Pukul 20.00 malam.
Laboratorium Rin di lantai dua jauh lebih sunyi dibandingkan biasanya.
Hanya suara kipas pendingin server yang terdengar dari sudut ruangan, bercampur dengan dengung listrik dari beberapa perangkat yang sedang aktif. Lampu utama sengaja diredupkan karena Rin tidak menyukai pantulan cahaya berlebihan pada layar pengukuran.
Di tengah meja kerja, sebuah oscilloscope digital presisi tinggi menampilkan dua kanal gelombang suara.
Garis pertama berwarna hijau.
Garis kedua berwarna biru.
Keduanya bergerak naik turun mengikuti suara yang masuk melalui mikrofon.
Rin berdiri di depan perangkat tersebut dengan kedua tangan bertumpu pada meja.
Ren berdiri di sampingnya.
Sementara Ai-Mouto duduk di kursi pemeriksaan dengan sensor-sensor kecil terpasang di sekitar leher dan rahangnya.
“Posisinya sudah benar?”
tanya Ren.
Rin tidak mengalihkan pandangan dari layar.
“Sudah.”
“Sensor itu tidak sakit?”
Ai-Mouto menjawab dengan tenang.
“Tidak terdapat rasa sakit. Hanya tekanan permukaan sebesar 0,03 newton.”
Ren mengangguk.
“Baiklah.”
Rin menekan sebuah tombol pada panel kontrol.
“Mulai.”
Lampu kecil pada sensor menyala.
“Subjek A, Rin.”
Rin mengambil mikrofon kedua.
Ia menarik napas.
Kemudian mengucapkan satu nada sederhana.
“Ah.”
Gelombang hijau bergerak.
Puncaknya naik.
Turun.
Lalu kembali ke titik awal.
Rin mengangguk.
“Sekarang Ai-Mouto.”
Ai-Mouto duduk tegak.
“Dipahami.”
Ia menatap lurus ke depan.
Kemudian menyuarakan nada yang sama.
“Ah.”
Gelombang biru muncul.
Ren mendekat.
Kedua grafik itu sekilas tampak mirip.
Namun ketika diperbesar, terdapat perbedaan kecil pada amplitudo dan fase.
Rin mengetuk panel.
“Belum.”
Ren melihat layar.
“Belum?”
“Masih ada deviasi.”
“Berapa?”
“0,006 persen.”
Ren mengangkat alis.
“Bukankah itu sudah sangat kecil?”
Rin menggeleng.
“Belum cukup.”
“Memangnya targetmu berapa?”
Rin menjawab tanpa ragu.
“Seratus persen.”
Ren menatapnya.
Ia sudah mengetahui bahwa Rin perfeksionis.
Namun setiap kali berada di laboratorium, sifat itu terasa seperti berada di tingkat yang berbeda.
“Baik.”
Rin mengganti beberapa parameter pada layar.
Ia mengubah konfigurasi resonansi.
Menyesuaikan respons membran sintetis.
Memeriksa ulang data impedansi.
Ai-Mouto menunggu dengan tenang.
Ren memperhatikan gerakan Rin.
Tangannya bergerak cepat.
Tidak banyak bicara.
Tidak ada satu pun gerakan yang terlihat sia-sia.
Setelah beberapa menit, Rin berdiri kembali.
“Sekali lagi.”
Ai-Mouto mengangguk.
“Mulai.”
Kali ini Ai-Mouto menyanyikan nada sedikit lebih tinggi.
“Ah—”
Suara itu memenuhi ruangan.
Jernih.
Lembut.
Dan…
sangat familiar.
Ren menoleh.
Sejenak, ia merasa seperti mendengar Rin.
Bukan sekadar mirip.
Benar-benar seperti Rin.
Rin juga menyuarakan nada yang sama.
“Ah—”
Dua suara terdengar hampir bersamaan.
Layar oscilloscope berubah.
Garis hijau dan biru bergerak.
Mereka saling mendekat.
Sedikit lagi.
Sedikit lagi.
Lalu—
keduanya menyatu.
Satu garis.
Sempurna.
Tidak ada celah.
Tidak ada deviasi.
Rin berhenti bernapas sesaat.
Matanya melebar.
Ren juga membeku.
“…”
Layar menunjukkan hasil pengukuran.
Frequency Match: 100.0000%
Rin menatap angka tersebut.
Kemudian menekan tombol perbesar.
Angka tetap sama.
100.0000%
“Berhasil…”
Suaranya hampir seperti bisikan.
Ren menatap layar.
“Seratus persen?”
Rin mengangguk.
“Seratus persen.”
Ren menoleh kepada Ai-Mouto.
“Coba bicara.”
Ai-Mouto menatapnya.
“Apakah Onii-chan ingin saya mengatakan sesuatu?”
Ren diam sejenak.
Suara itu.
Intonasinya.
Bahkan cara ia berhenti sesaat di antara kata-kata.
Ren kembali menatap Rin.
Kemudian Ai-Mouto.
“Rasanya…”
Ia mencari kata yang tepat.
“…seperti mendengar kamu.”
Rin tidak menjawab.
Tangannya masih berada di panel kontrol.
Ren melanjutkan,
“Bukan suara yang mirip.”
Rin akhirnya menoleh.
“Lalu?”
“Suara yang sama.”
Rin menunduk.
Ren melihat sesuatu yang tidak biasa di wajahnya.
Bukan kebanggaan.
Setidaknya bukan hanya itu.
Ada sesuatu yang jauh lebih dalam.
Seperti lega.
Seperti seseorang yang baru saja memastikan sesuatu yang sangat penting tidak akan hilang.