Malam terakhir Rin di rumah datang tanpa suara.
Tidak ada hujan.
Tidak ada badai.
Tidak ada kejadian besar yang bisa membuat waktu berhenti sejenak.
Justru karena itu, malam tersebut terasa jauh lebih berat.
Pukul 23.30.
Rumah keluarga itu sudah hampir sepenuhnya sunyi.
Lampu-lampu di lantai atas dimatikan satu per satu. Dari dapur hanya tersisa cahaya lampu kecil di bawah kabinet, cukup untuk menerangi lantai dan meja. Sistem rumah pintar yang biasanya bekerja tanpa henti juga menurunkan intensitas perangkat secara otomatis ke mode malam.
Di ruang tengah, televisi sengaja tidak dinyalakan.
Tidak ada musik.
Tidak ada suara film.
Tidak ada percakapan dari siaran berita yang biasanya menjadi latar suara menjelang tidur.
Hanya suara jam dinding.
Tik.
Tik.
Tik.
Di dekat pintu utama, dua koper besar berdiri tegak.
Keduanya memiliki tag resmi dari Vienna Institute of Technology.
Nama Rin tercetak jelas di bagian depan.
Satu koper berisi pakaian, perlengkapan pribadi, dan kebutuhan sehari-hari.
Koper lainnya penuh dengan peralatan penelitian, dokumen, perangkat elektronik kecil, dan beberapa benda yang menurut Rin "mungkin berguna".
Ren sudah beberapa kali melihat kedua koper itu sepanjang hari.
Namun setiap kali melihatnya, sensasi aneh tetap muncul di dadanya.
Besok pagi, koper-koper itu akan keluar dari rumah.
Dan Rin akan mengikutinya.
Ren duduk di atas karpet ruang tengah dengan satu lutut ditekuk. Punggungnya bersandar pada sisi sofa.
Ia menatap kedua koper dari kejauhan.
"Besok benar-benar berangkat."
Suara Ren pelan.
Di seberangnya, Rin duduk dengan kedua tangan memeluk lutut.
Ia mengenakan pakaian rumah sederhana. Rambutnya dibiarkan tergerai, tidak seperti biasanya ketika sedang sibuk di laboratorium.
Sejak tadi, Rin beberapa kali memandang koper lalu mengalihkan pandangan.
Seolah-olah hanya dengan melihatnya terlalu lama, keberangkatan besok akan menjadi lebih nyata.
Ai-Mouto duduk tidak jauh dari mereka.
Di atas meja rendah, tiga cangkir teh chamomile hangat tersusun rapi.
Aroma lembut bunga chamomile memenuhi ruang tengah.
"Teh sudah siap," ujar Ai-Mouto.
Ren mengambil satu cangkir.
"Terima kasih."
Rin mengambil cangkirnya juga, tetapi hanya memegang kedua sisinya.
Uap tipis naik ke wajahnya.
Tidak ada yang langsung minum.
Beberapa saat mereka hanya duduk dalam keheningan.
Akhirnya Rin menarik napas panjang.
"Kak."
Ren menoleh.
"Ya?"
Rin menatap tangannya sendiri.
"Aku mau kasih sesuatu."
Ren mengangkat alis.
"Masih ada hadiah?"
Rin menggeleng.
"Ini bukan hadiah."
Ia bangkit dari karpet.
Langkahnya membawa Rin ke salah satu meja kecil di dekat rak buku. Dari sana ia mengambil sebuah buku catatan tebal dengan sampul biru tua.
Buku itu cukup besar.
Sudut-sudutnya diperkuat.
Di bagian depan terdapat label kecil dengan tulisan tangan Rin.
Ai-Mouto / Home Maintenance Manual
Rin kembali dan duduk di depan Ren.
Kemudian menyerahkannya dengan kedua tangan.
"Ini."
Ren menerimanya.
"Panduan?"
"Semacam itu."
Ren membuka halaman pertama.
Ada diagram sistem.
Denah jalur pengisian daya.
Penjelasan tentang perawatan Bio-Silicone.
Jadwal kalibrasi sensor.
Daftar kode peringatan.
Prosedur jika terjadi gangguan sistem.
Bahkan ada halaman berjudul:
Do Not Panic. Follow Steps In Order.
Ren tertawa kecil.
"Kamu bahkan menulis ini?"
"Karena Kakak pasti panik."
"Aku tidak akan panik."
Rin menatapnya tanpa ekspresi.
"Kakak waktu baterai Ai-Mouto lima persen saja langsung kelihatan seperti mau lari ke rumah sakit."
"Itu situasi darurat."
"Dan inilah alasan aku menulis manual."
Ren tersenyum.
Ia membalik beberapa halaman lagi.
Ada catatan kecil yang ditulis tangan di pinggir.
Jangan menggunakan kabel pengisian yang tidak sesuai.
Jangan biarkan dia berdiri di bawah sinar matahari terlalu lama.
Periksa suhu Bio-Silicone setelah kontak dengan cairan pembersih.
Jangan lupa mengisi ulang daya sebelum tidur.
Ren berhenti pada sebuah halaman.
Tulisan di sana jauh lebih kecil.
Kalau sistem emosinya berperilaku aneh, jangan langsung reset. Periksa log terlebih dahulu.
Ren mengangkat wajah.
Rin pura-pura sibuk meniup teh.
"Ini penting."
"Kenapa jangan langsung reset?"
"Karena..."
Rin terdiam.
"Karena dia bukan lagi sekadar program."
Ren menatap Ai-Mouto.
Android itu juga sedang memegang cangkir.
Wajahnya tenang.
Rin melanjutkan,
"Memori, kebiasaan, dan respons emosinya sudah berkembang terlalu jauh dari parameter awal."
Ren mengangguk.
"Aku mengerti."
Rin menunduk.
"Kakak harus menjaganya."
Ren menutup buku tersebut.
"Aku akan jaga."
Rin tidak menjawab.
Namun bahunya turun sedikit.
Seolah sebuah beban kecil baru saja diambil dari sana.
Kemudian Ren mengangkat tangan.
"Kalau begitu, sekarang giliranku."
Rin menatapnya.
"Hah?"
Ren memasukkan tangan ke dalam kantong celana rumahnya.
Ia mengeluarkan sebuah kotak kecil.
Kotak itu dibungkus sederhana.
Tidak ada pita besar.
Tidak ada desain mencolok.