Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #53

Berkas Terkunci

Pukul 21.00 malam.

Kamar belajar Ren hanya diterangi lampu meja.

Cahaya kekuningan jatuh di atas permukaan meja yang dipenuhi buku pelajaran, beberapa lembar catatan, dan sebuah laptop yang baru saja dinyalakan. Di sudut ruangan, kipas kecil berputar perlahan, mengusir udara hangat yang tersisa setelah seharian rumah tertutup.

Ren duduk bersandar di kursinya sambil menatap layar laptop.

Di sampingnya ada sebuah flashdisk kecil berwarna hitam.

Ia memutar benda itu di antara dua jarinya.

“Rin…”

Ia melirik ke arah pintu.

Tidak ada jawaban.

Adiknya sedang berada di lantai atas, entah di laboratorium atau kamarnya. Belakangan ini keberadaan Rin memang lebih sulit ditebak daripada biasanya.

Ren kembali melihat flashdisk tersebut.

Tadi sore ia meminjamnya dari Rin.

Bukan karena ada sesuatu yang penting.

Ia hanya ingin menyalin beberapa episode drama yang direkomendasikan Rin beberapa hari lalu. Ren memang sering mengejek selera tontonan adiknya, tetapi pada akhirnya ia hampir selalu mencobanya juga.

Rin awalnya tidak langsung memberikan flashdisk itu.

Ia berdiri di depan meja makan sambil menyilangkan tangan.

“Pakai saja.”

“Boleh?”

“Ya.”

“Jangan ada file rahasia di dalamnya.”

Rin langsung menjawab terlalu cepat.

“Tidak ada.”

Ren sempat mengangkat alis.

“Kenapa jawabnya cepat banget?”

“Karena pertanyaanmu bodoh.”

Kemudian Rin menyodorkan flashdisk itu dan pergi.

Sekarang, beberapa jam kemudian, Ren hanya ingin menyelesaikan urusannya.

Ia menancapkan flashdisk ke port laptop.

Sistem langsung mengenalinya.

Ren membuka direktori utama.

Beberapa folder muncul.

Drama_Recommendation

School_Project

Robot_Design

Reference_Data

Dan beberapa file lain dengan nama yang cukup normal.

Ren mengklik folder drama.

Beberapa judul episode muncul.

“Yang ini yang katanya bagus…”

Ia memilih beberapa file untuk disalin ke folder laptop.

Proses pemindahan berjalan perlahan.

Baru sekitar tiga puluh persen, Ren teringat ada satu judul lain yang pernah direkomendasikan Rin.

Ia kembali ke direktori utama.

Matanya bergerak dari satu nama folder ke nama lainnya.

Kemudian berhenti.

Ada satu folder yang tidak terlihat menonjol.

Namanya cukup panjang.

Project_Vienna_Submission_2027

Ren berkedip.

“Hm?”

Tangannya berhenti di atas touchpad.

Vienna?

Ia membaca lagi.

Project_Vienna_Submission_2027

Ren mengerutkan kening.

Ada sesuatu tentang nama itu yang terasa familier.

Ia pernah mendengar kata Vienna sebelumnya.

Dari email.

Dari obrolan yang terputus.

Dari perubahan sikap Rin beberapa minggu terakhir.

Namun ia tidak pernah memperoleh penjelasan yang jelas.

Ren menggerakkan kursor ke folder tersebut.

Ia mengklik.

Jendela baru muncul.

Tidak terbuka.

Sebaliknya, layar menampilkan sebuah kotak dialog.

Encrypted Folder

AES-256

Password Required

Ren mengangkat alis.

“AES-256?”

Ia tidak langsung mencoba memasukkan apa pun.

Ren memang bukan ahli enkripsi seperti Rin. Ia cukup memahami bahwa sistem seperti itu tidak dibuat untuk menyembunyikan daftar film atau catatan pekerjaan rumah.

Ia menatap layar.

“Project Vienna…”

Ia mengucapkannya pelan.

Kemudian mencoba mengingat.

Vienna.

Austria.

Universitas.

Penelitian.

Semua potongan kecil yang selama ini terasa tidak berhubungan mendadak seperti mulai tersusun.

Ren duduk lebih tegak.

“Jangan-jangan…”

Ia tidak menyentuh folder itu lagi.

Namun pandangannya berpindah ke beberapa file di direktori utama.

Sebuah dokumen teks bernama:

Research_Abstract_Final

Sebuah folder kosong dengan nama:

Submission_Materials

Dan satu direktori yang statusnya tersembunyi.

Ren memicingkan mata.

Ia mengaktifkan opsi tampilan file tersembunyi.

Sebuah folder baru muncul.

Vienna_Scholarship_2027

Ren membeku.

Jari yang tadi bergerak santai di touchpad kini berhenti.

“Beasiswa?”

Dadanya terasa sedikit berat.

Ia membuka folder tersebut.

Tidak.

Terkunci juga.

Access Denied.

Encrypted Container.

Ren menatap layar cukup lama.

Ada sensasi asing yang muncul di dalam dirinya.

Lihat selengkapnya