Pukul 22.15 malam.
Kamar Rin masih dipenuhi cahaya putih dari lampu meja kerja. Cahaya itu jatuh tepat di atas permukaan meja yang berantakan oleh jurnal, kabel, komponen elektronik, serta beberapa catatan tangan yang selama ini hanya dipahami oleh pemiliknya sendiri.
Namun malam itu, tidak satu pun benda tersebut menarik perhatian siapa pun.
Ren masih berdiri di dekat meja.
Di tangannya ada berkas penerimaan Vienna Institute of Technology.
Lembar persetujuan beasiswa empat tahun.
Tiket pesawat satu arah.
Tanggal keberangkatan tiga bulan dari sekarang.
Semua fakta itu kini berada tepat di depan matanya, terlalu nyata untuk diabaikan dan terlalu menyakitkan untuk dipahami dengan tenang.
Rin berdiri di ambang pintu.
Rambutnya masih sedikit lembap setelah mandi. Handuk yang tadi berada di kepalanya sudah terlepas dan dibiarkan menggantung di bahunya. Kedua tangannya terkepal di depan tubuh, sementara wajahnya basah oleh air mata yang bahkan belum sempat ia usap.
Untuk beberapa detik, tidak ada yang berbicara.
Hanya suara pendingin ruangan yang berputar.
Kemudian Ren mengangkat berkas itu sedikit.
“Jelaskan.”
Suaranya bergetar.
Rin menelan ludah.
“Aniki…”
“Jelaskan, Rin.”
Nada Ren tidak keras.
Justru itu yang membuatnya terasa lebih berat.
Tidak ada teriakan. Tidak ada kemarahan yang meledak. Hanya suara seseorang yang sedang berusaha sangat keras mempertahankan dirinya agar tidak runtuh.
Rin menundukkan kepala.
“Aku…”
“Kapan kamu mulai merencanakan semuanya?”
Rin diam.
“Sejak tahun lalu?”
Tidak ada jawaban.
Ren tertawa pendek, pahit.
“Ya. Sepertinya benar.”
Ia mengangkat lembar beasiswa itu.
“Ini bukan aplikasi iseng.”
Tangannya bergetar lebih kuat.
“Ini sudah disetujui.”
Rin mengangguk kecil.
“Ya.”
“Empat tahun.”
“Ya.”
“Dan penerbangannya tiga bulan lagi.”
Rin kembali mengangguk.
Ren memejamkan mata.
“Jadi semua ini benar.”
Rin menggigit bibir bawah.
Ren membuka mata lagi.
“Kenapa?”
Rin terdiam.
“Kenapa kamu tidak bilang dari awal?”
“Aku…”
“Kenapa?”
Suara Ren sedikit meninggi.
Rin tersentak.
“Aku belum siap.”
“Belum siap?”
Ren menggeleng perlahan.
“Kalau itu alasannya, kenapa kamu menyiapkan semuanya diam-diam?”
Rin menatap lantai.
“Karena aku takut.”
“Takut apa?”
Rin tidak menjawab.
Ren menarik napas.
“Takut aku marah?”
Rin masih diam.
“Takut aku bilang kamu tidak boleh pergi?”
Air mata Rin jatuh lagi.
Ren melihatnya.
Namun rasa sakit yang ada di dadanya terlalu besar untuk membuatnya berhenti.
“Kalau memang itu yang kamu takutkan, kamu seharusnya bicara denganku.”
“Aku tahu.”
“Lalu kenapa tidak?”
“Aku tidak bisa!”
Suara Rin akhirnya pecah.
Ren terdiam.
Rin menutup wajah dengan kedua tangan.
“Aku tidak bisa mengatakannya, Aniki!”
Bahu Rin bergetar.
“Aku sudah mencoba.”
“Setiap kali aku mau bilang, aku melihat wajah Kakak…”
Ia menarik napas yang tersendat.
“…dan aku tidak sanggup.”
Ren menatapnya.
“Apa yang kamu lihat di wajahku?”
Rin perlahan menurunkan tangannya.
“Kesepian.”
Kata itu keluar begitu pelan.
Namun Ren mendengarnya dengan jelas.
Rin mengusap pipinya.
“Aku tahu Kakak akan bilang aku harus pergi. Aku tahu Kakak akan bilang ini kesempatan besar. Kakak bahkan mungkin akan tersenyum dan menyuruhku mengejar impianku.”
Ia tertawa kecil di tengah tangis.
“Itu justru yang membuatku takut.”
Ren mengerutkan kening.
“Kenapa?”
“Karena kalau Kakak mengizinkanku…”
Rin menatapnya.
“…berarti aku benar-benar harus pergi.”
Ren membeku.
Untuk pertama kalinya, kemarahannya sedikit surut.
Namun di tempatnya muncul rasa sakit yang lebih dalam.
Ia memandang tiket pesawat di tangannya.
Tiga bulan.
Hanya tiga bulan.
“Lalu Ai-Mouto?”
Rin membeku.
Pertanyaan itu membuat udara kamar seakan berubah.
Ren menatap android yang berdiri diam di koridor di luar.
“Apa hubungannya dengan semua ini?”
Rin memejamkan mata.
Ren melanjutkan dengan suara yang semakin berat.
“Kamu membuat dia karena kamu tahu kamu akan pergi.”
“…”
“Benar?”
Rin tidak menjawab.
Ren tertawa hambar.
“Jadi selama ini…”
Ia menatap Ai-Mouto.
“Semua yang dia lakukan.”
Cara menyambutnya.
Cara membuat sarapan.
Cara mengingat kesukaannya.
Cara memijat pundaknya.