Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #57

Skenario Pura-Pura Lupa

Pagi itu dimulai seperti pagi-pagi lainnya.

Cahaya matahari masuk melalui celah tirai kamar Rin, menyentuh lantai kayu dan ujung meja yang dipenuhi beberapa komponen elektronik. Jam digital di atas rak menunjukkan pukul 06.03.

Alarm berbunyi sekali.

Rin membuka mata.

Ia menatap langit-langit selama beberapa detik.

Lalu mematikan alarm.

Hari ini adalah hari ulang tahunnya.

Tidak ada yang perlu diberi tahu.

Setidaknya, itulah yang ia pikirkan.

Rin duduk di tepi kasur, merapikan rambut dengan tangan, kemudian menatap kalender kecil di meja.

Tanggal itu sudah diberi tanda beberapa minggu lalu.

Ia menatap angka tersebut.

Kemudian mengembuskan napas.

“Ya…”

Suaranya pelan.

“Biasa saja.”

Ia sudah memutuskan sejak beberapa hari lalu.

Tidak ada pengingat.

Tidak ada petunjuk.

Tidak ada ucapan yang sengaja dipancing.

Ia ingin tahu satu hal.

Apakah Ren masih mengingat hari ulang tahunnya tanpa bantuan siapa pun?

Termasuk Ai-Mouto.

Rin sendiri sebenarnya tidak terlalu yakin kenapa ia melakukan ini.

Mungkin hanya penasaran.

Mungkin ingin memastikan bahwa kakaknya masih memperhatikannya.

Atau mungkin karena ada bagian kecil dalam dirinya yang menginginkan sesuatu yang jauh lebih sederhana.

Satu ucapan.

Satu kalimat pendek.

Selamat ulang tahun.

Tidak lebih.

Rin bangkit, berganti pakaian, lalu turun ke lantai bawah.

Aroma teh sudah tercium dari dapur.

Ai-Mouto sedang berdiri di dekat meja makan, menyiapkan sarapan.

Ren sudah duduk.

Ia memegang cangkir kopi.

Ketika mendengar langkah kaki Rin, Ren menoleh.

“Pagi.”

“Pagi.”

Rin menarik kursi.

Duduk.

Ai-Mouto menyajikan teh.

“Selamat pagi, Master Rin.”

“Pagi.”

Tidak ada yang aneh.

Ren membuka ponsel.

Ai-Mouto menyusun sarapan.

Rin duduk.

Ia menunggu.

Mungkin Ren akan tiba-tiba tersenyum.

Mungkin akan berkata sesuatu.

Mungkin akan mengambil sesuatu dari saku.

Namun…

Tidak ada.

“Rotinya.”

Ren mendorong piring ke arah Rin.

“Ambil.”

Rin menatap roti.

“Oke.”

Ia mengambil satu potong.

Tetap menunggu.

Tidak ada.

Ren mulai makan.

Rin menggigit roti.

Oh.

Ia menelan.

Tidak apa-apa.

Mungkin Ren belum sadar tanggal berapa.

Atau mungkin ia memang lupa.

Tidak masalah.

Ia memasukkan selai ke roti.

Wajahnya tetap tenang.

“Rin.”

“Hm?”

“Jam berapa kamu berangkat?”

“Seperti biasa.”

“Pulangnya?”

“Belum tahu.”

Ren mengangguk.

Lalu kembali makan.

Tidak ada ucapan.

Rin menatap cangkir teh di depannya.

Dia lupa.

Ia segera menyalahkan dirinya sendiri.

Ya, memang aku yang mengharapkan terlalu banyak.

Hari itu sebenarnya bukan hari istimewa bagi kebanyakan orang.

Hanya ulang tahun.

Tidak ada alasan bagi Ren untuk mengingat setiap tanggal.

Namun bagi Rin, tanggal itu pernah menjadi sesuatu yang selalu dirayakan bersama.

Dulu, ketika mereka masih kecil, Ibu selalu membuat sesuatu.

Tidak selalu kue besar.

Kadang hanya puding kecil.

Kadang pancake.

Kadang es krim yang dihias terlalu banyak topping.

Ren hampir selalu memberi hadiah dengan cara yang aneh.

Pernah berupa buku.

Pernah berupa gantungan kunci.

Pernah juga sebuah pensil mekanik yang sampai sekarang masih ia simpan di salah satu laci.

Karena itu, Rin tahu.

Seharusnya Ren ingat.

Namun ia juga sadar bahwa sejak beberapa tahun terakhir, hidup mereka berubah.

Ren punya sekolah.

Ia punya urusan sendiri.

Rumah mereka punya Ai-Mouto sekarang.

Rin sendiri semakin sibuk dengan riset.

Mungkin…

tanggal ulang tahunnya tidak lagi berada di tempat yang sama dalam ingatan Ren.

Rin menunduk.

Tidak mengatakan apa-apa.

Ai-Mouto memperhatikan ekspresinya.

Sistem internalnya mendeteksi sedikit penurunan suasana hati.

Namun sebelum ia membuka mulut, Ren menatapnya.

Sekilas.

Sangat singkat.

Kemudian menggeleng.

Ai-Mouto memahami.

Tidak ada ucapan.

Tidak ada bocoran.

Rin tidak tahu bahwa sehari sebelumnya Ren sudah mengatakan padanya:

“Jangan bilang apa-apa sampai sore.”

Ai-Mouto menerima perintah tersebut.

Birthday Surprise Protocol: Confidential.

Sementara Rin benar-benar tidak tahu.

Pagi berjalan.

Lalu siang.

Rin berangkat ke sekolah.

Di kelas, beberapa teman mengucapkan selamat ulang tahun setelah melihat tanggal di daftar kelas.

Ia menjawab biasa.

“Terima kasih.”

Tidak ada senyum besar.

Tidak ada perayaan.

Saat istirahat, seseorang memberikan sepotong cokelat.

Rin menerimanya.

“Terima kasih.”

Namun pikirannya justru kembali ke rumah.

Ren masih belum bilang.

Ia membuka ponsel.

Tidak ada pesan.

Tidak ada notifikasi.

Tidak ada sesuatu yang mencurigakan.

Ia memasukkan ponsel kembali ke saku.

“Tidak apa-apa.”

Ia mengucapkan itu kepada dirinya sendiri.

Namun semakin sering diucapkan, kalimat tersebut justru terdengar semakin tidak meyakinkan.

Sepulang sekolah, Rin berjalan melalui jalan kompleks rumah.

Matahari sudah mulai condong.

Ia melihat rumah mereka dari kejauhan.

Tidak ada dekorasi.

Tidak ada lampu.

Tidak ada sesuatu yang terlihat seperti persiapan pesta.

Rin berhenti di depan genkan.

Ia membuka sepatu.

Masuk.

“Pulang.”

Lihat selengkapnya