[15 November 2025] Ruang Kelas, Gedung J4 Lt. 2 – 15:47 WIB
Cahaya keemasan sang surya mulai mewarnai langit sore. Di dalam ruang kelas, suasana justru masih riuh rendah oleh perdebatan mahasiswa. Tak lama, pintu kelas tiba-tiba terbuka, diiringi kemunculan sosok pria yang familier.
“Selamat sore semuanya!” sapa Pak Anva santai, berjalan masuk ke ruang kelas dan mengejutkan seisi ruangan.
“Sore, Pak!!”
Seisi kelas menjawab semangat, dan sedikit kaget. Bukan karena dosen mereka terlambat, melainkan karena sosok lelaki yang mengikuti di belakangnya. Siapa lagi kalau bukan Basel.
“Bas? Kok kamu—”
Ayana heran, matanya menyipit. Ia tak habis pikir, bagaimana bisa seseorang yang absen sepanjang jam kuliah, bisa muncul begitu santai bersama dosen.
Anehnya, tak ada tanda-tanda amarah atau bahkan kesal di wajah Pak Anva. Padahal, Basel yang sering ketiduran di kelas saja biasanya kena omel. Tapi tidak untuk hari ini.
“Ssssttt … diam!” sela Basel setengah berbisik, sambil menutup mulut dengan telunjuknya.
Sontak, Ayana pun gemas. Bukan karena Basel menjawab seadanya, tapi karena ia bersikap sok misterius, layaknya seorang agen penting yang menyimpan banyak rahasia.
Ayana hendak meluapkan emosinya, mendesak Basel sampai mengatakan rahasianya. Namun, Pak Anva langsung menginterupsi.
“Aya, gimana hasil votingnya?” tanya Pak Anva, nadanya datar, seolah hanya ingin sekadar basa-basi tanpa menghiraukan hasil akhir.