Pukul 00.40 dini hari.
Rumah akhirnya kembali tenang.
Sisa pesta ulang tahun sederhana itu masih terlihat di ruang tengah. Piring-piring kecil dengan remah kue cokelat tersusun di atas meja. Gelas yang tadi dipakai untuk minum sudah dipindahkan ke dapur. Beberapa potongan kertas pembungkus hadiah masih berada di sudut ruangan, sementara aroma kakao dan cokelat dari kue buatan Rin masih samar-samar tertinggal di udara.
Ai-Mouto sudah membereskan sebagian besar meja.
Rin sendiri baru saja mematikan lampu ruang tengah ketika melihat Ren berjalan menuju tangga.
“Ke mana?”
Ren menoleh.
“Ke atas.”
“Tidur?”
“Mungkin.”
Ren menepuk-nepuk syal biru tua yang masih melingkari lehernya.
Rin memperhatikannya.
“Kamu masih pakai?”
Ren mengangkat alis.
“Kenapa tidak?”
“Sudah malam.”
“Memangnya kenapa?”
“Cuacanya tidak dingin.”
Ren menyentuh rajutan itu lagi.
“Aku tahu.”
“Terus?”
Ren tersenyum.
“Karena ini hadiahmu.”
Rin terdiam.
Ada jeda pendek.
Kemudian ia memalingkan wajah.
“Kalau begitu jangan dipakai sambil tidur. Nanti kusut.”
Ren tertawa.
“Baik.”
Rin hendak masuk ke kamar.
Namun ketika tangannya hampir menyentuh gagang pintu, Ren memanggil.
“Rin.”
“Hm?”
“Duduk sebentar.”
Rin menoleh.
Ren menunjuk teras lantai dua.
“Di luar.”
Rin melihat ke arah sana.
Pintu kaca menuju teras masih terbuka sedikit. Udara malam masuk melalui celahnya, membawa hawa sejuk yang menyenangkan setelah ruang rumah terasa hangat sejak pesta kecil mereka dimulai.
Rin ragu sebentar.
Kemudian mengangguk.
“Ya.”
Mereka berjalan menuju teras.
Teras lantai dua itu tidak terlalu luas. Hanya ada bangku kayu sederhana dan beberapa pot tanaman yang diletakkan di sepanjang pagar.
Dari sana, jalan kompleks terlihat cukup jelas.
Lampu jalan masih menyala.
Beberapa rumah tetangga sudah gelap.
Sebagian besar jendela tertutup.
Dan di atas semuanya, bulan purnama menggantung tinggi di langit.
Cahayanya jatuh langsung ke teras.
Ren duduk lebih dulu.
Rin duduk di sampingnya.
Jarak mereka tidak terlalu jauh.
Tidak terlalu dekat.
Cukup untuk membuat bahu mereka sesekali hampir bersentuhan ketika tertiup angin.
Beberapa detik mereka hanya diam.
Tidak ada suara televisi.
Tidak ada bunyi alat dapur.
Tidak ada suara server dari laboratorium.
Hanya suara angin malam dan sesekali suara kendaraan yang melintas jauh di luar kompleks.
Ren menatap langit.
“Tenang banget.”
Rin mengangguk.
“Mm.”
Ren mengangkat tangan dan menyentuh syal biru tua di lehernya.
Rajutannya sedikit kasar di beberapa bagian.
Namun justru itu yang membuatnya terasa berbeda dari syal yang dijual di toko.
Ada bekas kesalahan kecil pada pola.
Ada bagian yang sedikit lebih rapat daripada bagian lainnya.
Benang yang digunakan juga tampak tidak sepenuhnya seragam.
Semua itu menjadi bukti bahwa benda ini dibuat oleh tangan manusia.
Tangan Rin.
Ren tersenyum.
“Bagus.”
Rin menoleh.
“Apa?”
“Syalnya.”
“Sudah kubilang, hasilnya tidak sempurna.”
“Aku tidak bilang sempurna.”
“Terus?”
Ren menarik bagian ujung syal sedikit.
“Nyaman.”
Rin memalingkan wajah.
“Bagus.”
“Dan hangat.”
“Memang itu gunanya.”
Ren tersenyum.
“Tapi yang paling aku suka…”
Rin menunggu.
“…dibuat olehmu.”
Rin langsung menurunkan pandangan.
“Jangan mulai.”
“Kenapa?”
“Kalimatmu terlalu…”
Ia mencari kata yang tepat.
“...memalukan.”
Ren tertawa kecil.
“Aku cuma jujur.”
Rin mengembuskan napas.
Kemudian berkata pelan,
“Kalau begitu pakai saja.”
“Memang niat.”
Rin melirik.
“Kamu tahu aku membuatnya berapa lama?”
Ren menggeleng.
“Berapa?”
“Tiga minggu.”
Ren menoleh.
“Tiga minggu?”
“Ya.”
“Serius?”
“Kalau cuma asal jadi, mungkin lebih cepat.”
Rin memainkan ujung lengan bajunya.
“Tapi aku mau rajutannya rapi.”
Ia menunduk.
“Beberapa kali salah pola.”
Ren tersenyum.
“Terus?”
“Dibongkar.”
“Semua?”
“Ya.”
“Berapa kali?”
Rin berpikir.
“Enam.”
Ren bersiul kecil.
“Enam kali?”
“Jangan lebay.”
“Kamu benar-benar keras kepala.”