AIMER - The Night Watcher

Hazsef
Chapter #35

Persiapan

[17 November 2025] Penginapan Desa Ranu Pina – 16:54 WIB

Setelah menempuh perjalanan panjang, rombongan karyawisata Universitas Malren akhirnya tiba di sebuah permukiman yang berada di Desa Ranu Pina. Desa kecil itu terletak di dalam kawasan TNBM, sekaligus menjadi titik terakhir yang populer sebagai gerbang awal pendakian menuju puncak Gunung Meru.

Satu per satu mobil jip berhenti. Para mahasiswa segera turun dan berkumpul di halaman penginapan, sibuk dengan barang bawaan masing-masing. Di antara keramaian itu, tanpa sadar, tersisa satu sosok yang berjalan lebih pelan, seolah ingin menikmati pemandangan alam di sekitarnya.

Tak lama, suara seseorang memanggil dari kejauhan.

“Eh, Bas?! Sini cepetan!”

Basel menoleh. Pak Anva berdiri tak jauh darinya, melambaikan tangan dengan wajah tegang, sangat kontras dengan Basel yang terlihat santai, nyaris tanpa beban. Entah karena ketenangannya yang berlebihan, atau karena memang lupa akan sesuatu.

“Iya, Pak?” jawab Basel heran, namun tetap melangkah santai.

“Kamu ke mana aja? Dari tadi saya cariin, kok nggak ada?” tanya Pak Anva resah.

“Maaf, Pak. Tadi saya lagi sibuk,” jawab Basel ringan.

“Hah? Sibuk ngapain?”

“Sibuk ngubah nasi jadi karbohidrat. Hehe ...,” jawab Basel terkekeh.

Pak Anva terdiam sesaat, lalu menghela napas panjang. Tangannya refleks mengacak rambut Basel hingga berantakan.

“Jangan bercanda terus kamu!” tegurnya, setengah kesal.

“M-maaf,” balas Basel singkat. Namun senyumnya tak menunjukkan rasa bersalah sedikit pun.

“Apa kamu sudah lupa apa yang bakal terjadi kalau kita sampai gagal?” tanya Pak Anva mengingatkan.

“Ya nggak lah, Pak,” jawab Basel singkat. Tentu ia tak mungkin lupa. Ia paham betul sifat bibinya—sekali berkata “tidak”, maka takkan ada lagi ruang tawar-menawar—seolah itu hal yang mutlak.

“Ingat, Bas. Demi kebebasan,” bisik Pak Anva, mengepalkan tangan setinggi dada.

“Demi kebebasan,” angguk Basel, selagi membalas kepalan Pak Anva.

Itu bukan sekadar salam kosong, melainkan sudah menjadi simbol ikatan persahabatan sejati antara dua laki-laki yang takdirnya terikat oleh sebuah janji atas bunga asing yang misterius.

Tak jauh dari sana, Della mengamati mereka dengan dahi berkerut.

“Eh, ini cuman perasaanku aja, atau dua orang itu jadi kayak bapak sama anak mau pergi mancing yak?” bisiknya pada Diana.

“Biarin aja, Del. Yang penting semua senang,” jawab Diana santai.

Lihat selengkapnya