[15 November 2025] Kantor Kepolisian Kota Malren – 14:35 WIB
Beberapa hari berlalu damai bagi sebagian orang, namun bagi sebagian lainnya ... terasa seperti terpaan badai yang silih berganti. Temuan barang bukti dari TKP yang baru saja dikumpulkan, kembali membuat geger kantor kepolisian.
“Baik! Jadi, apa yang kita temukan sekarang? Jala ikan? Ahaha! Aku suka selera humor orang ini!” Inspektur Ebert tertawa senang, tangan kanannya menepuk jidat, sementara yang kiri memegang berkas laporan terbaru.
“Ya ampun, orang ini benar-benar tahu caranya memaksa orang lain untuk berpikir keras,” gerutu Dokter Filozeki. Ia tampak pusing memikirkan motif sejati dari sosok yang disebut “Aimer” itu.
“Hehe, santai saja, Dok! Mungkin saja, dia mulai bosan?” goda Inspektur Ebert, mencoba menghibur.
“Hmm, bisa jadi. Tapi, kalau melihatnya secara keseluruhan, mungkinkah—”
Dokter Filozeki kembali menerka-nerka, berusaha menemukan titik terang dari teka-teki tindakan Aimer yang tidak biasa.
“Ia menyesuaikan pola pikirnya dengan keadaan sekitar, benar begitu?” celetuk seorang pria misterius yang tiba-tiba datang dan bergabung dalam pembicaraan.
Wajahnya tidak terlalu tua, namun juga tidak muda. Rambutnya agak panjang dan sedikit bergelombang, bergerak mengikuti irama langkah kakinya yang kian mendekat. Ia mengenakan jas kulit cokelat gelap sepanjang lutut, dengan kemeja putih formal tanpa dasi. Celana panjang hitamnya, diikat erat oleh sabuk kulit krem.
“Ah, Detektif Aftar! Akhirnya datang juga!” sapa Inspektur Ebert, menyambut pria misterius itu dan saling berjabat tangan.
Namanya Aftar Elim Ardya, seorang Magister Kriminologi. Ia adalah Komisaris Polisi atau Kompol yang memiliki wewenang cukup tinggi di lembaga hukum. Namun karena suatu sebab, ia menolak disebut Kompol Aftar, dan bersikeras mendeklarasikan dirinya sebagai Detektif Aftar.
Kemampuannya dalam memecahkan berbagai permasalahan sangatlah hebat. Aktif memimpin unit Special Task Force, operatif lapangan yang biasa menangani kasus pembunuhan rumit, aksi teroris, hingga sindikat narkoba internasional. Ia seorang Intelkam yang menjabat sebagai Kanit Satgas Khusus di Bareskrim Mabes Polri.
Kecerdasan tingkat tinggi, itulah yang membuat namanya cepat diakui dan naik pangkat. Ia mampu memberi arahan dan meracik strategi yang terbukti efektif dan jitu. Tanpa berkeringat. Tanpa singgah dari tempat duduknya. Semua orang adalah bidak penting dalam permainan papan caturnya.
“Ah, silakan duduk!” ucap Inspektur Ebert ramah.
“Ngomong-ngomong, bisa dijelaskan maksud Anda tentang menyesuaikan pola pikir yang tadi?” tanyanya lagi. Tangannya disatukan di atas meja, badannya agak condong ke depan, seolah antusias menyambut sesuatu.
“Ah, sebelum saya menjelaskan lebih lanjut, ada yang ingin saya tanyakan lebih dulu,” ujar Detektif Aftar dengan tatapan menyelidik.
“Oh, mau tanya apa, Pak?” Inspektur Ebert mulai tidak sabaran.
“Apa menurut Anda, semua rencana orang yang kalian sebut ….” Ucap Detektif Aftar menghentikan kalimatnya.
“*Aimer*,” sambung Inspektur Ebert.
“Ah, iya! *Aimer.* Apa menurut Bapak, rencananya itu … *efektif?”* tanya Detektif Aftar, mengajak berpikir lebih dalam.
“Tentu saja! Sejauh ini, selalu berhasil kan?” jawab Inspektur Ebert mantap, tak ada keraguan di benaknya.