Pukul 13.00 siang.
Rumah keluarga itu sedang berada dalam suasana yang cukup tenang.
Cahaya matahari masuk melalui jendela ruang makan, jatuh di atas meja kayu yang sudah lama menjadi tempat mereka makan bersama. Dari dapur terdengar suara air mengalir sebentar sebelum kembali sunyi. Di luar, angin musim panas menggerakkan daun-daun pohon di halaman, menciptakan bayangan yang bergeser perlahan di lantai.
Ren duduk di salah satu sisi meja.
Di depannya ada sepiring makan siang.
Nasi putih, sup, tumis sayuran, dan lauk sederhana yang baru saja disiapkan Ai-Mouto.
Rin duduk di sisi lain sambil membuka tablet.
Ia tidak benar-benar membaca.
Tatapannya sesekali berpindah ke meja.
Lebih tepatnya kepada Ai-Mouto.
Android itu berdiri di dekat meja makan, memastikan semua hidangan sudah tersaji dengan rapi.
“Teh juga sudah tersedia,” katanya.
Ren mengangguk.
“Terima kasih.”
“Sama-sama, Onii-chan.”
Rin melirik sebentar.
Dulu, pemandangan seperti itu masih terasa aneh.
Sekarang sudah menjadi rutinitas.
Ai-Mouto menyajikan makanan.
Ren mengucapkan terima kasih.
Rin pura-pura tidak memperhatikan.
Hanya saja hari itu ada sesuatu yang berbeda.
Ren baru menyuapkan makanan pertama ke mulut ketika matanya langsung berbinar.
“Wah.”
Ai-Mouto menoleh.
“Apakah terdapat masalah?”
“Bukan.”
Ren mengambil satu suapan lagi.
“Ini enak.”
Rin masih memandang tablet.
Namun telinganya jelas mendengar.
“Bumbunya pas.”
Ai-Mouto tersenyum.
“Resep telah disesuaikan berdasarkan data preferensi Onii-chan.”
Ren tertawa kecil.
“Serius. Kamu makin jago masak.”
Ai-Mouto mengangguk.
“Terima kasih atas evaluasinya.”
Ren menatapnya.
“Bukan evaluasi. Ini pujian.”
Ai-Mouto memproses.
“Pujian…”
Kemudian ia tersenyum seperti biasanya.
“Terima kasih, Onii-chan.”
Ren makan satu suapan lagi.
“Kalau begini, aku jadi malas masak sendiri.”
Rin akhirnya angkat suara.
“Memang dari dulu malas.”
Ren menoleh.
“Tidak perlu ikut komentar.”
“Aku cuma menyatakan fakta.”
“Sudah makan saja.”
Rin mendengus.
Ia mengambil sendok.
Suasana kembali tenang.
Namun beberapa detik kemudian, sesuatu yang aneh terjadi.
Ren berkata,
“Serius, Ai. Ini salah satu yang terbaik yang pernah kamu buat.”
Ai-Mouto berdiri diam.
Mata optiknya berkedip sekali.
Kemudian dua kali.
Sebuah proses singkat berjalan di dalam sistemnya.
Positive Social Feedback Detected.
Behavioral Response Search.
Relevant User Pattern: Rin.
Rin masih sibuk dengan makanannya.
Ren tidak menyadari apa-apa.
Kemudian—
Ai-Mouto perlahan menurunkan pandangan.
Ia memalingkan wajah ke samping.
Dan pipinya berubah warna.
Sangat tipis pada awalnya.
Kemudian semakin jelas.
Merah muda.
Persis seperti Rin ketika mendapat pujian.
Ren berhenti mengunyah.
“…”
Rin juga berhenti.
“…”
Ai-Mouto tidak mengatakan apa-apa.
Ia hanya memalingkan muka lebih jauh sambil memainkan ujung celemeknya dengan kedua tangan.
Gerakan kecil.
Sederhana.
Tetapi terlalu familiar.
Ren perlahan menoleh ke Rin.
Rin menatap Ai-Mouto.
Kemudian menatap Ren.
Lalu kembali menatap Ai-Mouto.
Wajah Rin berubah.
“Apa…”
Suara itu hampir tidak terdengar.
Ai-Mouto tetap memalingkan muka.
Ren berkedip.
“Eh?”
Ia menatap Ai-Mouto.
Kemudian Rin.
Kemudian Ai-Mouto lagi.
“Kenapa kamu begitu?”
Ai-Mouto tidak menjawab.
Pipinya masih merah.
Ren menyipitkan mata.
“Rin.”
“Apa?”
“Dia…”
Ren menunjuk Ai-Mouto.
“Barusan dia…”
Rin langsung tahu.
“Nggak.”
“Hah?”
“Jangan.”
“Belum ngomong apa-apa.”
“Aku tahu kamu mau bilang apa.”
Ren mulai tertawa.
“Tidak mungkin.”
Rin mempersempit mata.
“Jangan.”
Ren menunjuk Ai-Mouto lagi.
“Lihat! Dia benar-benar menirukan sifat gengsimu!”
Rin langsung tersedak nasi.
“Uh—khk!”
Ia membungkuk dan menutup mulut.
Ren buru-buru mendorong gelas air ke arahnya.
“Hei, pelan!”
Rin mengambil gelas dan meneguk cepat.
Ai-Mouto langsung menoleh.
“Apakah Master Rin mengalami gangguan pernapasan?”
“Tidak!”
Rin menjawab terlalu cepat.
Ren tertawa semakin keras.
“Bukan cuma wajahnya! Respons paniknya juga sama!”
“Aniki!”
Rin meletakkan gelas dengan suara sedikit lebih keras.
“Apa?”
“Jangan ketawa!”
“Kenapa? Ini lucu.”
“Tidak lucu!”
“Lihat mukanya.”
“Jangan lihat!”
Rin meraih sendok plastik di meja.
Ren langsung menyadari niatnya.
“Oh, jangan.”
Sendok melayang.
“Eh!”
Ren menunduk.
Plak!
Sendok plastik itu jatuh ke kursi kosong di belakangnya.
“Kenapa selalu lempar barang?”
“Karena kamu menyebalkan!”
Ai-Mouto berdiri diam.
Mata optiknya berpindah antara Ren dan Rin.
Kemudian suatu indikator kecil muncul di sudut penglihatannya.
Behavioral Replication: Active.
Ai-Mouto menatap Rin.
Rin baru saja hendak mengambil sendok lain.
“Master Rin.”
“Apa?”
“Apakah respons tersebut merupakan bentuk komunikasi emosional?”
Rin membeku.
“…”
Ren menahan tawa.
Ai-Mouto melanjutkan,
“Saya sedang mempelajari respons sosial berdasarkan observasi.”
Rin menunjuk dirinya sendiri.
“Jadi kamu meniruku?”
“Benar.”
“Kenapa?”
“Karena pola tersebut berulang.”
Rin membuka mulut.
Menutupnya.
Membukanya lagi.