AIMER - The Night Watcher

Hazsef
Chapter #12

Mata Pengawas

[28 Agustus 2025] Kantin Perpustakaan Umum, Universitas Malren – 08:35 WIB

Beberapa hari telah berlalu sejak Basel menanam benih spyware-virus R-BiT pada perangkat ponsel milik Pak Hasan. Berawal dari satu orang, kini spyware-virus tersebut telah menyebar hingga ke 9 perangkat ponsel lainnya.

Adapun 6 di antaranya, merupakan anggota dalam satuan petugas kepolisian, sedangkan 3 sisanya adalah kenalan dan keluarga Pak Hasan. Rupanya, virus ini menyebar dengan cepat, lalu mengendap dan menjangkit seperti layaknya parasit yang menempel pada sebuah inang.

Ketika perangkat yang terjangkit virus ini mengirimkan file apa pun ke perangkat lain, maka virus ini akan terlampir dan terinstalasi secara otomatis pada perangkat lain yang dituju, sehingga akan memunculkan lebih banyak “mata” bagi si “pengawas” atau si “pemantau”, dalam hal ini, tentu saja adalah Basel.

Memiliki banyak “mata pengawas”, tentu dapat menjadi opsi tambahan bagi Basel untuk memperoleh lebih banyak informasi, sekaligus melacak keberadaan para buronan yang terlihat dalam Tragedi 23 Juni, demi mengungkap kebenaran di balik kematian ayahnya.

Sebenarnya, Basel memiliki firasat akan satu “sosok” yang meresahkan tersebut, yakni seorang pria misterius yang dulunya meloncat keluar dari jendela rumahnya pada waktu Insiden Pisau Merah terjadi, tepat sewaktu ia masih kecil.

Namun, karena keterbatasan informasi yang tersedia, hingga membuatnya tak punya pilihan lain selain mengejar satu per satu dari daftar nama para buronan yang dicari, dengan hanya berbekal ingatan dari wajah “sosok” yang dicurigainya.

Sementara menunggu hari di mana ia akan menemukan “sosok” yang misterius itu tiba, Basel berpikir untuk terus mencoba mengorek informasi secara diam-diam, sembari menikmati hari-harinya seperti biasa, agar tidak mendatangkan risiko kecurigaan apa pun yang mengarah padanya.

Terbukti, dengan Basel yang kini sedang duduk santai menikmati secangkir kopi susu hangat, sambil mengoperasikan laptop hitam kesayangannya di halaman depan kantin perpustakaan umum Universitas Malren.

Di sana, terdapat deretan meja dan kursi berwarna kecokelatan, yang berdempetan dengan tembok paduan warna putih dan jingga cerah. Pada tiap sisinya, tersedia satu-dua colokan listrik, diperuntukkan bagi siapa saja yang ingin mengisi daya perangkat elektronik pribadinya.

Kebetulan, saat itu dosen pengampu mata kuliah yang sedang mengajar di kelasnya, mendadak ada urusan ke luar kota, sehingga Basel pun dapat menikmati waktu luangnya dengan tenang, karena jam perkuliahan berakhir lebih awal dari biasanya.

Seteguk demi seteguk kopi susu hangat telah Basel seduh, hingga tak terasa semuanya habis tak bersisa. Basel yang kurang puas, bermaksud memesan secangkir lagi guna mengurangi rasa bosannya. Namun saat ia hendak bangkit, tiba-tiba laptopnya menangkap sinyal gelombang frekuensi yang tak beraturan.

Ketika dicek, tampaknya sinyal tersebut berasal dari salah satu perangkat ponsel yang terjangkit spyware-virus R-BiT miliknya. Dan benar saja, ternyata itu adalah sinyal gelombang frekuensi audio yang dipancarkan oleh HT atau Handie Talkie yang biasa dibawa oleh petugas kepolisian setempat.

Bermodalkan rasa penasaran, Basel kemudian mencari tahu arti gelombang tersebut. Ia memindainya menggunakan sejenis aplikasi khusus buatannya, mirip seperti yang terinstal di ponselnya. Melalui aplikasi inilah, Basel dapat mengetahui kapan dan di mana, serta dari siapakah sinyal tersebut berasal.

Tak sampai satu menit, sinyal tersebut akhirnya berhasil terkonversi dalam bentuk visual. Gelombang naik turun berwarna kehijauan, tergambar di layar laptopnya. Ketika ditelusuri, barulah Basel menyadari bahwa sinyal tersebut ternyata berasal dari gelombang ponsel milik rekannya Pak Hasan.

Tak lama berselang, mulai terdengar suara bising-bising kecil seperti seseorang yang hendak ingin mengetes, apakah jaringan komunikasinya sudah saling terhubung dengan lawan bicaranya atau belum.

Sadar bahwa informasi yang akan ia dapat mungkin bersifat rahasia, Basel yang tanggap langsung mengganti alamat IP pada kode jaringan laptopnya, kemudian mengambil dan menghubungkan wireless earbuds hitam favoritnya dengan laptopnya. Tak lupa, ia meninggikan volume audionya, sehingga suara-suara bising tersebut dapat terdengar makin jelas.

“!@$%^Rr ... l-l4bpv0ur ... t3sK! T2zs! 1, 2, 3 ... tes ... Ha5lo ... Halo!” 

Suara-suara seperti setelan radio yang rusak terdengar, sebelum gelombang frekuensinya menjadi lebih stabil, hingga intonasinya mulai terdengar lebih jelas.

“Ah iya, halo!” respons si receiver alias penerima gelombang dengan cukup tanggap. Tak lama, si transmitter alias si pengirim gelombang pun mengambil inisiatif untuk kembali memulai percakapan.

Lihat selengkapnya