Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #60

Berkas di Dalam Laci Terkunci

Pukul 22.00.

Rumah itu terasa jauh lebih sunyi daripada biasanya.

Suara air mengalir terdengar dari lantai dua, berasal dari kamar mandi di dalam kamar Rin. Sesekali terdengar bunyi botol sabun diletakkan di rak, lalu suara pancuran kembali menenggelamkan seluruh rumah ke dalam dengung yang monoton.

Ren berdiri di ujung koridor lantai dua sambil memegang sebuah kunci kecil.

Kunci laboratorium Rin.

Ia baru saja mengambilnya dari meja ruang tamu. Tadi sore Rin sempat terburu-buru turun untuk makan dan lupa membawa kunci itu, lalu meminta Ren menyimpannya sebentar.

Sekarang Ren berniat mengembalikannya.

Tidak lebih.

Seharusnya hanya itu.

Ia berhenti di depan kamar Rin.

Pintunya tidak tertutup sempurna.

Ren mengetuk kusennya dua kali.

“Rin?”

Tidak ada jawaban.

Suara pancuran dari kamar mandi terdengar jelas.

“Rin, aku masuk sebentar, ya. Mau balikin kuncimu.”

Tetap tidak ada jawaban.

Ren membuka pintu perlahan.

Kamar Rin tampak seperti biasa.

Meja belajarnya dipenuhi tablet, beberapa jurnal teknis, kabel tipis, dan alat tulis. Rak di sebelah jendela dipenuhi buku. Lampu meja masih menyala, menerangi permukaan meja dengan cahaya putih yang terfokus.

Di atas tempat tidur terdapat cardigan yang tadi dipakai Rin.

Ren melangkah masuk.

“Taruh di mana, ya…”

Ia melihat meja kerja.

Kunci laboratorium itu biasa diletakkan di dalam laci kecil bagian bawah.

Ren mendekat.

Ketika tangannya menyentuh gagang laci, ia berhenti.

Laci itu tidak terkunci rapat.

Hanya tertutup sebagian.

Ada sedikit celah.

Cukup untuk memperlihatkan sudut sebuah amplop cokelat besar di dalamnya.

Ren mengerutkan kening.

“Hmm?”

Ia tidak langsung membuka.

Sebenarnya ia sudah berkali-kali belajar untuk menghormati ruang pribadi Rin.

Sejak menemukan file-file rahasianya, sejak mendengar percakapan tentang Vienna, sejak surat resmi dari Austria tiba di rumah, Ren sadar bahwa mungkin ada banyak hal yang belum siap diceritakan adiknya.

Namun malam ini berbeda.

Laci itu terbuka.

Bukan dikunci.

Ren hanya bermaksud mengambil kunci laboratorium yang memang menjadi barang miliknya untuk dikembalikan.

Ia menarik laci perlahan.

Amplop cokelat itu bergeser sedikit.

Di bawahnya terlihat beberapa dokumen.

Ren terdiam.

Hanya beberapa detik.

Kemudian matanya menangkap satu kata yang tercetak besar di bagian atas sebuah berkas.

VIENNA

Jantungnya berdetak sekali.

Keras.

Ren menelan ludah.

“…”

Suara air dari kamar mandi masih terdengar.

Rin masih mandi.

Ren seharusnya menutup laci.

Membawa kuncinya.

Keluar.

Itu pilihan yang paling mudah.

Namun tangannya justru bergerak ke arah amplop.

Ia menariknya perlahan.

Amplop tersebut tebal.

Bukan sekadar dokumen sekolah biasa.

Ren membukanya.

Isi pertama yang keluar adalah sebuah lembar itinerary penerbangan.

Logo maskapai tercetak jelas di bagian atas.

Austrian Airlines

Ren menatap detailnya.

Nama penumpang.

Nama Rin.

Bandara keberangkatan.

Narita International Airport.

Tujuan.

Vienna International Airport.

Tanggal keberangkatan.

Tiga bulan dari sekarang.

Ren membeku.

Tangannya terasa dingin.

Ia membaca sekali lagi.

Kemudian sekali lagi.

Mungkin salah.

Mungkin tanggalnya berbeda.

Mungkin hanya simulasi perjalanan untuk kebutuhan administrasi.

Namun di bawah detail penerbangan tertulis jelas:

One Way

Ren mengernyit.

“Satu arah…?”

Suaranya hampir tidak terdengar.

Ia membalik dokumen berikutnya.

Berkas persetujuan program beasiswa.

Logo institusi yang sudah beberapa kali ia lihat kini ada tepat di depannya.

Vienna Institute of Technology

Full Scholarship Approval

Duration: Four Academic Years

Ren tidak bergerak.

Ada sesuatu di dalam dadanya yang seolah jatuh dari tempatnya.

Empat tahun.

Beasiswa penuh.

Vienna.

Satu arah.

Tiga bulan.

Semua kata itu tersusun dalam kepalanya.

Kemudian terhubung dengan semua hal yang selama ini ia coba abaikan.

Project_Vienna_Submission_2027.

Wien_Tech.

Robotics Fellow Program.

“Tetaplah memakai syal itu meski nanti aku sedang jauh…”

Dan Ai-Mouto.

Ren menatap tiket di tangannya.

Tiba-tiba ia teringat hari pertama android itu muncul.

Sosok yang memiliki wajah Rin.

Suara Rin.

Kebiasaan Rin.

Cara memperhatikan Ren seperti Rin.

Semuanya terasa berbeda sekarang.

Sebuah kesimpulan yang selama ini hanya berdiri samar di belakang pikirannya tiba-tiba menjadi sangat jelas.

Ren duduk perlahan di tepi tempat tidur Rin.

Lihat selengkapnya