Pukul 07.00 pagi.
Rumah itu masih berdiri di tempat yang sama.
Dapur masih memiliki aroma nasi hangat dan telur yang baru matang. Cahaya matahari pagi masuk dari jendela ruang makan dan jatuh memanjang di atas meja kayu. Mesin pendingin ruangan bekerja dalam ritme rendah. Di luar, terdengar suara sepeda sesekali melintas di jalan kompleks.
Semuanya tampak normal.
Namun rumah itu tidak lagi terasa seperti rumah yang sama.
Tidak ada suara Ren mengeluh karena harus bangun terlalu pagi.
Tidak ada suara Rin menyuruhnya jangan malas.
Tidak ada suara debat kecil tentang siapa yang lebih dulu menggunakan kamar mandi.
Tidak ada suara langkah cepat Ai-Mouto dari dapur yang biasanya diikuti sapaan lembut.
Yang ada hanya keheningan.
Keheningan yang begitu padat sampai bunyi sendok menyentuh piring terdengar seperti sesuatu yang terlalu keras.
Ren duduk di satu sisi meja makan.
Rin duduk di sisi lainnya.
Ai-Mouto berdiri di dekat dapur.
Sarapan sudah tersaji.
Telur dadar, nasi, sup miso, dan beberapa potong sayuran.
Tidak ada satu pun yang disentuh.
Ren menatap piringnya.
Kemudian melirik sebentar ke arah Rin.
Rin menunduk.
Tatapan mereka tidak pernah bertemu.
Sejak malam tadi, belum ada satu pun dari mereka yang benar-benar berbicara.
Ren mengambil sumpit.
Tangannya berhenti beberapa sentimeter di atas mangkuk.
Ia tidak jadi makan.
Rin bahkan tidak menyentuh sumpitnya sama sekali.
Wajahnya terlihat lelah. Rambutnya masih sedikit berantakan, dan lingkaran tipis di bawah matanya menunjukkan bahwa ia hampir tidak tidur.
Ren tahu karena dirinya sendiri juga hampir tidak tidur.
Mereka berada di bawah satu atap.
Hanya dipisahkan oleh sebuah meja.
Namun rasanya seperti ada jarak yang jauh sekali di antara mereka.
Ai-Mouto memperhatikan keduanya.
Sensor atmosferiknya melakukan pembacaan.
Environmental Stress Level: 89%.
Ia kembali memindai.
Verbal Interaction: 0.
Direct Eye Contact: 0%.
Meal Consumption: 2%.
Sistemnya menyimpulkan satu hal.
Conflict unresolved.
Rin akhirnya berdiri.
Kursinya bergeser sedikit.
Bunyinya membuat Ren mengangkat mata.
Rin tetap tidak menatapnya.
Ia hanya mengambil mangkuk sarapan yang bahkan belum disentuh.
Bukan untuk dimakan.
Ia membawanya dua langkah menuju dapur.
Kemudian berhenti.
Ren memperhatikan.
Rin sepertinya ingin mengatakan sesuatu.
Bibirnya bergerak sedikit.
Namun tidak ada suara yang keluar.
Pada akhirnya, ia meletakkan kembali mangkuk itu.
“Aku ke lab.”
Hanya empat kata.
Ren menatapnya.
Rin langsung berbalik.
Ia berjalan menuju koridor lantai dua.
Langkahnya cepat.
Terlalu cepat.
Pintu laboratorium terbuka.
Rin masuk.
Beberapa detik kemudian—
klik.
Pintu terkunci.
Rumah kembali sunyi.
Ren menatap ke arah koridor.
Ia tidak bergerak.
Tangan kirinya masih berada di atas meja.
“…”
Perlahan ia menundukkan kepala.
Pagi seharusnya menjadi waktu paling biasa dalam sebuah rumah.
Sarapan.
Percakapan.
Persiapan sekolah.
Namun pagi itu, semuanya seperti berhenti di tempat.
Ren akhirnya mengambil sumpit.
Ia mencoba memasukkan sedikit nasi ke mulut.
Tidak terasa apa-apa.
Ia mengunyah pelan.
Kemudian berhenti.
Mangkuknya ia letakkan kembali.
“Aku tidak lapar.”
Ai-Mouto mendengarnya.
“Namun Onii-chan belum memenuhi kebutuhan nutrisi pagi.”
Ren tersenyum hambar.
“Tidak apa-apa.”
Ai-Mouto mendekat beberapa langkah.
“Apakah pernyataan tersebut akurat?”
Ren menatapnya.
“Entahlah.”
Ai-Mouto berdiri di sisi meja.
Wajahnya masih terlihat tenang seperti biasa, tetapi cara ia memperhatikan Ren terasa sedikit berbeda.
Seolah-olah ia sedang mencari cara terbaik untuk berbicara.
Ren menyandarkan punggung ke kursi.
“Dia bahkan tidak mau lihat aku.”
Ai-Mouto tidak menjawab.
Ren menatap pintu laboratorium yang ada jauh di ujung koridor.
“Semalam aku terlalu keras.”
“Volume suara Onii-chan meningkat sebanyak 23,4% dari rata-rata percakapan.”
Ren tertawa kecil.
“Terima kasih sudah mengingatkan.”
“Namun…”
Ai-Mouto berhenti.
Ren mengangkat alis.
“Namun?”
“Respons emosional Onii-chan tidak hanya disebabkan oleh volume percakapan.”
Ren tidak menjawab.
Ai-Mouto melanjutkan,
“Indikator utama menunjukkan rasa kehilangan, ketakutan, dan kebingungan.”
Ren menatap meja.
“Ya.”
Ia mengusap wajahnya.
“Aku memang takut.”
“Terhadap apa?”
Ren diam beberapa saat.
“Kalau aku jujur…”
Ia menatap kedua tangannya.
“Aku takut dia pergi dan rumah ini jadi kosong lagi.”
Ai-Mouto berdiri diam.
Ren tersenyum miring.
“Lucu, ya?”
“Bagian mana yang lucu?”
“Karena aku bahkan sempat berpikir mungkin aku…”
Ia berhenti.
“…jadi alasan dia pergi.”
Ai-Mouto memproses kalimat itu.
“Mohon diperjelas.”
Ren menghela napas.