Pukul 09.00 pagi.
Gudang lantai dua sudah lama menjadi ruangan yang hanya didatangi ketika sesuatu benar-benar diperlukan.
Pintunya jarang dibuka lebar. Begitu gagang pintu diputar, aroma khas kertas tua, kayu, dan kain yang disimpan terlalu lama langsung memenuhi lorong. Cahaya matahari hanya masuk dari satu jendela kecil di sisi ruangan, membentuk garis terang di antara debu yang beterbangan.
Hari itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, mereka bertiga benar-benar membersihkannya.
“Yang itu jangan ditumpuk di dekat jendela.”
Suara Rin terdengar dari tengah gudang.
Ren yang sedang membawa sebuah kardus besar menoleh.
“Kenapa?”
“Kalau hujan, embun bisa masuk dari ventilasi.”
“Ini gudang. Bukan laboratorium.”
“Justru karena gudang, kamu harus lebih hati-hati.”
Ren menghela napas.
“Baik, Bos.”
Rin menatap tajam.
“Jangan panggil aku begitu.”
Ai-Mouto berdiri tidak jauh dari mereka sambil memegang dua kardus sekaligus.
“Saya sudah memisahkan barang berdasarkan kategori.”
Ren menatap tumpukan di sebelahnya.
“Cepat sekali.”
“Efisiensi pemindahan dapat ditingkatkan dengan pengelompokan ukuran.”
Rin mengangguk kecil.
“Bagus.”
Ren mengangkat satu kardus lagi.
“Kalau begini, kita selesai sebelum makan siang.”
“Kalau kamu tidak banyak bicara, mungkin.”
“Kamu selalu punya komentar.”
“Karena kamu selalu memberi alasan.”
Ai-Mouto memandang keduanya bergantian.
“Apakah pertukaran verbal ini termasuk pola komunikasi rutin?”
Ren dan Rin menjawab hampir bersamaan.
“Bukan.”
“Jangan dicatat.”
Ai-Mouto mengangguk.
“Dipahami.”
Mereka kembali bekerja.
Gudang itu ternyata menyimpan jauh lebih banyak barang daripada yang Ren ingat.
Ada tumpukan majalah lama.
Kardus pakaian musim dingin.
Beberapa buku pelajaran dari masa SMP.
Kotak berisi mainan kecil yang sudah rusak.
Satu kipas meja tua yang entah mengapa masih disimpan.
Ada pula beberapa peralatan rumah tangga milik orang tua mereka yang tidak pernah benar-benar dibuang.
Ren mengambil sebuah kardus, lalu meniup bagian atasnya.
Debu langsung beterbangan.
“Uhuk!”
Rin memejamkan mata.
“Jangan ditiup begitu.”
“Aku cuma mau—”
“Kalau debunya beterbangan, nanti masuk ke perangkat.”
Ren menatap meja kecil yang diletakkan Rin di sudut gudang.
Di atasnya terdapat tablet, beberapa alat pengukur, dan scanner portabel.
“Kamu bahkan bawa alat ke sini.”
“Untuk memeriksa barang yang mungkin masih berguna.”
Ren menggeleng.
“Kamu memang tidak bisa hidup tanpa teknologi.”
Rin mendengus.
“Setidaknya aku tidak menyimpan barang rusak hanya karena kenangan.”
Ren terdiam sesaat.
“…”
Ia melihat sebuah kardus kecil di pojok.
“Sepertinya kamu ngomong tentang dirimu sendiri.”
Rin langsung memalingkan wajah.
“Pindahkan saja.”
“Siap.”
Pembersihan berlanjut.
Sekitar setengah jam kemudian, sebagian besar kardus sudah dipindahkan ke lorong. Ruangan mulai tampak lebih luas.
Ren mengambil satu kardus yang agak besar dari rak paling atas.
“Yang ini juga?”
Rin menoleh.
“Ya, bawa ke dekat pintu.”
Ren mengangkatnya.
Kardus itu cukup ringan, tetapi salah satu sisinya terlihat sudah melengkung karena usia.
Ia berjalan beberapa langkah.
Kemudian mendapati sesuatu tersangkut di belakang kardus itu.
Sebuah kotak sepatu.
Ren menariknya dengan satu tangan.
Kardus utama tiba-tiba bergeser.
“Eh—”
Ia berusaha menahan keseimbangan.
Terlambat.
Kardus tersebut terjatuh ke lantai dengan suara keras.
Bruk!
Rin langsung menoleh.
“Aniki!”
“Aku tidak apa-apa.”
Namun kotak sepatu yang tadi diambil Ren ikut terlepas.
Plak.
Tutupnya terbuka.
Sesuatu berjatuhan ke lantai.
Bukan barang.
Kertas.
Belasan lembar kertas kecil berhamburan di atas lantai gudang.
Ren membeku.
Rin juga.
Di salah satu sisi kotak yang terjatuh itu masih terlihat tulisan tangan anak-anak menggunakan spidol warna merah.
HARTA KARUN RIN
Ren menatap tulisan itu.
Kemudian menatap Rin.
Rin langsung berubah ekspresi.
“…”
Ren perlahan tersenyum.
“Rin…”
“Jangan.”
“Aku belum ngomong apa-apa.”
“Sudah kelihatan dari mukamu.”
Ren berjongkok dan mengambil satu lembar kertas.
Tulisan tangannya tidak rapi.
Huruf-hurufnya besar dan miring.
Beberapa bagian tinta sudah memudar.
Ren membaliknya.
Tidak ada nama di bagian luar.
Ia membuka lipatan kecilnya.
Rin melangkah cepat.
“Jangan dibaca.”
Ren berhenti.
“Kenapa?”
“Itu barang pribadi.”
“Aku cuma lihat.”
“Justru jangan lihat.”
Ren menatap surat itu.
Kemudian melihat ekspresi Rin.
Adiknya terlihat jauh lebih panik dibandingkan ketika file rahasia Vienna hampir terbuka.
Bahkan telinganya sudah memerah.
Ren mendadak semakin penasaran.
“Ini penting?”
“Tidak.”
“Kalau tidak penting, kenapa panik?”
“Karena…”
Rin kehilangan kata-kata.
Ren kembali melihat surat di tangannya.
Di bagian atas tertulis dengan tulisan anak-anak:
Untuk Tuhan.
Ren perlahan membuka.
Lalu membaca.
“Tuhan…”
Suaranya berubah lebih pelan.
“...tolong sembuhkan onii-chan.”
Rin langsung membeku.
Ren melanjutkan membaca.
“Rin janji tidak akan nakal lagi.”
Tangannya berhenti.
Ia membaca bagian berikutnya.
“Rin akan belajar rajin.”