Dua hari sebelum ulang tahun Ren, rumah keluarga itu mulai terasa aneh.
Bukan aneh karena ada sesuatu yang rusak.
Bukan pula karena laboratorium Rin mengeluarkan bunyi-bunyi mekanis yang tidak biasa.
Justru sebaliknya.
Rumah terlalu tenang.
Setidaknya di lantai bawah.
Ren duduk sendirian di ruang tengah dengan televisi yang menyala tanpa benar-benar ia perhatikan. Acara sore berjalan begitu saja, berganti dari berita singkat ke iklan lalu ke program hiburan yang suaranya terdengar samar di dalam ruangan.
Di atas meja ada semangkuk keripik yang sudah terbuka sejak hampir setengah jam lalu.
Ren mengambil satu.
Mengunyah.
Kemudian menatap ke arah tangga.
Tidak ada siapa-siapa.
Ia mengambil satu lagi.
Menatap tangga.
Masih tidak ada.
“…”
Ren menyandarkan tubuhnya ke sofa.
Sudah beberapa hari terakhir ada sesuatu yang berbeda di rumah.
Rin dan Ai-Mouto sering menghilang ke lantai atas bersama-sama.
Pintu kamar Rin hampir selalu tertutup.
Kadang-kadang bahkan terkunci.
Dan yang lebih mencurigakan, setiap kali Ren lewat di dekat tangga, ia sering mendengar suara kedua orang itu sedang berbicara dengan volume yang sengaja diturunkan.
Pelan sekali.
“Jangan terlalu dekat…”
“Dipahami.”
“Jangan sampai dia dengar.”
“Volume percakapan telah diturunkan.”
Ren mengangkat alis.
Lalu suara itu mendadak berhenti.
Setiap kali.
Ren sudah mencoba menganggapnya kebetulan.
Namun kebetulan yang terjadi berkali-kali biasanya bukan kebetulan lagi.
“Ini apaan, sih…”
Ia mengambil ponsel dan membuka kalender.
Tanggal hari ini tertera jelas.
Dua hari lagi.
Ia mengingatnya.
Ulang tahunnya yang ke-18.
Tidak ada sesuatu yang istimewa menurut Ren.
Delapan belas tahun bukan usia yang baginya terasa sangat berbeda. Ia tetap akan sekolah. Tetap akan sarapan. Tetap akan bertengkar dengan Rin karena hal-hal kecil. Tetap akan melihat Ai-Mouto merapikan rumah seolah-olah debu sekecil apa pun merupakan musuh umat manusia.
Namun karena ulang tahun adalah ulang tahun, ia sempat berharap minimal ada satu orang yang mengingat.
Ren memandang tangga lagi.
“Aku rasa mereka ingat.”
Ia tersenyum kecil.
Lalu menggeleng.
“Harusnya.”
Namun beberapa menit kemudian, ia kembali merasa ragu.
Karena tepat ketika ia hendak mengambil keripik lagi, terdengar langkah kaki dari lantai atas.
Dua pasang langkah.
Ren langsung menoleh.
Rin turun terlebih dahulu.
Di tangannya ada sesuatu yang tertutup kain.
Begitu melihat Ren, langkahnya berhenti.
Ren menatap kain itu.
Rin menatap Ren.
Keduanya diam.
Kemudian Rin memutar tubuh.
“Naik lagi.”
“Hah?”
“Aku lupa sesuatu.”
Ia kembali naik tangga.
Ai-Mouto muncul sesaat kemudian.
Ia menatap Ren.
“Selamat sore, Onii-chan.”
“Kenapa kalian turun cuma buat naik lagi?”
Ai-Mouto menjawab dengan wajah tenang.
“Ada keperluan.”
“Keperluan apa?”
“Keperluan pribadi Master Rin.”
Ren mengernyit.
“Rahasia?”
“Benar.”
“Sekarang kamu juga merahasiakan sesuatu dariku?”
“Ya.”
Ren menatapnya.
Ai-Mouto menambahkan,
“Mohon tidak mengikuti.”
Kemudian ia menyusul Rin ke atas.
Ren hanya bisa melihat punggung mereka menghilang di balik tikungan tangga.
“…”
Ia menyandarkan kepala ke sofa.
“Serius?”
Sekitar satu jam kemudian, Ren akhirnya tidak tahan.
Ia bangkit.
“Kalau mereka memang sedang bikin sesuatu, aku cuma mau lihat sebentar.”
Ia berjalan pelan menuju lantai dua.
Langkahnya sengaja diperlambat.
Tidak ingin terlihat seperti sedang mengintip.
Atau setidaknya tidak ingin ketahuan sedang mengintip.
Begitu hampir mencapai ujung tangga, ia mendengar suara.
Suara Rin.
“Pegangnya dari sini…”
Kemudian suara Ai-Mouto.
“Sudah.”
“Jangan tarik terlalu keras.”
“Dipahami.”
Ren berhenti.
Ada bunyi kecil seperti benda logam bersentuhan.
Tik.
Kemudian suara Rin lagi.
“Bagian ini belum selesai.”
“Apakah ukurannya sudah tepat?”
“Belum. Kurangi sedikit.”
Ren mengerutkan kening.
Apa yang sedang mereka kerjakan?
Ia mendekati pintu kamar Rin.
Pintunya tidak sepenuhnya rapat.
Ada celah kecil.
Ren menunduk sedikit.
Belum sempat melihat apa pun, Rin tiba-tiba berkata dari dalam,
“Siapa?”
Ren membeku.
“…”
Ia membuka mulut.
“Tidak ada.”
Pintu langsung terbuka sedikit.
Wajah Rin muncul.
Matanya menyipit.
“Kamu?”
Ren tersenyum canggung.
“Cuma lewat.”
“Lewat ke kamar?”
“Ini lorong.”
“Lorongmu kok berhenti tepat di depan pintuku?”
Ren menunjuk ke bawah.
“Karena tangganya di sini.”
Rin menatapnya beberapa detik.
Kemudian langsung—
Klik.
Lampu kamar padam.
Ren terkejut.
“Hah?”
Dari dalam kamar terdengar suara Rin.
“DILARANG MASUK!”
Ren mundur setengah langkah.
“Kenapa teriak?”
“Karena kamu mencurigakan!”
“Aku cuma mau lihat!”
“Tidak boleh!”
“Cuma sebentar!”
“Tidak!”
Ren menatap pintu gelap di depannya.
“Kenapa lampunya dimatikan?”
“Karena…”
Rin terdengar berpikir cepat.
“Karena aku sedang… sedang melakukan eksperimen sensitif cahaya!”
Ren mengangkat alis.
“Eksperimen sensitif cahaya?”
“Ya!”
“Di kamar?”
“Ya!”
“Jam segini?”
“Ya!”