Pukul 16.30 sore.
Hari hampir beranjak menuju petang ketika teras depan rumah kembali menjadi tempat paling tenang di seluruh rumah.
Ren duduk di kursi kayu dekat pagar teras, satu kaki ditekuk santai sementara kaki lainnya menjulur ke depan. Ponsel berada di tangan kanannya, sedangkan kabel earphone putih turun melewati kerah bajunya.
Dari earphone terdengar musik yang sudah sangat lama tidak ia dengarkan.
Sebuah lagu pop klasik.
Lagu yang dulu sering diputar Ibu mereka ketika sore hari.
Ren tidak lagi terlalu ingat kapan pertama kali mendengarnya. Mungkin ketika mereka masih kecil. Mungkin ketika Rin masih terlalu pendek untuk mencapai rak piring dan akan berdiri di atas kursi hanya untuk membantu Ibu menyiapkan meja makan.
Yang ia ingat hanya suasananya.
Rumah yang lebih ramai.
Dapur yang hangat.
Aroma masakan yang keluar dari pintu.
Dan suara lagu yang sama mengisi ruang di antara percakapan mereka.
Ren memejamkan mata sebentar.
Musiknya tidak terlalu keras.
Cukup untuk membuat suara jalanan di depan rumah terasa jauh.
Beberapa detik kemudian terdengar langkah kaki.
Rin keluar ke teras.
Ia membawa sebuah buku, tetapi tidak langsung membukanya.
“Aniki.”
Ren membuka satu mata.
“Hm?”
“Apa yang kamu dengar?”
Ren menunjuk telinganya.
“Lagu lama.”
Rin mendekat.
“Lagu apa?”
Ren melihat layar ponselnya.
“Pilihan Ibu dulu.”
Rin berhenti.
Tatapannya langsung berubah sedikit.
“Oh.”
Ia duduk di kursi sebelah Ren.
Jarak mereka tidak terlalu jauh.
Dari tempat duduk itu Rin bisa melihat kabel earphone yang bercabang menjadi dua.
Satu sisi berada di telinga kiri Ren.
Sisi lainnya tergantung bebas di dekat bahunya.
Rin memperhatikannya beberapa detik.
Ren menyadarinya.
“Kamu mau dengar?”
Rin langsung mengalihkan pandangan.
“Aku cuma lihat.”
“Ya, tapi kamu lihat lama.”
“Karena penasaran.”
Ren tersenyum.
“Berarti mau.”
Rin menggeleng.
“Aku tidak bilang begitu.”
Ren tidak membalas.
Ia hanya mengambil earphone sebelah kanan.
Kemudian menariknya dari telinga sendiri.
Rin menoleh.
“Apa?”
Ren mengangkat earphone itu.
“Ini.”
Rin menatap kabel putih yang ada di tangan Ren.
“Kamu mau memberikannya?”
“Bukan.”
Ren menyipitkan mata sedikit ketika berusaha memastikan kabelnya tidak kusut. Setelah itu ia mendekatkan earphone ke telinga Rin.
“Pakai.”
Rin membeku.
“Aniki, tunggu…”
Ren menyelipkan earphone itu ke telinga kanannya.
Pelan.
Hati-hati.
Tidak ada gerakan berlebihan.
Namun jarak mereka otomatis menjadi sangat dekat.
Rin bisa mencium aroma sabun dari pakaian Ren.
Ia mendadak menjadi terlalu sadar akan keberadaan kakaknya sendiri.
“Sudah.”
Ren kembali duduk seperti biasa.
Rin menatapnya beberapa detik.
“…”
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Kalau tidak nyaman, lepas.”
Rin menggenggam earphone di telinganya.
“Tidak.”
Musik kembali terdengar.
Kali ini dari dua arah.
Sisi kiri berada di telinga Ren.
Sisi kanan di telinga Rin.
Lagu lama itu mengalun lembut di antara mereka.
Nada pembukanya sederhana.
Suara penyanyi terdengar sedikit tua dibandingkan lagu-lagu yang biasa mereka dengarkan sekarang.
Namun justru itu yang membuat Rin perlahan terdiam.
Ia mengenal melodi tersebut.
Bukan karena sering mendengarnya sendiri.
Melainkan karena lagu itu merupakan bagian dari ingatan rumah mereka.
“Ini…”
Ren mengangguk kecil.
“Iya.”
“Lagu Ibu.”
“Benar.”
Rin tersenyum tipis.
“Aku ingat.”
Ren tidak berkata apa-apa.
Ia hanya membiarkan musik berjalan.
Ai-Mouto keluar dari pintu depan beberapa saat kemudian.
Di tangannya ada nampan kecil.
Dua cangkir teh hangat diletakkan di atasnya.
Ia berhenti ketika melihat Ren dan Rin duduk bersebelahan dengan satu pasang earphone.
“Ada teh,” katanya.
Ren menoleh.
“Taruh saja.”
Ai-Mouto menaruh nampan di meja teras.
Kemudian berdiri beberapa detik.
“Mereka sedang mendengarkan musik bersama.”
Rin langsung berkata,