Jauh dari hiruk-pikuk kota yang tak pernah tidur, tersembunyi sebuah permata hijau yang unik bernama Desa Mortres. Dikelilingi pepohonan rindang dan pekarangan alami, tempat ini lebih menyerupai lukisan pedesaan yang hidup daripada sekadar pemukiman.
Secara administratif, tempat ini adalah gabungan dari dua desa yang saling berdekatan, tak sampai satu kilometer jauhnya. Namun, batas itu hanyalah garis di atas kertas. Di sana, segala profesi melebur dalam harmoni—para petani bahu-membahu dengan pedagang, pekerja swasta berbaur dengan buruh—hingga menciptakan ekosistem yang mandiri.
Jantung kehidupannya berdetak di pasar tradisionalnya. Setiap pagi dan sore, tempat ini menjadi semacam jembatan penghubung. Segala kebutuhan tersedia—mulai dari sayur segar yang masih berembun, buah-buahan, hingga mainan anak dan barang elektronik—semua tumpah ruah dalam transaksi yang hangat.
Tak ada sekat sosial yang kentara, seolah kedua wilayah ini tak pernah berpisah sedari awal. Damai dan tentram, adalah magnet utama yang menggambarkan tempat itu. Dalam setahun, selalu ada satu atau dua keluarga yang datang, berniat singgah namun akhirnya menetap karena terlanjur jatuh hati.
Maka, lahirlah nama "Mortres". Sebuah akronim dari bahasa Jawa, Moro yang artinya ‘tiba-tiba’ dan Tresno berarti ‘jatuh hati’. Dan itulah yang dirasakan oleh keluarga kecil Anza Arman Chinmay saat pertama kali menjejakkan kaki di sana.
[21 Juni 2010] Desa Mortres – 14:25 WIB
Dua bulan telah berlalu sejak keluarga kecil itu menjejakkan kaki di tanah Mortres. Di bawah terik matahari yang mulai condong ke barat, Basel sedang asyik menggiring bola di lapangan rumput.
Tawa riangnya beradu dengan sorak-sorai anak-anak lain, memecah keheningan di antara deretan rumah kayu khas pedesaan. Di pinggir lapangan, pohon besar setinggi delapan meter berdiri kokoh, menaungi ayunan tua yang menjadi takhta favorit anak-anak kala senja.
Semuanya terasa normal. Angin dataran tinggi berhembus sejuk, menyapu peluh di kening. Namun, pada hari itu … harmoni itu mendadak retak.
PRANG!
Suara benda pecah terdengar, disusul gaduh percekcokan yang menyayat udara. Sumbernya bukan dari pasar, bukan dari jalanan, melainkan dari salah satu rumah.