AIMER - The Night Watcher

Hazsef
Chapter #31

Kesepakatan

Berawal dari pembahasan insiden pingsannya Ratih, pembicaraan pun berlanjut ke akar permasalahan tentang bunga ungu misterius yang dijelaskan antusias oleh Bibi Lara.

Verbena, tumbuhan semak yang sepintas mirip lavendel ini, nyatanya memiliki sistem perakaran yang kuat dalam menyerap air dan zat hara, sehingga mampu mendominasi tumbuhan lain di dekatnya. Inilah yang menyebabkan daerah di sekitarnya mengalami kekeringan dengan cepat.”

Bibi Lara sibuk mengobservasi, menjelaskan karakteristik dan dampak bunga ungu nan cantik bernama Verbena tersebut. Sementara di sisi lain, percakapan antara Basel dan Pak Anva yang asyik masih terus berlanjut.

“A-apa? Apa maksud kamu dengan ‘saya juga’?” tanya Pak Anva kebingungan.

“Yah, abis gimana lagi? Dulu dia ngakunya itu guru biologi, dan juga ... apoteker,” ujar Basel, mengonfirmasi profesi ganda bibinya.

“T-tunggu dulu! Jadi selain ngajar, bibi kamu juga kerja di apotek?” tanya Pak Anva memastikan.

“Oh, tidak! Dia yang punya, Pak.” Jawab Basel sekenanya.

“Ooh … Eh? Apa?!” sontak mata Pak Anva membulat, terkejut atas pernyataan tersebut.

“Saya yang biasanya jaga, hehe,” sambung Basel menambahkan.

“Aah … saya paham sekarang!”

Pak Anva mengangguk paham, senyumnya mencurigakan. Namun tak sampai beberapa detik, tiba-tiba Bibi Lara langsung menyambar bergantian kepala Basel dan Pak Anva dengan jitakan maut.

“Kalo ada orang lagi ngomong, dengerin!” tegur Bibi Lara, wajahnya cemberut, telunjuknya diacungkan ke arah dosen dan mahasiswa itu.

“M-maaf!” jawab keduanya serentak dengan kepala tertunduk.

“Bas, galak amat tuh orang?” bisik Pak Anva.

“Maklum, Pak. Dari dulu, orangnya emang suka ngambek kalo dicuekin,” Basel meluruskan karakter bibinya yang galak, meskipun alasan beliau marah memang masuk akal.

“Oh, gitu ya. Eh, ngomong-ngomong, Bas ....” Pak Anva kembali menyambung percakapan kecil mereka, membahas sesuatu yang lebih ‘pribadi’.

“Hmm?” alis Basel naik.

“Kapan-kapan kalo saya beli sesuatu di apotek kamu … ntar kasih diskon yak?” pinta Pak Anva, akhirnya menerangkan motif terselubungnya. 

Basel pun menghela napas. Sejenak, ia memutar otak, lalu ganti memberi penawaran lain yang tak kalah liciknya.

“Boleh aja Pak, asal nilai saya jangan dikasih diskon ya?” balas Basel santai, selagi melirik Pak Anva sambil tersenyum.

Mendengar hal ini, Pak Anva pun bingung. Ia kembali menimbang-nimbang penawaran Basel. Sementara di sisi lain, Bibi Lara masih antusias memikirkan dampak bunga Verbena yang sebelumnya dikonsumsi Ratih.

“Memang dampaknya terhadap lingkungan sekitar itu cukup membahayakan. Tapi saya baru dengar ada orang yang coba mengonsumsinya,” gumamnya, tampak serius mencari solusi.

Sementara di belakangnya, pasar gelap yang diam-diam terbentuk, kini sedang sengit melakukan tawar-menawar terselubung.

Lihat selengkapnya