Pukul 20.00 malam.
Lampu laboratorium Rin menyala lebih terang daripada biasanya.
Cahaya dari beberapa monitor memantul pada dinding kamar yang dipenuhi papan sirkuit, kabel, rak komponen, dan berbagai peralatan yang hanya dimengerti oleh pemiliknya. Suara kipas pendingin dari server rack terdengar konstan, seperti dengung jauh yang tidak pernah berhenti.
Rin duduk di depan meja kerja.
Di hadapannya terbuka sebuah map tebal berisi dokumen-dokumen penelitian. Tatapannya kosong mengarah ke satu halaman yang sudah dibaca berkali-kali.
Sejak pertengkaran tadi malam, belum banyak yang berubah.
Mereka masih berbicara seperlunya.
Masih makan di rumah yang sama.
Masih melewati koridor yang sama.
Namun setiap percakapan terasa seperti berjalan di atas lantai yang retak.
Rin menunduk.
Jarinya meremas ujung kertas.
Seketika terdengar ketukan pelan dari pintu.
Tok.
Tok.
Rin membeku.
Ketukan kedua terdengar.
“Rin.”
Suara Ren.
Rin menutup mata.
Untuk sesaat, naluri pertamanya adalah mengatakan agar Ren pergi.
Atau pura-pura tidak mendengar.
Atau memalingkan wajah dan kembali sibuk dengan komputer.
Semua kebiasaan lamanya muncul secara otomatis.
Namun kali ini ia tidak menggunakannya.
“Masuk.”
Pintu terbuka.
Ren masuk seorang diri.
Ia masih memakai pakaian rumah. Rambutnya sedikit berantakan, seolah sepanjang hari ia terlalu banyak berpikir untuk memedulikan penampilan.
Tatapan mereka bertemu.
Hanya sebentar.
Rin hampir langsung memalingkan muka.
Namun ia memaksa dirinya tetap melihat Ren.
Ren berjalan mendekat.
“Boleh duduk?”
Rin menggeser sedikit kursinya.
Ren duduk di sebelahnya.
Bukan di seberang meja.
Bukan berdiri sambil menuntut jawaban.
Di sebelahnya.
Posisi yang dulu terasa biasa.
Sekarang justru terasa asing.
Beberapa detik tidak ada suara.
Server rack terus berdengung.
Salah satu monitor menampilkan grafik yang berhenti pada halaman dokumentasi teknis.
Ren melihat map di tangan Rin.
“Ini berkas penelitianmu?”
Rin mengangguk.
“Sebagian.”
“Yang untuk Vienna?”
Rin menarik napas.
“Iya.”
Ren mengangguk kecil.
Tidak ada nada tuduhan.
Itu justru membuat Rin lebih sulit mempertahankan pertahanannya.
“Aku datang untuk dengar.”
Rin menatapnya.
“Dengar?”
“Semua.”
Ren meliriknya.
“Bukan dari surat. Bukan dari file. Bukan dari siapa pun.”
Ia menunjuk kursi di antara mereka.
“Dari kamu.”
Rin menunduk.
Tangannya bergetar.
“Kalau aku mulai…”
“Mulai saja.”
“Aku mungkin tidak bisa menjelaskan dengan rapi.”
“Tidak apa-apa.”
“Aku mungkin…”
Rin berhenti.
Suaranya mengecil.
“…menangis.”
Ren tersenyum tipis.
“Juga tidak apa-apa.”
Rin menatapnya lama.
Kemudian ia menarik napas panjang.
“Baik.”
Ia meletakkan map di atas meja.
“Kalau begitu aku akan cerita dari awal.”
Ren mengangguk.
Rin menatap monitor di depan mereka.
Layar itu menampilkan sebuah judul proyek.
NEURAL INTERFACE & ADAPTIVE COMPANION INTELLIGENCE
Di bawahnya terdapat nama institusi.
Vienna Institute of Technology.
“Semua ini sebenarnya dimulai lebih lama dari yang aniki kira.”
Ren tidak memotong.
“Sejak SMP.”
Rin menunjuk dokumen penelitian lama.
“Waktu itu aku pertama kali membaca tentang laboratorium Neural-AI mereka. Mereka bukan cuma mengembangkan robot yang bisa menjalankan perintah. Fokusnya pada kecerdasan adaptif.”
Ia menelan ludah.
“AI yang bisa belajar dari manusia.”
Ren mengangguk perlahan.
“Aku langsung tertarik.”
Rin tersenyum tipis.
“Bukan tertarik biasa. Aku sampai menghabiskan hampir seluruh waktu luangku membaca jurnal tentang itu.”
“Kedengarannya seperti kamu.”
“Dari dulu aku memang seperti itu.”
Nada suaranya terdengar sedikit lebih ringan.
Namun senyum itu segera hilang.
“Masalahnya, untuk masuk ke program yang benar-benar sesuai dengan risetku… aku butuh fasilitas yang tidak ada di sini.”
Ren menatapnya.
“Vienna.”
Rin mengangguk.
“Vienna.”
Ia mengambil lembar penerimaan.
“Ini kesempatan yang sangat besar, Kak.”
Jari Rin mengikuti garis tulisan di halaman tersebut.
“Beasiswa penuh empat tahun. Biaya penelitian, pendidikan, tempat tinggal, akses laboratorium…”
Ia berhenti sejenak.
“…semuanya ditanggung.”
Ren membaca sekilas.
“Empat tahun.”
“Ya.”
“Dan programnya memang sesuai dengan risetmu?”
“Bukan cuma sesuai.”
Mata Rin sedikit berbinar.
“Ini salah satu program yang sejak dulu ingin aku masuki.”
Ren memandangnya.
Ada semangat yang begitu jelas di wajah Rin.
Semangat yang selama beberapa hari terakhir hampir tidak pernah ia lihat.
Ren akhirnya mengerti satu hal.
Rin memang ingin pergi.
Bukan karena ingin meninggalkan rumah.
Bukan karena bosan dengan dirinya.
Ia ingin mengejar sesuatu.
Sesuatu yang telah dibangun dalam pikirannya sejak bertahun-tahun lalu.
Namun ketika Ren mengira pembicaraan akan berakhir di sana, Rin justru menunduk.
“Tapi…”
Suara itu jauh lebih pelan.
“…aku takut.”
Ren tidak mengatakan apa-apa.
Rin menggenggam tangannya sendiri.
“Aku tidak takut pada Vienna.”
“Lalu?”
“Rumah ini.”
Rin memandang sekeliling laboratorium.
“Aku takut meninggalkannya.”
Ren mengerutkan kening.
“Kamu takut rumahnya kosong?”
Rin mengangguk.
“Rumah ini sudah terlalu sepi sejak…”
Ia berhenti.
Tidak perlu menyelesaikan kalimat.