Pukul 01.30 dini hari.
Rumah itu sudah tenggelam dalam kesunyian.
Lampu-lampu utama telah dimatikan sejak beberapa jam lalu. Hanya lampu kecil di bawah kabinet dapur yang masih menyala, memantulkan cahaya hangat ke permukaan meja kayu. Dari luar jendela, suara angin malam sesekali terdengar menyapu dedaunan di halaman. Tidak ada kendaraan lewat. Tidak ada suara televisi. Tidak ada bunyi pintu laboratorium dibuka.
Bahkan Ai-Mouto sedang berada dalam mode standby di sudut ruang keluarga, mengisi daya dalam diam.
Ren duduk sendirian di meja dapur.
Di depannya terdapat sebuah cangkir kosong.
Ia sudah memegang cangkir itu selama hampir lima menit tanpa pernah benar-benar berniat meminumnya. Kadang jarinya bergerak sedikit di permukaan gagang. Kadang ia menatap bagian dalam cangkir seolah-olah berharap menemukan jawaban di sana.
Namun yang ada hanya bagian keramik putih yang diterangi lampu redup.
Ren mengembuskan napas.
“Tidak bisa tidur…”
Ia menyandarkan punggung ke kursi.
Sejak malam sebelumnya, pikirannya sulit tenang. Sebenarnya tidak ada alasan jelas untuk merasa gelisah. Ulang tahun Rin baru saja lewat dengan baik. Rumah kembali dipenuhi rutinitas. Sekolah berjalan seperti biasa. Bahkan beberapa hari terakhir terasa cukup damai.
Namun justru itu yang membuatnya aneh.
Perasaan itu datang begitu saja.
Seperti ada sesuatu yang perlahan bergerak menjauh.
Bukan sesuatu yang bisa ia pegang.
Bukan benda yang bisa ia lihat.
Hanya firasat.
Sebuah rasa tidak nyaman yang muncul setiap kali ia mengingat beberapa percakapan terakhir mereka.
Vienna.
Beasiswa.
“Saat aku sedang jauh…”
Ren memejamkan mata.
“Kenapa aku jadi kepikiran itu lagi?”
Ia tertawa kecil pada dirinya sendiri.
“Mungkin cuma kecapekan.”
Namun begitu membuka mata lagi, pikirannya kembali ke hal yang sama.
Ia menatap kursi kosong di seberang meja.
Biasanya Rin akan duduk di sana saat tengah malam seperti ini. Kadang membawa tablet. Kadang membawa buku. Kadang pura-pura hanya lewat untuk mengambil air, lalu akhirnya duduk selama setengah jam.
Malam-malam seperti ini sudah terjadi sejak mereka masih lebih kecil.
Beberapa hal memang berubah.
Tetapi kebiasaan itu tetap tinggal.
Ren menatap kursi tersebut lebih lama.
Kemudian terdengar suara langkah pelan dari tangga.
Ia menoleh.
Rin muncul dari lorong.
Rambutnya sedikit berantakan karena baru bangun. Ia mengenakan pakaian rumah sederhana dengan cardigan tipis. Matanya masih terlihat berat, tetapi begitu melihat Ren duduk sendirian di dapur, langkahnya berhenti.
“Aniki?”
Ren tersenyum kecil.
“Belum tidur?”
“Harusnya aku yang tanya.”
Rin berjalan masuk.
“Aku dengar suara.”
“Maaf kalau berisik.”
“Kau bahkan tidak bicara.”
“Justru itu.”
Rin memandangnya.
Ren mengangkat cangkir kosong di depannya.
“Aku cuma tidak bisa tidur.”
Rin tidak bertanya lebih jauh.
Ia hanya membuka lemari kecil di samping dapur.
Tangannya mengambil sebuah kotak teh.
“Chamomile?”
Ren mengangguk.
“Boleh.”
Rin menyiapkan ketel air.
Ia tidak banyak bicara.
Gerakannya tenang dan teratur, seolah sudah hafal apa yang perlu dilakukan tanpa harus berpikir. Ia mengisi air secukupnya, menyalakan pemanas, kemudian melihat sensor suhu kecil pada bagian samping ketel.
“Delapan puluh lima.”
Ren mengerutkan kening.
“Kenapa harus tepat?”
“Supaya rasanya tidak terlalu pahit.”
“Dan?”
“Efek penenangnya juga lebih sesuai.”
Ren tersenyum tipis.
“Teknis sekali.”
“Kalau mau teh, ya yang benar.”
Rin berdiri menunggu suhu naik.
Ren memperhatikannya dari belakang.
Ada sesuatu yang membuat pemandangan itu terasa familiar.
Sangat familiar.
Gerakan tangan Rin.
Cara ia sedikit memiringkan kepala ketika membaca angka.
Cara ia menggigit bibir bawah ketika memastikan sesuatu.
Semua detail kecil itu telah ia lihat selama bertahun-tahun.
Namun malam itu, semuanya terasa berbeda.
Seperti sebuah kenangan yang sedang berjalan di depannya.
Ketika air mencapai 85°C, Rin menuangkannya perlahan ke dalam cangkir.
Uap tipis naik.
Aroma chamomile segera memenuhi dapur.
Rin membiarkannya beberapa saat, kemudian membawa cangkir itu ke meja.
Ia meletakkannya tepat di depan Ren.
“Minum.”
Ren tersenyum.
“Terima kasih.”
Rin menarik kursi.
Duduk di seberangnya.
Mereka terdiam.
Tidak ada musik.
Tidak ada televisi.
Hanya suara pendingin ruangan dan detak jam kecil di dinding.
Ren mengambil cangkir.
Uap hangat menyentuh wajahnya.
Ia meniup permukaan minuman sedikit sebelum menyesap.
Rasanya lembut.
Tidak terlalu manis.
Tidak terlalu pahit.
Pas.
Seperti sesuatu yang sudah dibuat untuknya.
“Enak.”
Rin mengangguk kecil.
“Bagus.”
Ren kembali meminum.
Lalu berhenti.
Tangannya turun perlahan.
Pandangannya berpindah ke Rin.
Adiknya sedang memegang cangkirnya sendiri.
Tatapan matanya terlihat lelah, tetapi tenang.
Ada sesuatu yang aneh pada wajahnya.
Bukan perubahan besar.
Hanya sedikit lebih lembut.
Mungkin karena suasana malam.
Mungkin karena belum sepenuhnya sadar.
Atau mungkin karena untuk sekali ini mereka tidak sedang bertengkar.
Ren memperhatikannya beberapa detik.
Rin mengangkat mata.
“Kenapa?”
“Tidak apa-apa.”
“Aniki lihat aku terus.”
“Memangnya tidak boleh?”
Rin mendengus kecil.
“Menjijikkan.”
Ren tersenyum.
“Masih sama.”
“Apa?”
“Kalimatmu.”