Pukul enam pagi, Terminal Internasional Bandara Narita sudah dipenuhi suara manusia.
Pengumuman keberangkatan terdengar dari pengeras suara yang menggantung di langit-langit terminal. Suara roda koper beradu dengan lantai, langkah kaki penumpang yang terburu-buru, suara anak kecil yang merengek karena mengantuk, dan percakapan berbagai bahasa bercampur menjadi satu kebisingan yang anehnya terasa akrab.
Di antara keramaian itu, tiga orang berjalan berdampingan.
Rin berada di tengah.
Koper besar ditariknya dengan tangan kanan, sementara tas ransel yang berisi laptop dan beberapa dokumen penelitian tergantung di bahunya. Dua koper Wien_Tech yang kemarin berdiri kaku di depan pintu rumah kini benar-benar berada di tempat yang seharusnya.
Bandara.
Tempat semua persiapan mereka selama berbulan-bulan akhirnya berubah menjadi sesuatu yang nyata.
Ren berjalan di sebelah kanan Rin sambil membawa satu tas kecil berisi dokumen perjalanan. Sesekali ia melirik adiknya untuk memastikan tidak ada sesuatu yang tertinggal.
Di sebelah kiri, Ai-Mouto berjalan dengan langkah stabil.
Ia tidak membawa koper.
Rin bersikeras mengurus barang-barangnya sendiri.
Namun Ai-Mouto tetap memantau semua hal yang menurut protokol keselamatan perlu diperhatikan.
“Paspor Master Rin tersimpan di kompartemen depan tas.”
Rin mengangguk.
“Aku tahu.”
“Tiket penerbangan juga tersedia dalam bentuk fisik dan digital.”
“Aku tahu.”
“Adaptor listrik untuk Austria—”
“Sudah.”
“Obat pribadi—”
“Sudah.”
“Dokumen penerimaan Vienna Institute of Technology—”
Rin berhenti berjalan.
Ia menatap Ai-Mouto.
“Ai.”
“Ya, Master?”
“Aku jenius, ingat?”
Ai-Mouto mengangguk.
“Konfirmasi. Master Rin memiliki performa akademik dan kemampuan teknis di atas rata-rata.”
Ren tertawa kecil.
“Dia cuma mau bilang kamu cerewet.”
Rin mengembuskan napas.
“Bukan cuma cerewet. Dia bahkan lebih ribut daripada Kakak kalau soal persiapan.”
Ai-Mouto memiringkan kepalanya.
“Saya hanya menjalankan protokol.”
Ren menepuk bahu Ai-Mouto.
“Sudah, sudah. Biar dia sedikit bernapas.”
Rin melirik Ren.
“Justru kamu yang paling tidak boleh bicara. Waktu pertama kali kita berangkat ke sekolah untuk demonstrasi robotika, siapa yang hampir lupa membawa kartu peserta?”
“Itu sekali.”
“Dua kali.”
“Yang kedua berbeda.”
“Tidak.”
Ren tertawa.
Rin akhirnya ikut tersenyum.
Mereka melanjutkan langkah.
Namun setelah beberapa saat, senyum itu perlahan hilang.
Bukan karena sesuatu yang buruk terjadi.
Justru karena semuanya berjalan terlalu lancar.
Papan informasi digital di depan mereka menampilkan jadwal penerbangan.
Nama penerbangan.
Gerbang.
Waktu boarding.
Dan salah satu baris di sana membuat Rin secara refleks melambat.
INTERNATIONAL DEPARTURE — VIENNA
Ia menatap tulisan itu cukup lama.
Ren menyadarinya.
“Kamu gugup?”
Rin tidak langsung menjawab.
“Sedikit.”
“Hanya sedikit?”
“Banyak.”
Ren tersenyum kecil.
“Wajar.”
Rin menghela napas.
“Aku pikir setelah semua persiapan selesai, aku bakal merasa tenang.”
“Terus?”
“Tidak.”
Rin memandang ke arah terminal keberangkatan.
“Aku malah ingin pulang.”
Ren terdiam.
Kalimat itu sangat jujur.
Namun sebelum ia sempat menjawab, suara pengumuman terdengar.
“Perhatian kepada seluruh penumpang penerbangan internasional menuju Vienna, proses boarding akan segera dimulai. Penumpang diharapkan segera menuju area pemeriksaan keamanan dan gerbang keberangkatan.”
Suara itu terdengar biasa.
Bagi orang lain, mungkin tidak memiliki arti khusus.
Namun bagi tiga orang di sana, pengumuman tersebut terasa seperti sebuah hitungan mundur.
Ren melihat jam.
“Kita masih punya sedikit waktu.”
Rin mengangguk.
Mereka bertiga berhenti di dekat area sebelum pemeriksaan akhir.
Di sana, penumpang mulai berpisah.
Orang-orang membawa koper masing-masing menuju jalur pemeriksaan.
Petugas memeriksa dokumen.
Beberapa keluarga saling melambaikan tangan.
Ada yang berjabat tangan.
Ada yang berpelukan.
Ada yang hanya mengatakan, “Hati-hati,” lalu mengangguk.
Rin berdiri diam.
Tangannya menggenggam tali tas sedikit lebih kuat.
Ren menatapnya.
“Rin.”
“Hm?”
“Lihat aku.”
Rin mengangkat wajah.
Ren tersenyum.
“Jangan takut.”
Rin mencoba tersenyum kembali.
“Aku tidak takut.”
“Bohong.”
“Aku cuma…”
Rin menelan ludah.
“…belum pernah pergi sejauh ini sendirian.”
Ren mengangguk.
“Kalau begitu jangan anggap kamu sendirian.”
Rin mengerjap.
Ren menunjuk ponselnya.
“Kita bisa bicara setiap hari.”
“Aku tahu.”
“Video call.”
“Tentu.”
“Pesan tengah malam kalau kamu tidak bisa tidur.”
Rin tersenyum tipis.
“Kalau aku ganggu?”
“Kamu adikku.”
Ren mengangkat bahu.
“Tidak ada istilah mengganggu.”
Rin menunduk lagi.
Air matanya mulai berkumpul di sudut mata.
“Aku akan kangen rumah.”
Ren melihat ke arah Ai-Mouto.
“Ai sudah punya daftar protokol buat menghadapi kalau kamu kangen rumah.”
Ai-Mouto mengangguk.
“Benar.”
Ia mengangkat tangan sedikit.
“Jika Master Rin menunjukkan tanda nostalgia berat, sistem dapat memutar rekaman suara rumah, foto keluarga, atau rekaman aktivitas domestik.”
Rin menahan tawa.