[22 Agustus 2023] Toilet Kampus, Universitas Malren – 8:25 WIB
Matahari perlahan meninggi, memancarkan sinar yang semakin terik, menyoroti sosok pemuda yang tengah melamun di toilet, usai sebelumnya dimarahi dosennya karena ketiduran di kelas.
Basel membiarkan air mengalir membasahi wajah kusamnya. Ia menatap pantulan dirinya di cermin dengan pandangan letih. Kepalanya tertunduk. Matanya redup, menyiratkan kalimat sindiran diam-diam:
“Oi, kenapa kau tampak kacau sekali, pecundang?”
Meskipun wajahnya tampak tenang, pikirannya jelas berkecamuk. Ia terdiam, membiarkan bising air keran meredam suara di kepalanya. Bayang-bayang masa lalu yang kelam tak bisa begitu saja lepas dari pikirannya.
Sudah 13 tahun berlalu sejak kenangan suram itu. Dulu, waktu kecil, aku hidup seperti anak-anak lainnya. Bermain, bersekolah, makan, tidur seperti biasa. Tapi sejak insiden itu, tak peduli seberapa keras kucoba menikmati hidup, tetap saja terasa ada yang hilang.
Bagaimana menggambarkannya ya? Hmm ... mungkin seperti ada lubang hitam yang menempel di dadamu. Tak ada yang kau rasakan selain sesak, hampa, dan sunyi.
Awalnya, aku mengira kalau ada yang salah dengan kesehatanku. Namun lambat laun, aku mulai memahami, bahwa rasa sakit ini ada karena sesuatu. Sesuatu yang sederhana, tapi tak ternilai. Sesuatu yang kalian sebut… keluarga.
Aku sadar, setiap kali melihat teman-temanku tertawa dan berbicara dengan orang tua mereka, entah kenapa … dadaku terasa berlubang. Sejak saat itu, aku tahu, bahwa inilah yang sebenarnya kuinginkan.
Setelah napasnya kembali stabil, Basel menutup keran air dengan lesu. Napasnya menderu pelan. Ingatannya kembali terlempar ke masa itu.
[14 April 2011] Lapas X-1.0, Kabupaten Malren – 10:25 WIB
Hari itu, untuk pertama kalinya, aku memohon pada paman dan bibiku dengan sungguh-sungguh. Awalnya mereka ragu, tapi setelah aku curahkan seluruh isi hatiku sambil menangis, mereka akhirnya luluh.
Dua hari kemudian, Paman Banin menemaniku menuju sebuah lokasi di pesisir selatan, sekitar tiga jam dari Kota Malren. Setibanya di sana, bangunan besar yang terlihat seperti benteng tua—tembok putihnya tinggi, berpagar kawat berduri, dan menara pengawas dengan lampu suar—menyambut kami.
Inilah tempat isolasi bagi para sampah masyarakat dengan catatan kriminal berat. Penjara dengan tingkat keamanan tertinggi di negara ini: Lapas X-1.0.
Terdengar aneh bukan?
Namun penyebutan tersebut bukan tanpa arti. Huruf “X” mewakili 'daerah terpencil yang dirahasiakan', “angka 1” menunjukkan 'prioritas tertinggi' dan “angka 0” untuk yang 'tak bernilai'. Sedangkan “titik kecil” di antara angka, bermakna sebuah 'ketiadaan' atau … 'kematian'.
Sebuah pepatah kecil menyebar di antara orang-orang yang pernah berkunjung ke sana.
“Tak ada yang masuk membawa dosa, keluar dengan memegang nyawa.”
Namun terlepas dari itu, aku dan Paman Banin tetap melanjutkan perjalanan untuk segera menemui ayah.