[15 November 2025] Teras Dekat Lab. Biologi – 14:52 WIB
Basel berjalan riang. Sesekali ia bersiul untuk mengekspresikan suasana hatinya yang senang. Tak lama, telinganya menangkap samar suara teriakan wanita yang tampak kesusahan. Makin lama makin jelas, hingga Basel pun terdorong untuk mendekat.
“Tolong ... tolong!!”
Sosok wanita bertubuh besar berteriak panik. Ia memangku temannya—tubuhnya juga tak kalah besar—yang tengah pingsan. Namun anehnya, belum ada satu pun yang menghampiri selain Basel.
“Loh, kenapa, Mbak?”
Basel heran melihat kedua wanita gemuk itu. Sekilas, keduanya tampak mirip, bahkan identik. Paling yang membedakan hanya gaya rambut dan kacamata saja.
Yang masih sadar memakai kacamata dengan rambut dikepang dua, sedangkan yang pingsan hanya berkepang satu dan tanpa kacamata. Mungkin takkan ada yang curiga jika keduanya adalah saudara kembar, karena semirip itulah mereka.
“Mas, Mas! Tolongin, Mas! Ini, temen saya ... tiba-tiba ... badannya kayak lemes gitu. Terus, sekarang ... jatuh pingsan,” wanita gemuk berkacamata itu menjelaskan dengan napas agak tersendat, hampir seperti orang stroke saat coba berbicara.
Sontak, Basel pun ingin sekali tertawa, namun ia tahan sebisa mungkin demi kesopanan. Pasalnya, kepanikan wanita gemuk itu membuat napasnya tersendat, sehingga kalimat apa pun yang keluar dari mulutnya jadi terdengar aneh dan menggelikan.
Basel pun menarik napas panjang. Ia mencoba bersikap tenang, lalu melanjutkan. “Oke, oke. Mbaknya tenang dulu ya. Tarik napas yang dalam dari mulut ....”
Basel coba memberi saran, membimbing wanita gemuk itu supaya lebih rileks. Namun di tengah kalimat, jiwa usilnya tiba-tiba merayap.
“Sekarang keluarkan jadi fulus,” celetuknya, melontarkan lelucon sarkastik khasnya yang tidak terduga.
“Okeh. Eh? Mas!!”
Sontak, wanita gemuk itu tampak kesal, wajahnya cemberut, matanya tajam menatap Basel, usai menyadari dirinya sedang dipermainkan. Namun, roda waktu terus berputar. Percakapannya dengan Basel masih terus berlanjut.
“Hehe, maaf, bercanda! Jadi, Mbak ….” Ucap Basel tulus, meski masih berusaha menahan tawa, lalu menanyakan identitas lawan bicaranya.
“Fatimah,” jawabnya sigap.
“Oke, Mbak Fa—” ucap Basel ramah, namun tiba-tiba Fatimah memotong kalimatnya, lalu lanjut menyebutkan nama lengkapnya yang keterlaluan panjangnya, bahkan terlalu panjang untuk seorang mamalia.
“Fatimah Aryadiaji Ngatiyadin Kusno Kusmiati Sulisundaningrum Pajaja Pajajang. Panggil aja—”