Pukul 18.30 malam.
Kedai ramen kecil di ujung kompleks hampir selalu ramai ketika jam makan malam tiba.
Tempatnya tidak besar. Hanya beberapa meja kayu panjang, kursi sederhana, dan meja konter yang menghadap dapur terbuka. Uap panas dari mangkuk ramen memenuhi udara, bercampur dengan aroma kaldu, kecap asin, minyak wijen, dan bawang putih yang ditumis.
Di luar, lampu jalan mulai menyala satu per satu.
Jalan kompleks masih dipenuhi orang yang baru pulang kerja, anak-anak sekolah yang mampir membeli makan malam, dan beberapa penghuni apartemen sekitar yang datang untuk makan cepat sebelum pulang.
Ren duduk di satu sisi meja.
Rin berada di depannya.
Ai-Mouto duduk di samping Ren.
Tiga mangkuk ramen baru saja disajikan.
Ren mengambil sumpit.
“Akhirnya.”
Ia meniup sedikit kuah yang masih panas.
“Besok aku mau makan yang ini lagi.”
Rin menatap mangkuknya.
“Baru juga mulai.”
“Justru karena enak.”
Ai-Mouto mengamati mangkuk ramen.
“Temperatur masih terlalu tinggi untuk konsumsi langsung.”
Ren mengangkat alis.
“Kamu selalu memperingatkan.”
“Karena Onii-chan beberapa kali membakar lidah.”
“Itu kejadian lama.”
“Data menunjukkan dua belas kali.”
Ren menatapnya.
“Kenapa kamu masih menyimpan itu?”
“Karena itu informasi yang relevan terhadap keselamatan.”
Rin tertawa kecil.
“Layak.”
Ren memandangnya.
“Kamu malah mendukung?”
“Memang salah?”
“Tidak.”
Ren kembali pada ramen.
Rin mulai makan perlahan.
Malam itu seharusnya sederhana.
Mereka hanya ingin makan di luar.
Tidak ada pembicaraan tentang laboratorium.
Tidak ada ujian.
Tidak ada presentasi.
Tidak ada pekerjaan rumah.
Bahkan Rin terlihat jauh lebih santai daripada beberapa hari sebelumnya.
Ia sesekali menanggapi candaan Ren.
Sesekali mengomentari rasa kuah.
Dan sesekali mengambil potongan topping tambahan dari mangkuk Ren tanpa meminta izin.
Ren tidak protes.
“Ambil saja sekalian.”
Rin mengangkat alis.
“Kamu rela?”
“Daripada kamu mencurinya diam-diam.”
“Aku tidak mencuri.”
“Ya.”
Ren menyeruput kuah.
“Kamu cuma mengambil tanpa izin.”
“Bedanya?”
“Tidak ada.”
Ai-Mouto tersenyum kecil melihat keduanya.
Malam terasa normal.
Terlalu normal.
Sampai ponsel Rin yang diletakkan di sisi mangkuk tiba-tiba bergetar.
Bzzz.
Rin tidak langsung memperhatikan.
Ponselnya bergetar sekali lagi.
Bzzz.
Layar menyala.
Cahaya putih kecil menerangi meja.
Ren masih fokus pada ramen.
Ai-Mouto yang duduk paling dekat dengan ponsel otomatis mengarahkan pandangan.
Notifikasi muncul di layar kunci.
Subjeknya hanya terlihat sebagian.
Namun cukup jelas.
[Wien_Tech] Status Document Verification - Approved
Wajah Rin langsung berubah.
Sumpit di tangannya berhenti di udara.
Matanya membesar.
Seolah-olah seluruh suara di kedai tiba-tiba menjadi jauh.
“…”
Satu detik.
Dua.
Kemudian Rin menyambar ponselnya secepat kilat.
Tangannya hampir menjatuhkan sumpit.
Ia membalikkan layar ke arah tubuhnya.
Gerakannya begitu cepat sampai Ren akhirnya menyadarinya.
“Hm?”
Rin memasukkan ponsel ke bawah meja.
Ren menatapnya.
“Kenapa?”
“Tidak.”
“Ponselmu?”
“Biasa.”
Rin menjawab terlalu cepat.
Ren mengangkat alis.
Ai-Mouto menatap Rin.
“Notifikasi baru diterima.”
Rin langsung menoleh.
“Jangan baca.”
Ai-Mouto berhenti.
“Baik.”
Ren menatap mereka berdua.
“Ada apa?”
“Tidak ada.”
Rin menyendok ramen.
Gerakannya sedikit terlalu cepat.
Ren memperhatikan.
“Tadi siapa?”
“Siapa apa?”
“Yang kirim pesan.”
“Bukan pesan.”
“Tapi tadi ada notifikasi.”