[21 September 2025] Area Pabrik Gula, Kota Malren – 14:32 WIB
Matahari melambung tinggi di ufuk timur. Dari sudut keramaian kota, nyanyian merdu mobil kepolisian berkicau di mana-mana. Berita tentang ditemukannya seorang buronan, kembali membuat gempar seisi kota.
Pelaku itu membawa sejumlah uang dan barang-barang berharga milik salah seorang warga. Pengejaran pun dilakukan dengan heboh seperti biasa.
Sementara itu, Basel tampak sedang sibuk melakukan sesuatu di kamarnya. Terdapat beberapa benda yang berbentuk mirip bola-bola kecil berdiameter 5 cm.
Selain itu, ada juga koran dan buku-buku, serta beberapa serbuk yang berwarna putih, hitam dan keabu-abuan, tepat di meja kayu lipat yang biasa ia gunakan untuk belajar.
Basel lalu mencampurkan beberapa takar dari 3 macam serbuk tersebut, ke dalam bola yang terbuat dari gumpalan-gumpalan kertas koran bekas. Barulah setelahnya, ia pergi keluar rumah dengan skateboard kesayangannya.
Gerak-gerik pemuda itu cukup santai, tak memberikan kesan apa pun yang mengancam selain seorang bocah yang hendak ingin pergi bermain. Sementara di sisi lain, polisi masih berusaha mengejar pelaku berinisial NL alias ‘Najih Lasmanto’, yang berlari kencang seolah dikejar hantu.
Basel yang terus memantau pergerakan si pelaku lewat saluran komunikasi salah seorang petugas—yang ponselnya telah terjangkit "spyware-virus R-BiT" buatannya—perlahan mulai memahami pola pergerakan si pelaku, lalu menemukan rute pelarian terbaik yang berpotensi akan diambil oleh target buruannya.
Ya, dan benar saja. Tak lama berselang, suara gonggongan anjing-anjing pelacak mulai terdengar, di samping teriakan “Jangan lari!” dari beberapa petugas.
Basel menganalisis area perumahan yang sudah tak lagi asing baginya itu, lalu mengambil rute tercepat yang bisa dilalui, guna memotong jalur buronan itu secepat mungkin.
Sekitar 5 menit berselang, terlihat NL baru saja keluar dari persimpangan gang sempit sendirian. Entah bagaimana, ia berhasil mengecoh para petugas polisi, usai memanjat dan melompati pagar yang tinggi sehingga anjing-anjing pelacak pun tak mampu menjangkaunya.
Mengetahui keadaan ini, maka mau tak mau para petugas kepolisian pun terpaksa mengambil jalan memutar, yang tentunya memiliki jarak tempuh yang lebih jauh dari yang seharusnya.
Sukses mengecoh para petugas kepolisian, si NL pun mulai besar kepala. Seringai licik sempat menghiasi wajahnya yang penuh keringat, sebelum ia lanjut melarikan diri.
Pada suatu ketika, di penghujung gang sempit, terdapat jalanan beraspal yang sepi. Tak lama, mobil taksi biru melintas. Sontak, NL pun segera menghentikan laju kendaraan itu, lalu menodongkan pistol. Sopir bernama "Suparno"—pria paruh baya berjenggot rapi tanpa kumis—yang malang itu, seketika mengangkat tangan.
Dalam sekejap, NL masuk ke dalam mobil dan mengunci seluruh pintu dan jendela. Sementara si pengemudi taksi itu membisu di tempatnya. Keringatnya yang sebesar biji jagung itu, kini mengucur deras.
Dalam situasi genting itu, tiba-tiba Basel datang menaiki skateboard dengan santai. Ia bergerak mendekat, lalu melemparkan sesuatu—yang baru saja diambil dari saku bajunya—ke jendela kanan belakang mobil, yang ternyata masih baru tertutup sekitar ¾ bagian saja.