin itu menempel pada pipinya yang memang sedang hangat.

Rin langsung menatap Ren dengan mata membesar.

“Aniki!”

Ren tertawa.

“Panas banget.”

Rin refleks menyentuh pipinya sendiri.

“Karena tadi presentasi!”

“Makanya aku dinginkan.”

“Pakai tanganmu saja kalau mau!”

Ren tertawa lebih keras.

“Tidak praktis.”

Rin menghela napas.

“Dasar…”

Ren akhirnya menyerahkan es krim itu.

“Nih.”

Rin mengambilnya.

Ia berjalan ke bangku taman.

Ren duduk di sampingnya.

Taman sekolah sore itu relatif sepi. Pepohonan di sekeliling bangku bergerak pelan tertiup angin. Beberapa siswa masih berjalan melintasi halaman, tetapi tidak banyak yang memperhatikan mereka.

Rin membuka bungkus es krim.

Ia mencicipinya sedikit.

“Enak.”

Ren menatapnya.

“Memang kesukaanmu.”

Rin mengangguk.

“Sudah lama tidak makan.”

“Dari SMP juga?”

“Ya.”

“Kebiasaanmu susah berubah.”

“Tidak semua hal harus berubah.”

Ren tersenyum.

“Benar.”

Rin makan lagi.

Beberapa detik mereka hanya duduk.

Lalu Ren berkata,

“Presentasimu bagus.”

Rin tetap melihat es krim.

“Terima kasih.”

“Tadi pembukaanmu jelas.”

Rin mengangguk kecil.

“Hmm.”

“Penjelasanmu juga enak didengar.”

Rin menyendok es krim sedikit.

“Terima kasih.”

“Bagian demonstrasi kedua paling bagus.”

Rin mulai merasa tidak nyaman.

Ia tahu Ren akan lanjut.

“Kenapa?”

Ren menatapnya.

“Karena kamu tidak panik waktu input-nya berbeda dari simulasi.”

Rin mengangkat alis.

“Kamu memperhatikan sampai situ?”

“Ya.”

“Padahal kamu bilang tidak terlalu mengerti.”

“Aku mungkin tidak ngerti semua teknisnya.”

Ren menunjuk kepalanya sendiri.

“Tapi aku bisa lihat kamu tahu apa yang sedang kamu lakukan.”

Rin terdiam.

Ren melanjutkan.

“Dan itu keren.”

Rin menelan es krim terlalu cepat.

“…”

Ia mengambil air.

Ren menatapnya.

“Kamu kenapa?”

“Tidak apa-apa.”

“Wajahmu merah.”

“Cuaca panas.”

“Barusan kamu bilang karena presentasi.”

Rin memalingkan wajah.

“Tidak perlu dibahas.”

Ren tertawa kecil.

Namun ia tidak berhenti.

Lihat selengkapnya