Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #43

Cemburu Pada Kenangan Sendiri

Pukul 20.00 malam.

Ruang tengah rumah keluarga itu kembali dipenuhi cahaya hangat dari lampu utama dan layar televisi yang sebenarnya tidak sedang menampilkan apa pun.

Ren duduk santai di sofa sambil menggulir ponsel. Salah satu kakinya selonjoran di atas karpet, sementara di meja rendah terdapat mangkuk camilan yang tinggal separuh.

Rin duduk di sisi lain sofa dengan laptop terbuka.

Ia sebenarnya sedang mengerjakan sesuatu.

Setidaknya, itulah yang ingin ia percayai.

Matanya sudah beberapa kali berpindah dari layar laptop ke televisi, kemudian kembali ke laptop. Jari-jarinya mengetik beberapa baris, berhenti, menghapus, lalu mengetik lagi.

Ai-Mouto sedang berdiri di dekat rak buku.

Ia baru selesai menyusun beberapa barang ketika tiba-tiba berhenti.

“Ren.”

“Hm?”

“Saya menemukan data video lama yang mungkin relevan dengan arsip keluarga.”

Rin yang mendengar itu langsung mengangkat kepala.

“Video?”

Ai-Mouto mengangguk.

“Benar.”

“Video apa?” tanya Ren.

Ai-Mouto menatapnya.

“Rekaman dua tahun lalu.”

Ren langsung tertarik.

“Dua tahun?”

“Ya.”

Rin menutup laptopnya.

“Tidak perlu diputar.”

Ai-Mouto menoleh.

“Kenapa?”

“Karena tidak perlu.”

Ren tertawa kecil.

“Sekarang malah jadi penasaran.”

Rin langsung melirik.

“Aniki.”

“Apa?”

“Tidak ada apa-apa di situ.”

“Kalau tidak ada apa-apa, kenapa kamu langsung melarang?”

Rin terdiam.

Ai-Mouto masih berdiri di tempat.

Kemudian berkata dengan nada yang sama sekali tidak merasa bersalah,

“Rekaman berisi interaksi keluarga dengan nilai historis cukup tinggi.”

Rin menatapnya.

“Ai.”

“Ya?”

“Jangan.”

Ai-Mouto memiringkan kepala.

“Perintah dicatat.”

Ren tersenyum.

“Bagus.”

Rin mendengus.

“Aku tidak bilang bagus.”

Ai-Mouto berjalan ke tengah ruangan.

Kemudian mengangkat satu tangan.

“Apakah saya diperbolehkan menampilkan?”

Rin langsung berdiri.

“Tidak!”

Namun Ren sudah tertawa.

“Ya, putar saja.”

“Aniki!”

Rin bergerak cepat ke arah Ai-Mouto.

Terlambat.

Telapak tangan Ai-Mouto mengeluarkan cahaya kecil.

Bukan sekadar cahaya.

Pola Micro-LED terbentuk di permukaannya.

Kemudian sebuah gambar muncul di dinding ruang tengah.

Ren otomatis menoleh.

Rin membeku.

“…”

Gambar pertama masih buram.

Suara berdesis dari rekaman lama terdengar dari sistem audio internal Ai-Mouto.

Kemudian gambar menjadi jelas.

Dan wajah Rin langsung kehilangan warna.

Di dinding terlihat sebuah kamar yang tidak terlalu besar.

Tanggal rekaman tampak di sudut.

Dua Tahun Lalu.

Ren mengerutkan dahi.

“Eh?”

Ia mendekat sedikit.

“Ini…”

Rin menutup wajah dengan kedua tangan.

“Matikan.”

Ai-Mouto memiringkan kepala.

“Belum selesai.”

“Matikan!”

“Tetapi data belum—”

“Matikan!”

Ren sudah mulai tertawa.

“Apa-apaan ini?”

Video berlanjut.

Rin yang ada di dalam rekaman tampak berbeda.

Lebih muda.

Usianya baru empat belas tahun.

Rambutnya lebih panjang.

Wajahnya masih sangat kekanakan.

Dan ekspresinya—

panik.

Ia berdiri di samping tempat tidur Ren yang terbaring dengan wajah merah karena demam.

Sebuah mangkuk bubur ada di tangannya.

Sendok bergetar.

Suara Rin muda terdengar.

“Kak, buka mulut.”

Ren di masa lalu tampaknya setengah sadar.

Ia membuka mulut.

Rin menyuapkan bubur.

Namun begitu beberapa sendok masuk, ekspresi panik itu kembali.

“Kak?”

Tidak ada respons.

Rin menempelkan tangannya ke dahi Ren.

Pupil matanya melebar.

“Panas…”

Rekaman berguncang sedikit, mungkin karena kamera yang dipasang terburu-buru.

Rin empat belas tahun bergerak ke sana-kemari.

Mengambil handuk.

Mengganti air.

Memeriksa termometer.

Kemudian kembali duduk.

Air matanya sudah terlihat.

Ren di sofa terkekeh.

“Serius?”

Rin langsung menoleh tajam.

“Jangan ketawa!”

Ren tertawa lebih keras.

“Ini kamu?”

“Bukan.”

“Wajahnya sama persis!”

“Manipulasi.”

Ai-Mouto menjawab polos,

“Rekaman asli.”

Rin langsung menunjuk.

“Kamu jangan ikut-ikutan.”

Di dinding, video terus berjalan.

Rin muda tampak semakin panik.

“Kakak…”

Ia menggoyang bahu Ren pelan.

“Kak.”

Ren tetap tidak sadar sepenuhnya.

Rin menahan napas.

Kemudian suaranya bergetar.

“Jangan mati, Kakak Bodoh!”

Ren terdiam sepersekian detik.

Kemudian—

ia meledak tertawa.

“HAHAHAHA!”

Rin langsung menutupi wajah.

“Sudah!”

Ren memegang perutnya.

“‘Jangan mati, Kakak Bodoh!’?”

“Berhenti!”

“Kenapa dramatis sekali?!”

“Aku waktu itu panik!”

Lihat selengkapnya