Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #47

Bintik Merah dan Pengecekan Epidermis

Pukul 16.30 sore.

Cahaya matahari mulai condong ketika Rin berada di laboratorium lantai dua dengan pintu tertutup setengah.

Sore itu seharusnya tidak ada pekerjaan khusus.

Ai-Mouto baru saja menyelesaikan rutinitas rumah.

Ren bahkan sempat berniat mengajaknya keluar membeli minuman.

Namun rencana itu berhenti ketika Ai-Mouto tiba-tiba berdiri diam di dekat meja kerja.

“Rin.”

“Hm?”

“Terjadi perubahan pada permukaan epidermis.”

Rin yang sedang membaca laporan langsung menoleh.

“Apa?”

Ai-Mouto mengangkat lengan kirinya.

Di bagian kulit sintetis dekat siku terlihat beberapa bintik merah kecil.

Rin langsung bangkit.

“Sejak kapan?”

“Enam menit tiga puluh dua detik yang lalu.”

“Kenapa baru bilang?”

“Sebelumnya saya menganggap perubahan belum mencapai batas intervensi.”

Rin mendekat.

Ia memeriksa lengan Ai-Mouto dengan mata telanjang.

Kemudian mengambil scanner optik dari meja.

Cahaya tipis menyapu permukaan Bio-Silicone.

Rin mengernyit.

“Reaksi permukaan.”

Ren yang baru masuk membawa dua botol minuman berhenti di pintu.

“Ada apa?”

“Jangan taruh di situ.”

Ren melihat arah tatapan Rin.

“Kenapa?”

“Detergen.”

“Hah?”

Rin menggeser hasil scan ke monitor.

Di layar tampak pola perubahan warna pada permukaan kulit sintetis.

“Residu kimia dari deterjen.”

Ren menatap lengan Ai-Mouto.

“Parah?”

“Tidak.”

Rin memperbesar gambar.

“Masih ringan. Lapisan epidermisnya yang bereaksi.”

Ren terlihat sedikit lega.

“Bisa diperbaiki?”

Rin menatapnya seperti pertanyaan itu terlalu sederhana.

“Tentu.”

Ia langsung membuka lemari penyimpanan.

“Masalahnya bukan bisa atau tidak. Masalahnya harus dilakukan dengan benar.”

Rin mengeluarkan satu botol cairan kecil berlabel putih.

Kemudian sebuah wadah transparan berisi material silikon berwarna pucat.

Ren mendekat.

“Ini apa?”

“Cairan kalibrasi pelembab.”

“Pelembab?”

“Untuk menjaga elastisitas Bio-Silicone.”

Rin meletakkan semuanya di meja.

“Setiap tiga bulan harus dikalibrasi ulang. Kalau lapisan terlalu kering, respons sensoriknya berubah. Kalau terlalu lembap, permukaannya bisa mengalami perubahan konduktivitas.”

Ren mengangguk.

“Kompleks.”

“Memang.”

Rin kemudian menyiapkan lampu sorot kecil.

“Aniki.”

“Hm?”

“Pegang ini.”

Ren menerima lampu.

“Ke mana?”

“Ke lengannya.”

Rin menunjuk Ai-Mouto.

“Pastikan cahayanya tetap di sini.”

Ren menyalakan lampu sorot.

Cahaya putih terang jatuh tepat pada lengan Ai-Mouto.

Rin memakai sarung tangan tipis.

Wajahnya berubah.

Tidak ada lagi ekspresi santai yang biasa terlihat di ruang makan.

Tidak ada senyum.

Tidak ada nada kesal.

Ia menjadi sangat serius.

Rin mengambil alat pemindai kecil, lalu membersihkan area kemerahan dengan cairan khusus.

Gerakannya sangat hati-hati.

Perlahan.

Terukur.

Ren memperhatikan.

Ia sudah sering melihat Rin bekerja.

Namun setiap kali berada di laboratorium, adiknya selalu terlihat seperti orang yang berbeda.

Bukan Rin yang mudah tersinggung.

Bukan Rin yang akan berebut remote TV.

Bukan Rin yang memerah setiap kali dipuji.

Di depan meja kerja, ia hanyalah seorang teknisi yang sangat fokus pada sesuatu yang ia anggap penting.

“Aniki.”

“Hm?”

“Jangan gerakkan lampunya.”

“Aku diam.”

“Sedikit ke kanan.”

Ren menggeser.

“Begini?”

“Sedikit lagi.”

Ren menggeser lagi.

“Sekarang?”

“Ya.”

Rin memeriksa permukaan kulit sintetis dengan alat pembesar.

“Ada beberapa titik yang harus diganti.”

Ai-Mouto tetap diam.

“Apakah terasa sakit?” tanya Ren.

“Tidak seperti jaringan biologis.”

Ai-Mouto menjawab tenang.

“Namun terdapat perubahan temperatur permukaan sebesar 0,6 derajat.”

Rin langsung berkata,

“Itu karena respons sensorik.”

Ren mengangguk.

“Jadi tetap tidak nyaman?”

Ai-Mouto berpikir sejenak.

“Dapat dikategorikan sebagai ketidaknyamanan ringan.”

Rin tidak mengatakan apa-apa.

Ia justru mengambil gel medis.

“Ini bagian yang penting.”

Ren memperhatikan.

“Gel?”

“Lapisan penenang dan pelembab sementara.”

Rin mengoleskan gel sangat tipis di area yang memerah.

Lihat selengkapnya