Pukul 11.00 siang.
Hari Minggu datang dengan cara yang jauh lebih tenang daripada hari-hari sekolah.
Tidak ada alarm.
Tidak ada suara langkah terburu-buru di tangga.
Tidak ada Ren yang mengeluh karena terlambat bangun, dan tidak ada Rin yang sibuk mengejar jadwal eksperimen sebelum waktu makan siang.
Pagi itu, untuk beberapa jam, rumah mereka terasa seperti benar-benar sedang berlibur.
Setelah sarapan, Ren tiba-tiba mengusulkan piknik.
“Cuacanya bagus.”
Rin yang sedang membaca laporan penelitian hanya mengangkat mata.
“Terus?”
“Ke taman.”
“Kenapa?”
“Karena hari Minggu.”
“Itu bukan alasan.”
Ren menatap Ai-Mouto.
“Apa piknik merupakan kegiatan yang baik untuk akhir pekan?”
Ai-Mouto memproses.
“Berdasarkan data aktivitas luar ruangan, paparan udara segar dan lingkungan hijau dapat memberikan manfaat terhadap relaksasi dan interaksi keluarga.”
Ren mengangkat kedua tangan.
“Nah. Ai setuju.”
Rin mendengus.
“Dia cuma mengulang data.”
“Yang penting mendukungku.”
Rin kembali ke buku.
“Aku ikut kalau tidak lama.”
Ren tersenyum.
“Deal.”
Sekitar satu jam kemudian, mereka bertiga berjalan menuju taman kota yang berada tidak terlalu jauh dari rumah.
Taman itu memang sering mereka lewati, tetapi jarang benar-benar didatangi bersama.
Pepohonan besar tumbuh di beberapa sisi taman, menciptakan area teduh yang cukup luas. Beberapa keluarga lain juga sudah datang. Ada anak-anak yang berlari di jalur setapak, pasangan lansia yang duduk di bangku, dan beberapa orang yang sekadar berjalan santai.
Ren membawa tas.
Rin membawa buku penelitian.
Ai-Mouto membawa perlengkapan piknik.
Di antara semuanya, yang paling menonjol justru gulungan tikar piknik tua berwarna merah dengan pola kotak-kotak.
Rin mengenalinya.
“Tikar ini masih disimpan?”
Ren mengangguk.
“Di lemari bawah.”
“Sudah lama sekali.”
“Dari dulu.”
Rin menyentuh bagian pinggirnya.
“Punya keluarga.”
“Ya.”
Mereka akhirnya menemukan tempat kosong di bawah pohon besar yang rindang.
Tanahnya cukup rata.
Anginnya sejuk.
Tidak terlalu ramai.
Ren menunjuk.
“Di sini.”
Ai-Mouto langsung membuka tas.
Ia membentangkan tikar merah kotak-kotak di atas rumput dengan sangat rapi, memastikan setiap sudut menempel rata pada tanah.
Tidak ada lipatan.
Tidak ada bagian yang menggulung.
Ren memandangnya.
“Kamu bahkan serius soal tikar.”
“Posisi tikar yang rata akan meningkatkan kenyamanan.”
Rin duduk di salah satu sisi.
“Tidak heran.”
Ai-Mouto kemudian mengeluarkan kotak makanan.
Sandwich.
Potongan buah.
Beberapa kudapan ringan.
Semuanya tertata sedemikian rapi hingga terlihat seperti hidangan yang sengaja dibuat untuk difoto.
Ren mengangkat satu sandwich.
“Boleh ambil?”
“Silakan.”
Ren menggigit.
“Enak.”
Ai-Mouto mengangguk puas.
“Baik.”
Rin membuka bukunya.
“Jangan habiskan semuanya.”
“Aku cuma makan satu.”
“Biasanya satu jadi empat.”
Ren tertawa.
“Aku tumbuh.”
“Tidak kelihatan.”
Rin mulai membaca.
Ren menyandarkan tubuhnya di atas tikar.
Udara benar-benar nyaman.
Matahari tidak terlalu terik karena tertutup daun-daun besar. Angin sesekali bergerak melewati pepohonan dan membawa aroma rumput serta tanah yang sedikit kering.
Ren akhirnya meletakkan kepalanya di atas lengan.
Ia memejamkan mata.
“Wah…”
Rin melirik.
“Apa?”
“Enak.”
“Apa yang enak?”
“Begini.”
Ren menarik napas panjang.
“Tidak ada sekolah. Tidak ada tugas. Tidak ada alarm.”
Rin tersenyum tipis.
“Kamu memang malas.”
“Justru karena aku pintar memilih kapan harus malas.”
Rin kembali membaca.
“Alasan.”
Ren sudah tidak menjawab.
Beberapa menit berlalu.
Rin membalik halaman.
Tidak ada suara selain angin dan beberapa percakapan orang di kejauhan.
Kemudian Rin melirik lagi.
Ren masih berbaring.
Mata tertutup.
Wajahnya terlihat jauh lebih tenang daripada biasanya.
Tidak ada ekspresi jahil.
Tidak ada senyum.
Rahangnya sedikit rileks.
Rambutnya bergerak tipis tertiup angin.
Rin berhenti membaca.
Matanya tetap pada halaman, tetapi pikirannya sudah tidak berada di sana.
Ia menoleh lagi.