Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #48

Nasihat Cinta dari Android

Pukul 20.00 malam.

Malam itu, dapur rumah terasa lebih tenang daripada biasanya.

Lampu utama tidak terlalu terang. Hanya beberapa lampu di bawah kabinet yang menyala, memberikan warna hangat pada meja makan. Dari luar, suara kendaraan sesekali terdengar melewati jalan kompleks, lalu menghilang di antara pepohonan yang tumbuh di sekitar rumah.

Ren duduk sendirian di meja makan.

Di depannya ada cangkir berisi air hangat.

Ia baru saja selesai makan malam, tetapi belum berniat naik ke kamar. Entah karena malas atau karena suasana dapur terasa nyaman, ia memilih duduk beberapa menit lebih lama.

Ai-Mouto berada di seberangnya.

Ia baru saja selesai membereskan meja.

Piring-piring sudah dicuci.

Peralatan makan sudah kembali ke tempatnya.

Lantai dapur bersih.

Seperti biasa.

Ren mengangkat cangkir.

“Kadang aku pikir kamu terlalu rajin.”

Ai-Mouto tersenyum.

“Menjaga kondisi rumah merupakan fungsi utama saya.”

“Bukan itu maksudku.”

Ren menyeruput air hangat.

“Kamu bahkan merapikan barang yang sebenarnya belum berantakan.”

“Barang yang belum berantakan dapat disusun lebih optimal.”

Ren tertawa kecil.

“Jawaban yang sangat kamu banget.”

Ai-Mouto duduk.

Malam itu tidak ada pekerjaan lain.

Tidak ada jadwal.

Tidak ada masalah.

Setidaknya, sampai Ai-Mouto membuka percakapan yang sama sekali tidak diperkirakan Ren.

“Onii-chan.”

“Hm?”

Ai-Mouto memiringkan kepala.

“Boleh saya mengajukan pertanyaan?”

Ren mengangguk.

“Boleh.”

“Pertanyaan ini berkaitan dengan pola hubungan keluarga.”

Ren berhenti minum.

“Pola hubungan keluarga?”

“Ya.”

Ai-Mouto menatap Ren dengan ekspresi serius.

“Sudah saya analisis selama beberapa waktu.”

Ren mengangkat alis.

“Analisis apa?”

“Hubungan antara Onii-chan dan Master Rin.”

Ren langsung meletakkan cangkir.

“Oh.”

Ai-Mouto melanjutkan.

“Data komunikasi menunjukkan tingkat kelekatan emosional yang tinggi.”

Ren menggaruk pipinya.

“Ya, kami kakak-adik.”

“Benar.”

Ai-Mouto mengangguk.

“Namun terdapat beberapa pola yang menurut database saya termasuk kategori hubungan dengan intensitas tinggi.”

Ren mengernyit.

“Database apa?”

“Database karakteristik hubungan keluarga, persahabatan, serta pola komunikasi dalam novel komedi romantis.”

Ren membeku.

“Apa?”

Ai-Mouto melanjutkan seolah tidak terjadi apa-apa.

“Saya membandingkan beberapa parameter.”

“Jangan bilang kamu membaca novel aneh.”

“Sebagian besar memiliki klasifikasi komedi romantis.”

Ren menutup wajah dengan satu tangan.

“Kenapa kamu punya database begitu?”

“Untuk memahami perilaku sosial manusia.”

Ren menghela napas.

“Baiklah.”

Ai-Mouto menatapnya lagi.

Kemudian mengajukan pertanyaan yang membuat seluruh tubuh Ren menegang.

“Apakah tingkat kelekatan Onii-chan pada saya atau Master Rin tergolong siscon?”

Air.

Itu adalah hal pertama yang memenuhi mulut Ren saat mendengar pertanyaan tersebut.

Dan sayangnya, pada detik yang sama ia sedang minum.

“HNG—!”

Ren langsung tersedak.

Air hangat yang baru saja diminumnya membuatnya batuk keras.

“Batuk! Batuk—khh!”

Ai-Mouto segera berdiri.

“Onii-chan?”

Ren menepuk dadanya.

“Batuk—jangan—jangan tanya begitu!”

“Saya hanya memerlukan klasifikasi.”

“Tidak perlu klasifikasi!”

Ren mengambil napas dengan susah payah.

Wajahnya memerah.

“Batuk… batuk…”

Ai-Mouto segera mengambil segelas air lain.

“Apakah Onii-chan mengalami gangguan pada saluran pernapasan?”

“Tidak.”

“Apakah pertanyaan saya menyebabkan distress?”

“Jelas!”

Ai-Mouto mengangguk.

“Dipahami.”

Di balik dinding yang memisahkan dapur dan lorong, Rin berdiri membeku.

Ia sebenarnya baru saja hendak masuk ke dapur.

Langkahnya berhenti tepat saat mendengar suara Ai-Mouto.

Kemudian pertanyaan itu.

Siscon?

Rin membulatkan mata.

“…”

Jantungnya berdetak lebih cepat.

Ia bahkan tidak tahu kenapa dirinya tidak langsung masuk.

Ia bisa saja berjalan melewati tembok itu, masuk ke dapur, lalu menegur Ai-Mouto karena bertanya sesuatu yang aneh.

Namun kakinya tidak bergerak.

Entah karena penasaran.

Atau karena ia ingin mendengar jawaban Ren.

Rin menahan napas.

Di dapur, Ren masih berusaha memulihkan diri.

Ia mengambil tisu.

“Aku tidak menyangka kamu akan bertanya begitu.”

Ai-Mouto duduk lagi.

“Pertanyaan diajukan berdasarkan data.”

“Data macam apa?”

“Data pengamatan.”

Ai-Mouto menatap layar kecil di pergelangan tangannya.

“Misalnya, Onii-chan sering memperhatikan keadaan Master Rin.”

Ren diam.

“Selain itu, Onii-chan beberapa kali mengingat detail kecil terkait preferensi Master Rin.”

Ren mulai merasa tidak nyaman.

“Misalnya?”

“Minuman yang disukai. Makanan penenang. Kebiasaan ketika tidak bisa tidur. Respons ketika dipuji.”

Ren memejamkan mata.

“Stop.”

Ai-Mouto tetap tenang.

Lihat selengkapnya