Ai-Mouto

Diva Amane
Chapter #64

Pengakuan Rin dan Air Mata Pertama

Pukul 21.30 malam.

Ruang tengah rumah terasa lebih tenang daripada biasanya.

Lampu utama tidak dinyalakan terlalu terang. Hanya lampu lantai di sudut ruangan dan cahaya lembut dari monitor kecil yang masih menyala di dekat rak buku. Dari luar jendela, suara kendaraan sesekali terdengar dari jalan kompleks. Angin malam bergerak perlahan melewati celah ventilasi, membawa hawa dingin yang membuat tirai tipis di ruang tengah bergoyang pelan.

Ren duduk di salah satu ujung sofa.

Rin berada beberapa jengkal darinya.

Sejak meninggalkan laboratorium, mereka hampir tidak berbicara.

Percakapan di laboratorium tadi sudah membuka sebagian besar hal yang selama ini mereka sembunyikan satu sama lain. Namun mengetahui alasan di balik semuanya ternyata tidak serta-merta membuat hati menjadi ringan.

Ada terlalu banyak perasaan yang belum diberi nama.

Terlalu banyak ketakutan yang selama bertahun-tahun hanya disimpan sendiri.

Rin duduk sambil memeluk sebuah bantal kecil di depan dadanya.

Matanya terus menatap lantai.

Ren tidak memaksanya bicara.

Ia hanya duduk di sana.

Menunggu.

Di sisi lain ruangan, Ai-Mouto berdiri di dekat rak televisi. Sistemnya berada pada mode pengamatan emosional pasif. Ia tidak ingin mengganggu percakapan yang sedang berlangsung.

Beberapa menit berlalu.

Rin akhirnya membuka suara.

“Kak.”

Ren menoleh.

“Ya?”

Rin segera menunduk lagi.

“Aku…”

Kata itu berhenti di tenggorokannya.

Ren menunggu.

Rin menarik napas.

Kemudian mencoba lagi.

“Aku sebenarnya…”

Suaranya bergetar.

Ren mulai menyadari bahwa ada sesuatu yang berbeda.

Biasanya Rin akan memalingkan muka, mengalihkan pembicaraan, atau menyelamatkan dirinya dengan alasan teknis ketika merasa terlalu malu.

Malam itu tidak.

Tidak ada pengalihan.

Tidak ada benteng gengsi.

Hanya seorang gadis enam belas tahun yang duduk di sofa dengan kedua tangan yang gemetar.

“Aku takut.”

Ren terdiam.

Rin menggigit bibir.

“Aku takut banget.”

Ren tidak langsung menjawab.

Rin memeluk bantal lebih erat.

“Bukan soal pesawat.”

Air matanya mulai berkumpul di sudut mata.

“Bukan soal Austria.”

Suaranya semakin kecil.

“Aku takut pergi.”

Ren menatap wajah adiknya.

“Takut apa?”

Rin menarik napas yang tidak stabil.

“Takut jauh dari rumah.”

Ia menunduk lebih dalam.

“Takut bangun pagi dan tidak dengar suara onii-chan.”

Ren membeku.

Rin melanjutkan sebelum keberaniannya hilang.

“Takut makan sendirian.”

“Takut pulang ke tempat yang tidak aku kenal.”

“Takut kalau ada sesuatu yang terjadi padaku dan tidak ada onii-chan.”

Satu tetes air mata jatuh ke punggung tangannya.

Rin cepat-cepat mengusapnya.

Namun semakin ia berusaha menahannya, semakin banyak air mata yang keluar.

“Aku bahkan takut…”

Ia berhenti.

Ren menunggu.

“…kalau suatu hari onii-chan baik-baik saja tanpa aku.”

Ren sedikit mengernyit.

Rin menutup wajahnya.

“Aku tahu itu egois.”

Suara yang keluar dari balik kedua telapak tangannya mulai pecah.

“Aku tahu onii-chan bisa hidup sendiri.”

“Aku tahu onii-chan tidak membutuhkan aku untuk melakukan semua hal.”

“Tapi…”

Bahu Rin mulai bergetar.

“Aku tetap takut.”

Tangis pertama itu akhirnya pecah.

Bukan tangisan kecil yang bisa disembunyikan dengan cepat.

Rin membungkuk, memeluk kedua lututnya sendiri di atas sofa, dan menangis sesenggukan.

Ren tidak langsung bergerak.

Untuk beberapa detik, ia hanya memandang adiknya.

Selama ini Rin selalu terlihat seperti orang yang paling kuat di rumah.

Ia bisa membongkar perangkat elektronik tanpa bantuan.

Bisa bekerja berjam-jam di laboratorium.

Bisa berdebat dengannya hanya karena letak gelas yang salah.

Bisa menghadapi masalah teknis yang membuat orang lain menyerah.

Namun ternyata semua itu tidak berarti ia tidak takut.

Ia hanya sangat pandai menyembunyikannya.

Ren perlahan bergeser mendekat.

Rin tidak menyadarinya.

Tangisnya semakin keras.

“Aku tidak mau…”

Ia tersedu.

“Aku tidak mau kalau nanti onii-chan sendirian…”

Ren akhirnya mengangkat tangannya.

Satu tangannya berhenti beberapa detik di udara sebelum menyentuh bahu Rin.

Rin sedikit tersentak.

Kemudian Ren menariknya pelan ke dalam pelukan.

Tidak ada kata-kata pada awalnya.

Hanya gerakan sederhana seorang kakak yang ingin mengatakan bahwa ia ada di sana.

Tubuh Rin menegang selama sepersekian detik.

Kemudian seluruh pertahanannya runtuh.

“Kak…”

Rin mencengkeram bagian depan pakaian Ren.

Tangisnya pecah lebih deras.

“Maaf…”

Ia membenamkan wajahnya di dada Ren.

“Maaf…”

Ren mengeratkan pelukannya.

“Tidak perlu minta maaf.”

“Aku bohong…”

“Aku tahu.”

Lihat selengkapnya