Pukul 21.30 malam.
Laboratorium Rin selalu terasa berbeda pada malam hari.
Lampu utama tidak dinyalakan seluruhnya. Hanya beberapa panel LED di sepanjang meja kerja yang menyala, menghasilkan cahaya putih kebiruan di antara tumpukan komponen elektronik, kabel tipis, obeng presisi, dan layar monitor yang menampilkan baris-baris kode.
Suara kipas server terdengar konstan.
Dengung rendah itu bercampur dengan bunyi elektronik kecil dari berbagai perangkat yang tetap aktif meskipun sebagian besar sistem rumah sudah berada dalam mode malam.
Ren berdiri di tengah ruangan.
Di depannya, Ai-Mouto duduk di kursi kerja Rin dalam keadaan diam.
Sementara Rin berada di belakang meja utama, membuka sebuah panel diagnostik.
“Jangan bergerak dulu,” katanya kepada Ai-Mouto.
“Dipahami.”
Ai-Mouto duduk tegak.
Rambutnya jatuh rapi di bahu.
Wajahnya tenang seperti biasa.
Ren memperhatikan beberapa indikator yang muncul di layar.
“Apa yang sedang kamu lakukan?”
“Pemeriksaan keamanan,” jawab Rin singkat.
“Keamanan?”
“Ya.”
Rin menekan beberapa tombol.
Sebuah diagram struktur tubuh Ai-Mouto muncul di monitor.
Lapisan epidermis sintetis.
Serat sensorik.
Sistem aktuator.
Modul daya.
Pusat prosesor.
Jaringan penyimpanan memori.
Ren mendekat.
“Aku belum pernah lihat tampilan ini.”
“Karena ini bukan antarmuka pengguna.”
Rin memperbesar bagian belakang leher Ai-Mouto.
Di layar terlihat sebuah panel kecil tersembunyi di balik lapisan Bio-Silicone.
Ren mengernyit.
“Apa itu?”
Rin tidak langsung menjawab.
Ia berdiri dari kursinya.
“Lihat sendiri.”
Ia berjalan mendekat ke Ai-Mouto.
Dengan hati-hati, Rin menyibakkan sedikit rambut Ai-Mouto dari tengkuk.
Di balik lapisan kulit sintetis yang tampak hampir tidak berbeda dari kulit manusia, terdapat sebuah area kecil berwarna transparan.
Seperti segel silikon.
Rin menyentuhnya.
“Di sini.”
Ren mencondongkan tubuh.
“Tidak kelihatan seperti tombol.”
“Memang tidak seharusnya terlihat.”
Rin menjelaskan,
“Ini adalah akses manual darurat. Terlindungi segel silikon transparan supaya tidak tertekan secara tidak sengaja.”
“Untuk apa?”
Rin menatapnya.
“Factory Reset.”
Ren diam.
Suasana laboratorium seakan berubah.
Dengung server masih terdengar.
Monitor masih menyala.
Namun perhatian Ren sekarang hanya tertuju pada bagian kecil di belakang leher Ai-Mouto.
“Reset?”
Rin mengangguk.
“Kalau sistem mengalami kerusakan serius, akses ini memungkinkan pengguna mengembalikan seluruh arsitektur perangkat ke kondisi pabrik.”
Ren masih belum sepenuhnya memahami.
“Berarti seperti… mengulang sistem?”
“Lebih dari itu.”
Rin kembali ke meja.
“Reset penuh.”
Ia mengetuk layar.
Sebuah daftar muncul.
Factory Reset Protocol
Core System: Restore
Behavioral Layer: Restore
User-Sync Database: Purge
Historical Memory: Purge
Ren langsung membaca baris terakhir.
“Historical Memory.”
Rin diam.
Ren menoleh.
“Kenapa ada Purge?”
Rin menjawab tenang.
“Karena factory reset berarti menghapus data yang tidak termasuk dalam sistem dasar.”
Ren memandang Ai-Mouto.
“Termasuk semua memorinya?”
“Termasuk data yang disinkronkan,” jawab Rin.
Ren tidak menjawab.
Ia memandang wajah Ai-Mouto.
Android itu masih duduk tenang.
Tidak terlihat takut.
Tidak terlihat khawatir.
Seolah pembicaraan tentang kehilangan seluruh pengalaman hidupnya hanyalah prosedur teknis biasa.
Ren menatap Rin.
“Kamu bisa benar-benar menghapus semuanya?”
Rin mengangkat bahu.
“Bisa.”
“Semua?”
“Semua.”
Rin kemudian menambahkan sesuatu yang membuat Ren semakin tidak nyaman.
“Kalau dia terlalu merepotkan, kita bisa meresetnya kapan saja.”
Kalimat itu terdengar dingin.
Terlalu dingin.
Ren mengerutkan kening.
“Apa maksudmu?”
Rin kembali melihat monitor.
“Dia sekarang sudah menyimpan terlalu banyak data.”
“Data?”
“Kebiasaan rumah. Percakapan. Preferensi. Respons emosional. Pola interaksi. Semua itu terus bertambah.”
Rin menekan sebuah menu.
Grafik kapasitas memori muncul.
“Secara teknis, tidak ada masalah dengan kapasitas. Tetapi kalau suatu hari terjadi kerusakan atau konflik sistem, reset selalu menjadi opsi paling bersih.”
Ren menatap layar.
“Paling bersih?”
“Ya.”
“Dengan menghapus semua yang sudah dia alami?”
Rin menatapnya.
“Itu hanya data.”
Ren terdiam.
Rin berdiri di depan meja.
Ekspresinya datar.
Seperti sedang menjelaskan fungsi sebuah komponen.
“Factory reset mengembalikan perangkat ke kondisi awal.”
“Dan setelah itu?”
“Dia masih bisa aktif.”
“Masih menjadi Ai-Mouto?”
Rin berpikir sebentar.
“Secara struktur, ya.”
“Kepribadiannya?”
“Harus dibentuk ulang.”
“Kenangan tentang rumah ini?”
Rin tidak menjawab.
Ren sudah tahu jawabannya.
“Dihapus?”
Rin mengangguk.
Ren menarik napas panjang.
Ia kembali melihat Ai-Mouto.
Ai-Mouto akhirnya menoleh.
“Onii-chan.”