[21:26] Gudang Sektor 4, Kota Malren
Di jalanan kota yang tak pernah tidur, bisikan sering kali terdengar lebih berbahaya dari teriakan. Dan akhir-akhir ini, ada satu rumor yang tak kunjung padam, seperti bayangan yang enggan enyah dari sudut mata.
Namanya berdengung di antara tumpukan peti kemas berbau karat dan amis laut, seolah menolak untuk pergi meski dicabik angin malam.
“Barangnya …?”
Seorang pria bertopi mendesis pelan. Ia menyorongkan kotak hitam di atas meja, namun matanya tak fokus pada benda itu. Pandangannya liar menyisir kegelapan di langit-langit, seolah takut bayangan di sana akan balik menatapnya.
“Apa ini? Kenapa kau gemetar? Wajahmu pucat … seperti takut melihat hantu saja.” Pria berkumis di hadapannya terkekeh pelan, menyambar cepat kotak itu selagi melayangkan sindiran.
“Ssstt! Pelankan suaramu! Atau nanti ... dia bisa mendengar kita.”
Pria bertopi itu berbisik panik. Matanya melotot, bahunya menegang, telunjuknya tegak menutup bibir, menyiratkan kewaspadaan yang tidak biasa. Namun, pria berkumis itu tampak acuh.
“Siapa? Polisi?” tanyanya.
“Kau tidak dengar soal kabar angin itu?” pria bertopi itu kini menatap tajam.
“Hah? Kabar angin apa?” alis pria berkumis itu mengerut.
“Sesuatu yang kau sebut hantu itu … bisa jadi, dia ada di sekitar kita.” Suaranya merosot menjadi bisikan ngeri, selagi matanya menyapu sela-sela kontainer kosong yang gelap.
“Sebenarnya, kau ini bicara ap—” pria berkumis itu hendak menepis rumor tidak jelas itu, namun pria bertopi langsung memotong dengan kalimat yang dingin dan tajam.
“Aimer, Sang Pengintai Malam. Begitulah mereka menyebutnya.”
“Konon, saat sepasang cahaya hijau berpijar samar dari bayangan malam, saat itulah … dia datang.”