[17 November 2025] Tepian Danau Pina – 16:54 WIB
Para partisipan kegiatan karyawisata Universitas Malren menikmati waktu luang mereka dengan caranya masing-masing. Ada yang mencari makan, berbincang santai di warung kopi, hingga sekadar berjalan santai menyusuri area desa yang tenang.
Di antara itu semua, Basel memilih duduk sendirian di sebuah jembatan kayu, dekat tepian Danau Pina.
“Jarang sekali lihat kamu diam dalam kesadaran penuh,” celetuk Pak Anva tiba-tiba, kemunculannya sontak membuyarkan lamunan Basel.
“Biasanya, kamu selalu tidur nyenyak di kelas,” sindirnya.
“Ah, Bapak rupanya,” Basel menoleh santai, memperhatikan Pak Anva yang mengambil tempat duduk kosong di sampingnya.
“Kalau dipikir-pikir, ini pertama kalinya kita ngobrol santai di luar kelas, ya, Bas?” lanjut Pak Anva, menatap hamparan danau yang memantulkan cahaya sore dengan tenang.
“Ah, masa?” Basel tersenyum tipis. “Bukannya kita sering debat di ruang dosen yakk?”
Pak Anva mendengus pelan. “Maksudnya di luar urusan pelajaran,” ralatnya.
“Oh, hehe ....” Basel pun terkekeh. “Kapan lagi ada kesempatan buat jahilin dosen,” batinnya.
Pak Anva menghela napas panjang, lalu menatap lurus ke depan. “Haah ... jujur, saya tak pernah membayangkan bakal ada orang asing yang muncul dan tiba-tiba mengacaukan karir saya,” ujarnya.
“Kamu mah mending, Bas. Cuma gak dapet uang jajan sebulan. Lah saya?” keluhnya lirih.
“Ya … mari lihat sisi baiknya. Bapak kan cuma diberhentikan jadi Kaprodi, bukan pengajar. Jadi masih bisa terima gaji. Lah saya?” balas Basel, tak mau kalah.
“Kerja aja belum. Kalo semisal nggak dapet tunjangan sebulan, terus saya ngumpulin tugasnya pake apa coba? Pake daun? Nilai gak dapet, kena sanksi yang iya,” terangnya.
“Ah, kayaknya ... kita emang sama-sama gawat ya, Bas.” Pak Anva memaklumi, karena situasi keduanya memang mirip.