Pagi datang perlahan di kawasan suburban tempat keluarga itu tinggal.
Matahari belum terlalu tinggi ketika cahaya keemasan mulai menyusup melewati pagar depan rumah dan jatuh di atas teras kayu lantai dua. Udara masih cukup sejuk, membawa aroma tanah yang basah oleh embun. Dari kejauhan terdengar suara kendaraan yang sesekali melintas di jalan kompleks, bercampur dengan kicau burung yang hinggap di pepohonan sekitar.
Di atas meja kecil teras, beberapa lembar dokumen tersusun rapi.
Ada formulir konfirmasi keberangkatan.
Ada salinan paspor.
Ada berkas beasiswa dari Vienna Institute of Technology.
Dan ada satu lembar yang selama berbulan-bulan hanya menjadi bagian dari rahasia besar Rin.
Sekarang semuanya terbuka.
Rin duduk di depan meja dengan kedua tangannya diletakkan di atas lutut. Rambutnya sedikit berantakan karena baru selesai bersiap pada pagi hari, tetapi yang paling berbeda dari penampilannya adalah wajahnya.
Tidak lagi tertutup.
Tidak lagi tegang.
Hanya gugup.
Di sampingnya, Ren membawa sebuah pena hitam.
“Formulir yang ini harus ditandatangani di bagian bawah.”
Rin menatap kertas itu.
“Yang ini?”
“Bukan. Itu bagian persetujuan data.”
“Oh.”
Rin memindahkan lembaran tersebut.
Ren tersenyum kecil.
“Kamu yang membuat semua sistem robot dengan ribuan komponen, tapi urusan formulir begini malah bingung.”
Rin mendecakkan lidah.
“Dokumen administrasi tidak punya struktur logika yang masuk akal.”
“Alasan.”
“Fakta.”
Ren tertawa kecil.
Sudah beberapa hari sejak malam ketika semua rahasia itu terbongkar.
Rumah mereka memang belum sepenuhnya kembali seperti dulu.
Tetapi ada sesuatu yang berubah secara perlahan.
Tidak ada lagi keheningan yang terasa seperti hukuman.
Tidak ada lagi pintu laboratorium yang dikunci hanya karena Rin takut menghadapi tatapan kakaknya.
Mereka mulai berbicara lagi.
Sedikit demi sedikit.
Kadang masih canggung.
Kadang masih ada jeda panjang ketika topik Vienna muncul.
Namun setidaknya sekarang mereka tidak lagi melarikan diri dari percakapan.
Ren mengetuk formulir dengan ujung pena.
“Yang ini?”
Rin membaca.
“Ya.”
“Kalau begitu tanda tangan.”
Rin menerima pena itu.
Tangannya berhenti sejenak.
Ujung pena menggantung tepat di atas garis tanda tangan.
Ren memperhatikannya.
Rin menatap namanya yang sudah tercetak di bagian atas dokumen.
Rin [Nama Lengkap].
Nama yang selama ini hanya ada di rumah.
Di kartu pelajar.
Di berbagai kompetisi.
Di laporan-laporan penelitian yang dikerjakannya sampai larut malam.
Sekarang nama itu akan dibawa ke negara lain.
Rin menarik napas.
Kemudian menandatangani.
Satu goresan.
Lalu satu lagi.
Selesai.
Rin meletakkan pena.
Ren melihat tanda tangan itu.
“Sudah.”
Rin mengangguk kecil.
“Sudah.”
Untuk beberapa saat mereka hanya melihat dokumen tersebut.
Kalimat-kalimat administratif di atas kertas terasa sederhana.
Namun mereka berdua tahu, lembaran itu membawa arti yang jauh lebih besar.
Keputusan itu sekarang resmi.
Rin akan berangkat.
Ren mengangkat satu lembar lagi.
“Berarti ini juga.”
Rin memandangnya.
“Konfirmasi keberangkatan terakhir.”
Ren membacanya pelan.
Tanggal penerbangan.
Bandara keberangkatan.
Tujuan.
Dan jadwal kedatangan.
Tatapan Ren berhenti beberapa saat di bagian tanggal.
Tujuh hari.
Hanya tujuh hari lagi.
Ia menarik napas kecil.
Rin memperhatikannya.
“Onii-chan tidak apa-apa?”
Ren mengangkat wajah.
“Kenapa?”
“Karena kau terlihat…”
Rin berhenti mencari kata.
“…sedikit muram.”
Ren tersenyum.
“Tentu saja.”
Rin menunduk.
“Karena tinggal lama.”
“Ya.”
Rin menggigit bibir.
“Kalau onii-chan mau…”
“Tidak.”
Ren menjawab terlalu cepat sampai Rin mengangkat wajah.
“Tidak?”
Ren menggeleng.
“Aku tidak mau mengubah keputusanmu hanya karena aku sedih.”
Rin terdiam.
Ren mengambil dokumen itu.
“Kamu sudah bekerja terlalu keras untuk sampai di sini.”
Ia menunjuk surat penerimaan.
“Beasiswa penuh empat tahun.”
Lalu menunjuk lembar konfirmasi.
“Program riset yang kamu inginkan.”
Kemudian ia menatap Rin.
“Dan institusi yang sejak SMP cuma bisa kamu lihat dari layar komputer.”
Ren tersenyum.
“Sekarang mereka yang mengundangmu datang.”
Rin berkedip.
“Mereka menerima kamu, Rin.”
Ren mengucapkan kalimat itu dengan begitu tenang sehingga Rin justru semakin sulit menahan emosinya.
“Kamu menembus institusi dunia dengan kemampuanmu sendiri.”
Rin menunduk sedikit.
Pipinya mulai memerah.
“Jangan dibesar-besarkan.”
“Aku tidak membesar-besarkan.”
Ren menatapnya.
“Aku bangga punya adik seperti kamu.”
Rin langsung menoleh ke samping.
“Pagi-pagi jangan bicara aneh.”
“Kenapa aneh?”
“Kedengarannya memalukan.”
Ren tertawa.
“Kamu masih saja begitu.”
Rin mencoba terlihat kesal, tetapi sudut bibirnya sudah terangkat sedikit.
Dan kemudian, senyum itu muncul sepenuhnya.
Bukan senyum malu.
Bukan senyum tipis yang dipakai untuk menutupi gugup.
Senyum hangat.
Senyum yang sejak beberapa minggu terakhir seolah sulit sekali muncul.