Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #59

Undangan Simposium Robotika Internasional

Pukul 14.00 siang.

Udara di halaman depan rumah terasa hangat, meskipun angin dari arah jalan kompleks sesekali bergerak melewati pagar rendah yang memisahkan rumah mereka dari trotoar. Matahari musim panas menggantung cukup tinggi di langit. Bayangan pohon di depan rumah jatuh miring di atas paving, membentuk pola daun yang bergerak perlahan setiap kali angin berembus.

Ren baru saja pulang dari convenience store di ujung kompleks ketika suara rem sepeda terdengar di depan rumah.

Tukang pos berhenti tepat di samping kotak surat mereka.

“Siang,” sapa pria itu singkat.

“Siang.”

Ren berjalan mendekat ketika tukang pos sedang menyelipkan beberapa surat ke dalam kotak surat.

Satu koran.

Dua tagihan.

Satu iklan supermarket.

Dan sebuah amplop.

Ren awalnya tidak memperhatikannya.

Namun amplop itu berbeda dari yang lain.

Warnanya krem pucat.

Kertasnya lebih tebal.

Ukurannya sedikit lebih besar daripada surat biasa.

Ren mengambil semuanya dari kotak pos.

Ia mengangguk kepada tukang pos yang kemudian kembali mengayuh sepeda.

Begitu berdiri di bawah terik matahari, Ren memeriksa surat-surat tersebut satu per satu.

“Tagihan…”

Ia memasukkan satu.

“Iklan…”

Satu lagi.

Kemudian matanya berhenti pada amplop krem.

Tidak ada logo perusahaan biasa.

Tidak ada tulisan promosi.

Di sudut kiri atas terdapat cap resmi dengan tulisan:

REPUBLIK ÖSTERREICH

Ren mengernyit.

“Austria?”

Ia membalik amplop.

Ada alamat pengirim.

Tulisan bahasa Inggris tercetak rapi.

Vienna Institute of Technology

Di bawahnya terdapat nama departemen dan alamat institusi di Vienna.

Ren menatapnya beberapa detik.

Jantungnya berdetak sedikit lebih cepat.

Ia tidak tahu kenapa.

Namun sejak beberapa minggu terakhir, nama Vienna seolah terus muncul di berbagai tempat.

Email.

Folder.

Percakapan yang terpotong.

Sekarang surat.

Ren menelan ludah.

Ia kembali melihat bagian depan.

Nama penerima tercetak jelas.

RIN — [nama lengkap Rin]

Ren berhenti.

“Rin?”

Ia memegang amplop itu lebih erat.

“Ini…”

Pikirannya langsung kembali pada percakapan tengah malam beberapa hari lalu.

“Kamu tidak menyembunyikan sesuatu dariku, kan?”

Rin tersenyum.

Menggeleng.

“Tidak ada apa-apa.”

Ren menarik napas.

Kalau memang tidak ada apa-apa, mengapa surat resmi dari Vienna Institute of Technology dikirim ke rumah mereka?

Dan mengapa nama Rin tercetak di sana?

Ia membalik amplop lagi.

Ada satu kalimat yang dicetak tebal di bagian tengah.

Official Acceptance Letter — Robotics Fellow Program

Ren membaca sekali.

Kemudian sekali lagi.

Matanya sedikit membesar.

“Acceptance…?”

Ia tidak menyelesaikan kalimat.

Pintu depan rumah masih tertutup.

Artinya Rin belum tahu.

Ren baru hendak membuka mulut ketika mendengar suara langkah kaki tergesa-gesa dari dalam rumah.

Pintu depan terbuka keras.

“Aniki!”

Ren menoleh.

Rin berdiri di ambang pintu.

Rambutnya sedikit berantakan, seolah ia baru saja bangkit dari meja kerja atau berlari dari lantai atas. Napasnya terdengar tidak teratur.

Namun Ren belum sempat bertanya.

Tatapan Rin langsung jatuh pada amplop di tangannya.

Wajah Rin berubah.

Seketika.

Semua warna di wajahnya seperti menghilang.

“…”

Ren menatapnya.

“Rin?”

Rin tidak menjawab.

Ia justru turun satu anak tangga.

Kemudian satu lagi.

Lalu—

ia berlari.

Tanpa alas kaki.

Papan kayu genkan bahkan tidak sempat menjadi tempatnya berhenti.

“Aniki, kasih ke aku!”

Ren terkejut.

“Eh?”

Rin sudah berada di depannya.

Tangannya langsung meraih amplop itu.

Ren secara refleks mundur setengah langkah.

“Whoa, tunggu—”

Namun Rin berhasil merebutnya.

Ia memeluk amplop tersebut di depan dada.

Jari-jarinya menggenggam begitu kuat sampai bagian kertasnya sedikit berkerut.

Ren menatap kaki Rin.

Ia benar-benar keluar tanpa sandal.

“Rin, kamu—”

Rin tidak menjawab.

Ia hanya menatap surat tersebut.

Mata yang biasanya penuh keyakinan saat membahas robotika kini terlihat berbeda.

Tegang.

Cemas.

Takut.

Ren perlahan kehilangan ekspresi santainya.

“Apa maksud surat dari Vienna ini, Rin?”

Rin membeku.

Ia menundukkan kepala.

Tidak berani menatap mata kakaknya.

Ren berdiri diam.

Angin berembus lagi.

Ujung rambut Rin bergerak sedikit.

Namun Rin tidak bergerak.

“Rin.”

Tidak ada jawaban.

“Surat itu tentang apa?”

Rin menggigit bibir.

Tangannya semakin erat menggenggam amplop.

“Aku…”

Suara itu keluar sangat pelan.

Ren menunggu.

“Aku belum…”

Ia terdiam lagi.

Ren menarik napas.

“Belum apa?”

Rin menutup mata sejenak.

Kemudian membuka lagi.

Tetap tidak mengangkat wajah.

“Belum waktunya.”

Ren menatapnya lama.

“Apa maksudmu belum waktunya?”

Rin tidak menjawab.

Ia hanya memeluk surat tersebut lebih erat.

Ren bisa membaca dengan jelas kepanikan yang tidak pernah ia lihat sebelumnya.

Bukan kepanikan karena program rusak.

Bukan panik karena eksperimen gagal.

Bukan juga rasa malu ketika Ren menemukan sesuatu yang aneh di laboratorium.

Ini berbeda.

Ini seperti seseorang yang tiba-tiba kehilangan kemampuan untuk menyusun kalimat.

“Rin.”

Ren melangkah mendekat.

“Lihat aku.”

Rin tetap menunduk.

“Tidak mau.”

Suara itu nyaris seperti gumaman.

“Kenapa?”

“Karena…”

Lihat selengkapnya