Pukul 23.58 malam.
Rumah keluarga itu sudah lama tenggelam dalam suasana sunyi.
Lampu di lantai bawah masih menyala, tetapi hanya satu. Lampu kecil di ruang tengah yang sengaja dibiarkan Ren karena ia belum mengantuk sepenuhnya. Televisi menyala tanpa suara, menampilkan layar menu yang tidak bergerak.
Ren duduk sendirian di sofa.
Ponselnya berada di tangan.
Ia membuka kalender.
Tanggal hari itu sebentar lagi berganti.
Ia menatap angka yang tertera di layar.
23.58.
Dua menit lagi.
Ren tersenyum kecil.
“Delapan belas.”
Ia mengusap rambutnya sendiri.
Tidak terasa.
Rasanya baru kemarin ia sibuk memikirkan ujian masuk SMA. Kemarin lagi, ia masih berlari-lari di rumah karena Rin marah akibat sebuah robot mainan yang dibongkarnya sendiri.
Sekarang ia akan berusia delapan belas tahun.
Entah harus merasa dewasa atau tidak.
Ren memandang ke arah tangga.
Tidak ada suara.
Sejak beberapa hari terakhir, Rin dan Ai-Mouto memang bersikap aneh.
Terlalu sibuk.
Terlalu banyak berbisik.
Terlalu sering mengunci diri.
Dan Ren sempat berpikir mereka mungkin benar-benar melupakan ulang tahunnya.
Awalnya ia sedikit sedih.
Namun akhirnya ia mencoba menerima.
Tidak apa-apa.
Ulang tahun bukan sesuatu yang wajib dirayakan.
Ia masih punya rumah.
Masih punya keluarga.
Masih punya Rin yang, walaupun menjengkelkan, selalu ada di dekatnya.
Dan sekarang ada Ai-Mouto juga.
Itu sudah cukup.
Ren menghela napas.
Ia mematikan layar ponselnya.
“Sebentar lagi…”
Ia melihat jam dinding.
23.59.
Ren tersenyum.
“Ternyata benar-benar berganti.”
Ia menggeser tubuh sedikit lebih nyaman di sofa.
Kemudian—
Klik.
Lampu ruang tengah padam.
Ren mengangkat kepala.
“Hah?”
Televisi juga mati.
Seluruh rumah tenggelam dalam gelap.
“Apa-apaan?”
Ia melihat sekeliling.
Tidak ada suara mesin rumah pintar.
Tidak ada cahaya dari dapur.
Hanya cahaya samar dari luar melalui jendela.
Ren bangkit dari sofa.
“Listrik mati?”
Namun kemudian terdengar langkah kaki dari arah dapur.
Pelan.
Dua orang.
Ren berhenti.
“Rin?”
Tidak ada jawaban.
Kemudian satu cahaya kecil muncul.
Bukan lampu biasa.
Cahaya itu berasal dari telapak tangan Ai-Mouto.
Luminance Mode.
Cahaya lembut tersebut bergerak di dalam gelap.
Ren mulai melihat siluet dua sosok.
Ai-Mouto berjalan lebih dulu.
Rin berada di belakangnya.
Dan di antara mereka ada sesuatu yang dibawa dengan kedua tangan.
Ren mengerutkan dahi.
Kemudian sosok itu bergerak lebih dekat.
Ia melihat meja kecil.
Kue.
Sebuah kue cokelat.
Dan di atasnya menyala dua lilin berbentuk angka.
18.
Ren membeku.
“…”
Rin berhenti beberapa langkah di depannya.
Ai-Mouto berdiri di samping.
Keduanya tersenyum.
“Selamat malam, Onii-chan.”
Suara Ai-Mouto terdengar jauh lebih lembut daripada biasanya.
Kemudian modul suaranya mulai memainkan melodi.
Nada pertama keluar begitu jernih.
Lalu suara Ai-Mouto menyusul.
“Happy birthday to you…”
Ren tidak berkata apa-apa.
Ia hanya menatap.
Rin memegang sisi kue dengan hati-hati.
Cahaya lilin menimbulkan bayangan kecil di wajahnya.
Ai-Mouto melanjutkan lagu.
Suaranya merdu.
Tidak terlalu tinggi.
Tidak terlalu rendah.
Jernih dan hangat.
Ren masih berdiri.
Tidak bergerak.
Ia baru menyadari sesuatu.
Kue itu bukan hasil pembelian dari toko.
Ia tahu dari bentuknya.
Sedikit tidak rata.
Lapisan cokelatnya tidak sempurna.
Ada bagian krim yang lebih tebal di satu sisi.
Namun justru karena itu, Ren bisa melihat bahwa seseorang membuatnya sendiri.
Rin.
Beberapa hari terakhir.
Diam-diam.
Tangannya mulai mengepal.
Ada rasa sesak kecil di dadanya.
Bukan sedih.
Bukan juga bahagia yang sederhana.
Sesuatu yang jauh lebih penuh.
Ai-Mouto menyelesaikan lagu.
Kemudian menundukkan kepala kecil.
“Selamat ulang tahun ke-18, Onii-chan.”
Rin menatap Ren.
“…”
Ren masih belum bicara.
Ai-Mouto memiringkan kepala.
“Apakah terdapat masalah?”
Rin langsung melirik.
“Diam dulu.”
Ren akhirnya tertawa kecil.
Suara itu terdengar sedikit serak.
“Tidak.”
Ia mengusap sudut matanya tanpa sadar.
“Tidak ada masalah.”
Rin melihat gerakan itu.
Ekspresinya berubah sedikit.
“Kenapa…”
Ren menggeleng.
“Bukan apa-apa.”
Ia berjalan mendekat.
“Beneran kalian bikin semua ini?”
Rin memalingkan wajah.
“Kalau tidak, siapa?”
Ren tersenyum.
“Kamu?”
“Jangan banyak tanya.”
Ren menatap kue.
“Ini buatan tangan?”
“Ya.”
“Sendiri?”
Rin mengangguk kecil.
“Sebagian.”
Ren menoleh ke Ai-Mouto.
Ai-Mouto menjawab jujur,
“Master Rin melakukan proses pembuatan utama.”
Rin langsung menatap tajam.
“Tidak perlu dijelaskan sedetail itu.”
Ren tertawa kecil.
“Berarti memang kamu.”
“Ya.”
Rin menghela napas.
“Kuenya mungkin tidak sempurna.”
Ren langsung menggeleng.
“Bagus.”
“Belum kamu coba.”
“Bukan itu.”
Ren menatap lilin.
“Bagus karena kamu membuatnya.”
Rin diam.
Ren duduk di sofa.
Ai-Mouto membawa kue ke meja.